alexametrics

Film Dilan 1991 Membuat Dada Terasa Sesak

26 Februari 2019, 12:05:59 WIB

JawaPos.com – Seperti novelnya, Dia adalah Dilanku Tahun 1991, film Dilan 1991 mampu membuat perasaan campur aduk antara senang, kesal, geram, dan juga sedih. Jika di film Dilan 1990 romansa Dilan dan Milea mampu melelehkan hati remaja hingga membangkitkan nostalgia pasangan tua saat kasmaran dengan kesempurnaan cintanya, film Dilan 1991 akan menunjukkan sisi pasang surut hubungan pasangan.

Karakter Dilan di sekuel ini memang lebih tampak nakal, suka tawuran, dan membuat resah keluarga juga Milea. Dilan yang tak berubah dari seri kedua hanyalah karakter sopan kepada orang tua, tidak melawan meski nasihat ibunya tidak dipenuhi, dan penyabar pada Milea meski akhirnya tak tahan lagi.

Seperti novelnya, film Dilan 1991 ini memang lebih membuat perasaan sesak di dalam dada. Perubahan karakter Milea dan Dilan pada buku kedua bisa dibilang terbalik dari Dilan 1990. Milea jadi meledak-ledak dan egois, sementara Dilan menjadi supernakal hingga cintanya pada Milea tak bisa mengalahkan konflik yang kerap terjadi diantara keduanya.

Official Trailer Dilan 1991 | 28 Februari 2019 di Bioskop (YouTube/MAX Pictures)

Seperti kata Iqbaal Ramadhan, Dilan 1991 lebih manusiawi sebagai laki-laki. Bukan tokoh sempurna idaman kaum hawa. Dia bisa cemburu saat beberapa tokoh baru hadir di antara hubungannya dengan Milea.

“Dilan di sini lebih manusiawi, di (Dilan) 1991 terlihat bahwa dia punya emosi yang relatable yang dirasakan manusia biasa. Jadi, rasanya lebih bisa diambil, lihat dia cuek, cemburu, tak acuh, nyebelin, ngelawan. Jadi, tahu kalau Dilan bete gimana,” ungkap Iqbaal saat gala premiere Dilan 1991 di Bandung, Minggu (24/1).

Sebenarnya, ayah Pidi selaku penulis memang sengaja mengubah cerita dengan tetap mengambil inti bahwa Dilan dan Milea saling mencintai. Walau akhirnya tak seindah mimpi keduanya saat mereka hujan-hujanan di motor. Menjadi nyesek rasanya jika mengingat masa pendekatan keduanya dan awal pacaran yang akhirnya berkonflik yang berujung akhir yang tak diinginkan.

Namun, kalau perbedaannya dengan Dilan edisi pertama terlalu timpang, rasanya bukan seperti membaca sekuel, tetapi terasa seperti membaca judul baru. Masih ada romansa Dilan dan Milea lewat gombalan-gombalan andalan Dilan seperti “Kalau aku jadi presiden dan harus mencintai seluruh rakyatnya. Maaf aku pasti nggak bisa, karena aku cuma mencintai Milea'”.

Namun, sewajarnya adaptasi novel ke film, ada beberapa adegan konflik yang tak ditampilkan di film, juga chit-chat gombal Dilan ke Milea tak semua ditampilkan. Misal saja, saat Dilan menyebut Milea Mamalia, juga quotes senakal-nakalnya geng motor tetap solat pada ujian praktik agama.

Meski demikian, film Dilan 1991 memberikan pelajaran bahwa komunikasi dan rasa saling percaya adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan. Meminjam quotes Ayah Pidi Baiq, ‘Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah’.

Semua kembali ke selera penonton, apakah ending cerita Dia Adalah Dilanku versi Milea adalah happy ending atau sad ending. Juga jangan ketinggalan untuk membaca pun menonton bagian akhir dari trilogi Dilan di Milea, Suara dari Dilan.

Film Dilan 1991 tayang di bioskop mulai 28 Februari 2019.

Editor : Novianti Setuningsih

Reporter : Yuliani

Film Dilan 1991 Membuat Dada Terasa Sesak