alexametrics
Review Film

Shang-Chi and The Legend of Ten Rings: Film Kungfu Apik a la MCU

24 September 2021, 13:27:17 WIB

JawaPos.com – Usai sukses besar dengan Black Panther beberapa tahun silam di mana inklusivitas orang-orang berkulit hitam menjadi salah satu nilai jualan utama, Marvel Studios dan Disney kembali mengangkat konsep serupa dalam Shang-Chi and The Legend of Ten Rings. Sesuai dengan nama lakon utamanya, rilisan terbaru Marvel-Disney ini merepresentasikan orang-orang Asia, khususnya Tiongkok dengan berbagai macam kebudayaannya yang berhasil dieksekusi dengan baik.

Disutradarai oleh Destin Daniel Cretton, Shang-Chi and The Legend of Ten Rings yang dibintangi oleh Simu Liu, Awkwafina, Meng’er Zhang, dan dua bintang film gaek Tony Leung dan Michelle Yeoh, berhasil menyuguhkan aksi petualangan dan baku hantam yang menghibur.

Tidak seperti kebanyakan film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) lain di mana para jagoannya mengandalkan teknologi dan kekuatan super, Shang-Chi and The Legend of Ten Rings justru banyak mempertontonkan koreografi bela diri yang apik. Predikat Shang-Chi sebagai orang biasa tanpa kekuatan supranatural apapun berhasil dimaksimalkan lewat pertunjukan laga yang seru.

Kisah Shang-Chi and The Legend of Ten Rings dimulai di suatu hari yang sangat biasa di San Francisco.

Shaun (Simu Liu) adalah seorang pemuda yang sehari-harinya bekerja sebagai petugas parkir valet bersama sahabatnya, Katy (Awkwafina) di sebuah hotel. Selain kerap kali secara diam-diam menjajal mobil mahal milik pelanggan hotel, mereka juga sering melewati malam dengan berkaraoke bersama.

Kehidupan Shaun yang begitu normal namun menyenangkan itu tiba-tiba harus dirusak dengan kedatangan sekelompok orang misterius yang mengincar kalung giok peninggalan mendiang ibunya, Ying Li (Fala Chen).

Shaun, yang selama ini menyembunyikan identitasnya sebagai seorang jagoan kungfu bernama Shang-Chi, terpaksa harus ‘membuka topengnya’ untuk bertarung dengan orang-orang tersebut.

Nasib akhirnya membawa Shang-Chi ke Macau untuk bertemu kembali dengan adiknya, Xia Ling (Meng’er Zhang) yang ternyata juga diincar oleh kelompok yang sama. Usut punya usut, orang-orang tersebut ternyata merupakan serdadu Ten Rings suruhan ayah Shang-Chi dan Xia Ling, Wen Wu alias Mandarin (Tony Leung).

Mandarin, antagonis utama film ini, adalah seorang ahli bela diri yang sudah berumur satu milenium berkat kekuatan dari Ten Rings yang terpasang di kedua lengannya. Kenyataan pahit dan takdir yang tak terelakkan pun akhirnya membuat Shang-Chi dan Xia Ling harus bekerjasama menghentikan ambisi gila Mandarin yang bisa berujung pada kehancuran dunia.

Selain aksi bela diri dan tampilan visual yang memanjakan mata, plot dari Shang-Chi and The Legend of Ten Rings bisa dibilang menjadi salah satu nilai plus. Konflik batin yang dialami Shang-Chi akibat pergumulannya di masa lalu yang harus kembali ia hadapi di masa sekarang disajikan dengan begitu dinamis dan tidak bertele-tele.

Akting Simu Liu sebagai Shang-Chi pun wajib diacungi jempol. Dengan beban sebagai lakon utama dan jagoan jagat MCU yang merepresentasikan Asia, Liu membuktikan bahwa dirinya sudah pantas ditahabiskan sebagai salah satu ikon fase keempat MCU.

Sosok lain perlu mendapat apresiasi adalah Awkwafina. Celetukan-celetukannya yang segar dan pembawaannya yang kocak membuat film ini begitu bernyawa dan bisa dinikmati hingga akhir. Penunjukkan Tony Leung sebagai Mandarin juga bisa dibilang pilihan yang tepat.

Secara keseluruhan, Shang-Chi and The Legend of Ten Rings adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Walau ada beberapa momen hambar dan penyelesaian konflik yang bisa ditebak serta terkesan malas dan generik, film kungfu a la MCU ini pantas untuk disebut sebagai salah satu rilisan Marvel-Disney yang layak disaksikan.

Editor : Banu Adikara

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads