JawaPos Radar

Melihat Usaha Kuliner Rendang di Negeri Asal

Rendang Khas Ranah Minang Jadi Bekal Jemaah Haji di Tanah Suci

04/08/2016, 01:14 WIB | Editor: Ilham Safutra
Rendang Khas Ranah Minang Jadi Bekal Jemaah Haji di Tanah Suci
Proses packing rendang “Randang Hj Fatimah” di Kabupaten Solok untuk dikirim ke konsumen (Riki Chandra/Padang Ekspres/JawaPos.com)
Share this image

Sejak rendang dinyatakan makanan terlezat di dunia versi CNN, pelaku bisnis rendang di Sumatera Barat (Sumbar) semakin menekuni usahanya semakin mendalam. Mereka berusaha menjaga cita rasa agar keaslian rendang tetap menggugah selera. 

Riki Chandra, Solok

Salah satu dari sekian banyak pebisnis kuliner rendang itu adalah Silvi Lestari, 39. Warga Korongpiliang, Jorong Simpang, Nagari Kotobaru, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok itu kini melabeli bisnisnya itu dengan “Randang Hj Fatimah”. Dari bisnis ini Silvi mampu menembus omzet Rp 15 juta sebulan.

Ibu tiga anak ini tak menyangka, kebiasaannya menyajikan rendang untuk keluarga menumbuhkan jiwa entrepreneur. Ketika itu dia hanya berpikir untuk menjadikan rendang sebagai usaha tambahan menggenjot pendapatan keluarga.

“Awalnya iseng. Tahu-tahunya menjadi mata pencaharian yang sangat membantu kebutuhan hidup,” terang Silvi saat ditemui pada Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Rabu (3/8).

Silvi sendiri memulai bisnisnya tahun 2011 lalu. Pada produksi awal, Silvi merogoh kocek sebesar Rp 3 juta. Uang tersebut dipergunakan untuk membeli perlengkapan memasak dan bahan pembuatan rendang. Seperti daging dan rempah-rempah.

Setahun berjalan, rendang Silvi mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Permintaan membeludak, apalagi saat Lebaran.

Seiring berjalannya waktu, pelanggan Silvi semakin banyak. Mulai dari pesanan untuk kebutuhan pesta, oleh-oleh bagi tamu instansi pemerintah sampai dijadikan bekal bagi jamaah haji dan umrah.

Untuk menjaga mutu, kualitas dan cita rasa rendang, Silvi lebih mengutamakan resep dari rempah-rempah tanpa memakai pengawet dan penyedap rasa. Sedangkan untuk bahan baku utama daging, daging sapi padat (tanpa lemak) tetap menjadi pilihan.

“Ini yang membuat pelanggan kita bertahan dan bertambah, karena kita menggunakan bumbu asli dan daging yang berkualitas,” jelas Silvi yang juga Ketua  Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Solok ini.

Selain memiliki rasa yang khas, rendang yang merupakan resep asli dari ibunya (alm) Hj Fatimah ini, juga memiliki daya tahan yang sangat baik dan dapat disimpan dalam waktu lama. Bahkan aroma dan rasa rendang tidak akan berubah bila disimpan di freezer.

Sementara untuk menjaga agar makanan ini tetap awet dan rasanya tidak cepat berubah, packing yang semula hanya kantong plastik sederhana, kini sudah diganti dengan menggunakan vakum modern sealer plastik (kemasan tanpa udara). Atau kemasan khusus makanan yang telah sesuai dengan standar nasional untuk pembungkus makanan.

“Dengan memakai packing kemasan primer standar ini rasa rendang tetap terjaga,” tuturnya.

Untuk memenuhi kepuasan dan permintaan konsumen, Silvi juga membuat inovasi baru seperti rendang hati dan rendang ubi serta rendang daging dicampur kacang merah. “Inovasi ini untuk memenuhi permintaan konsumen,” bebernya.

Sementara untuk pemasaran, sekarang dia telah membuka outlet di depan kantor PDAM Kabupaten Solok atau di samping Masjid Agung Nurul Mukhlisin Islamic Center Kotobaru.

“Saat ini rata-rata omzet mencapai Rp 15 juta per bulan, bahkan kalau ada pesanan untuk pesta bisa lebih,” ungkap Silvi.

Sedangkan untuk harga, dijual Rp 250 ribu per kilogram. Namun berbeda dengan harga rendang untuk jamaah haji, karena kemasannya pun berbeda. Selain dengan packing vacum modern sealer plastik, ditambah juga dengan box khusus.

“Kalau untuk jamaah haji, dalam satu boks isinya tetap 1 kilogram, namun bungkus kemasannya kecil, hanya untuk sekali makan. Satu boks harganya Rp 300 ribu,” kata Silvi.

Melihat potensi itu, Silvi semakin serius menekuni bisnis rendang ini. Untuk mempromosikannya, Silvi memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter dan sebagainya. Pemasaran lewat media sosial ini dianggapnya lebih mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. (**/iil/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up