alexametrics
Menyusuri Denyut Nadi Kali Porong (6)

20 Jenis Ikan ’’Minggat’’ dalam 13 Tahun

Laporan Jose Rizal dan Allex Qomarulla
2 Oktober 2017, 19:56:25 WIB

Keluhan para nelayan Kali Porong mengenai hasil tangkapan yang terus turun atau bertambah langkanya beberapa jenis ikan membuat kami penasaran. Dari kadar oksigen dan serangga-serangga, kami tahu jawabannya.

AKTIVITAS warga di sekitar Kali Porong begitu hidup Kamis pagi (14/9). Kedai-kedai buka. Makanan disiapkan. Di salah satu sudut Desa Mlirip Rowo, orang-orang silih berganti mendatangi pedagang ikan dan tawar-menawar harga. Kami pun menyempatkan diri melihat ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di Kali Porong yang dijajakan.

Sukasih, salah seorang pedagang, tampak bersemangat menawarkan ikan di lapaknya. Ada mujair (Tilapia nilotica), keting (Mystus micracanthus), kutuk (Channa striata), dan rengkik (Hemibagrus nemurus). Andalan Sukasih adalah ikan rengkik. Banyak orang yang gemar menyantapnya. Hampir setiap hari ludes terjual.

Ikan di Hilir Sungai Brantas
Ikan di Hilir Sungai Brantas (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Di lapaknya, ada rengkik yang tergeletak di atas nampan bambu. Dia menjualnya Rp 30 ribu per kilogram. ’’Kalau yang hidup Rp 40 ribu,’’ tutur perempuan 54 tahun itu.

Sukasih mengajak kami ke bagian belakang lapaknya. Lokasinya tepat di sekitar Bendungan Pajaran. Begitu tiba di sisi kali, Sukasih berjongkok, meraih tali tampar, lalu mengangkatnya. Tampaklah satu renteng ikan rengkik yang masih mangap-mangap alias hidup.

Dari lapak Sukasih, kami melanjutkan perjalanan ke tepi Kali Porong. Pagi ini perjalanan kami ditemani Andreas Agus Kristanto Nugroho, aktivis lingkungan asal Sidoarjo. Gelar sarjana dan magister biologi diperolehnya dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair). Kebetulan, dia akan meneliti kondisi sungai. Kami yakin bisa menemukan jawaban atas keluhan para nelayan soal hasil tangkapan ikan yang semakin berkurang.

Sudah lama Andreas malang melintang di dunia lingkungan hidup. Dia bergabung dengan sebuah lembaga yang concern pada bidang pengawasan lingkungan hidup berbasis di Gresik. ’’Saya bisa bermain dan berenang di sungai dengan asyik waktu kecil. Saya pengin anak cucu saya nanti menikmati hal yang sama,’’ tuturnya.

Sembari mempersiapkan alat dan berkemas, kami membicarakan tentang ikan-ikan langka yang semakin sulit didapatkan nelayan. Misalnya, ikan uceng (Nemacheilus fasciatus). Andreas merespons dengan antusias. Maklum, salah satu penelitiannya memang membahas kehidupan ikan di hilir Sungai Brantas.

Berdasar penelitian tersebut, jenis ikan di hilir Sungai Brantas memang berkurang drastis. Bahkan, per 2011 hanya teridentifikasi 30 jenis ikan. Padahal, pada survei 1998, masih ditemukan 50 jenis ikan. Artinya, berkurang 20 jenis ikan (lihat grafis). Yang dimaksud hilir adalah aliran di sepanjang Bendungan Lengkong Baru dan aliran sungai yang mengarah ke Kalimas, Surabaya, maupun ke sepanjang Kali Porong yang melewati tiga kabupaten. Yaitu, Mojokerto, Sidoarjo, dan Pasuruan.

Menurut dia, kelangkaan ikan-ikan itu terjadi karena kualitas air yang terus terdegradasi. Akibatnya, pasokan makanan alamiah untuk ikan merosot. Bahkan, mereka kehilangan rumah yang menjadi habitatnya. Kualitas air yang menurun itu dipicu oleh zat pencemar yang dimuntahkan pipa-pipa dan saluran pembuangan di tepi sungai.

Faktor lainnya adalah kadar oksigen di sungai yang buruk. ’’Semakin rendah kadar oksigen di suatu sungai, semakin buruk kualitas airnya,’’ jelasnya.

Sejurus kemudian, Andreas mengeluarkan sejumlah alat dari kantong yang dibawanya. Bentuknya beragam. Ada yang berupa batangan. Ada pula yang berupa rangkaian kabel dengan ujung tembaga. Keseluruhan alat itu disertai layar digital yang mampu menunjukkan angka-angka tertentu. Melalui alat-alat tersebut, dia meneliti kualitas air di Kali Porong.

Salah satunya, dissolved oxygen atau biasa disebut DO meter. Semakin tinggi nilai yang ditunjukkan dalam DO meter, semakin bagus kualitas air tersebut. Nilai yang tinggi menunjukkan kadar oksigen tinggi pada air. Nilai yang rendah mengindikasikan sebaliknya.

Kami melakukan pengecekan di beberapa titik. Yang pertama di sekitar Bendungan Lengkong Baru. ’’Titik pertama 7,4,’’ kata Andreas sembari mencatat dan mengangkat DO meter dari air. Itu tandanya kualitas air masih cukup bagus meski sedikit tercemar. Tak heran, masih banyak nelayan yang mencari ikan di area tersebut.

Editor : admin

Reporter : (*/pri)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
20 Jenis Ikan ’’Minggat’’ dalam 13 Tahun