alexametrics

Pertahankan Desa Adat, Ngadas Bikin Wisatawan ke Bromo Makin Krasan

18 Maret 2017, 22:20:01 WIB

Jawapos.com – Ini menariknya wisata ke Gunung Bromo  melalui Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Sepanjang perjalanan dari Gubugklakah, Ngadas,  hingga lautan pasir Bromo, pesona alamnya benar-benar bikin decak kagum wisatawan. Alami, menembus hutan pinus, pemandangan Gunung Semeru di sisi kanan, ngarai di kanan kiri.

 Desa yang masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) ini punya daya Tarik tersendiri, ketika wisatawan berada di desa yang memiliki ketinggian 2.150 mdpl ini. Udara yang sejuk. Bila sore hari tiba, awan menggantung di tebing-tebing curam di seputar desa. Tak heran bila sejumlah wisatawan menjuluki Ngadas sebagai desa di atas awan.

 Bagaimana tidak di atas awan, bila sekitar desa diapit lembah yang dalam. Saat lembah itu diselimuti awan putih yang lembut, maka Desa Ngadas, seolah berada di atas awan. ‘’Banyak pengunjung yang akan menuju Bromo, akhirnya menginap di sini,’’ kata Kepala Desa Ngadas, Mujianto kepada JawaPos.com, Sabtu (18/6).

Pertahankan Desa Adat, Ngadas Bikin Wisatawan ke Bromo Makin Krasan
Lahan Pertanian Masyarakat Desa Ngadas (djatmiko/JPG)

 Untuk tempat menginap, tidak perlu khawatir. Karena desa yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa ini sudah memiliki 50 homestay, yang siap menerima wisatawan menginap setiap saat. Meski berada di kawasan timur laut Kabupaten Malang, fasilitas homestay di Desa Ngadas tak kalah modernnya dengan fasilitas homestay di perkotaan.

 Bagaimana dengan suhu dingin yang nyaris mendekati 0°C di desa ini? ‘’Jangan khawatir, homestay di sana sudah dilengkapi juga dengan alat pemanas untuk mandi,’’ kata Mujianto.

 Untuk mempertahankan statusnya sebagai desa adat dan desa wisata, tidaklah mengherankan bila desa yang berjarak 6,5 km dari Gunung Bromo ini, warga desanya sepakat tidak mengijinkan pendirian hotel ataupun motel. ‘’Karena itu warga berusaha memberikan fasilitas dan layanan sebaik mungkin bagi para wisatawan yang menginap di sini,’’ jelas Mujianto.

 Sementara itu terkait kemungkinan berdirinya hotel di masa yang akan datang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara, mengatakan kemungkinan itu kecil sekali. ‘’Kan sudah ditetapkan sebagai desa adat, lagi pula tidak harus pariwisata itu identik dengan hotel. Buktinya dengan homestay saja, banyak wisatawan asing dan lokal menginap di sini,’’ katanya kepada JawaPos.com, Sabtu (18/3).

 Menurut Made, Pemkab Malang mendukung pengembangan homestay sebagai alternatif penginapan untuk mempertahankan Desa Ngadas sebagai desa adat. Oleh karena dengan homestay ini, keaslian desa lebih memiliki daya Tarik tersendiri bagi wisatawan.

 Untuk mendukung Bromo sebagai salah satu tujuan  wisata 10 Bali baru sebagaimana dicanangkan Kemenpar, kawasan Desa Ngadas dan juga Desa Gubugklakah, terus berbenah. ‘’Pembenahan ini terutama pada homestay. Kami terus mendorong agar warga mengembangkan rumah mereka sebagai homestay. Pemda juga memberikan insentif khusus untuk itu,’’ katanya.

 Untuk diketahui, mayoritas penduduk Desa Ngadas bersuku Tengger, suku yang juga tersebar di desa-desa sekitar  Gunung Bromo yang ada di Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Mayoritas suku Tengger beragama Hindu. Pemerintah Kabupaten Malang, pada tahun 2007 menetapkan Desa Ngadas sebaga Desa Wisata. Kemudian pada 2017 menetapkan sebagai Desa Adat. Desa Ngadas juga dikelilingi sejumlah wisata alam yang menarik wisatawan. Diantaranya Coban Trisula, Ranu pani, Coban Pelangi. Selain wisata alam, ada pula wisata adat yang dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu.  Misalnya upacara Pujan, Kasada, Karo, Unan-unan, Barikan, Mayu, dan Galungan.(mik/JPG)

Editor : Soejatmiko

Pertahankan Desa Adat, Ngadas Bikin Wisatawan ke Bromo Makin Krasan