Elegi Tempat ”Kelahiran” Underground Jogja

22 Mei 2022, 15:49:16 WIB

Sayidan, Lapen, dan Kebiasaan Cangkruk sambil Bicara Musik

Sayidan adalah kata kunci. Saat disandingkan dengan Mrican dan Pajeksan, definisi Sayidan adalah lapen (minuman berperisa buah dengan kandungan alkohol hingga 80 persen). Jika diimbuhkan kata Alamanda, Sayidan berarti band-bandan. Lapen dan band-band underground membentuk Sayidan.

PANJANG gang itu tidak sampai 1 kilometer. Sempit. Hanya cukup untuk dua orang dewasa berjalan beriringan. Terletak di tepi Kali Code, gang bernama Sayidan itu disesaki rumah penduduk.

”Dulu, kalau lagi kumpul, sepanjang gang penuh orang. Sampai naik hingga keluar gang pinggir jalan,” kenang Heruwa, vokalis Shaggydog, saat dijumpai Jawa Pos di gang legendaris tersebut pada Selasa (17/5).

Tidak ada studio band di area yang hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Tugu Jogjakarta itu pada era 90-an hingga awal 2000-an. Namun, ada begitu banyak anak muda yang setiap hari bicara musik di sana. Belakangan, sebagian di antara mereka menjadi musisi tenar tanah air.

Salah satunya, Shaggydog. Band yang identik dengan lagu Di Sayidan dari album Hot Dogz (2003) itu kini terdiri atas enam personel. Mereka adalah Heruwa, Richad Bernado, Odyssey Sanco alias Bandizt, Raymondus Anton, Satria Hendrawan, dan Lilik Sugiyarto.

”Kami itu awalnya ya suka musik dan minum lapen, tidak pernah mikir jadi musisi,” kata Bandizt. Kendati demikian, obrolan tentang musik tidak hanya berhenti di tempat nongkrong. Begitu ada materi yang matang dan bisa digarap menjadi lagu, berangkatlah mereka ke studio musik untuk berkreasi.

Proses kreatif itu berulang setiap hari. Cangkruk, membahas musik, ngomongin kaset, dan menggodok materi. Sebagaimana yang tertuang dalam lirik Di Sayidan, selama berproses itu, kerumunan anak muda penyuka musik di Sayidan tidak pernah jauh dari lapen. Juga genjrengan gitar.

Yang menjadi pusat tongkrongan adalah teras rumah Richad. Ketika itu ayahnya adalah ketua RT. Richad yang sepupuan dengan Bandizt memang akrab dengan musik. Pakde Santo –ayah Richad– dan keluarganya memang gemar bermusik. Toleransi tinggi Pakde Santo pada musik dan proses kreatifnya itulah yang membuat aktivitas cangkruk bisa terlaksana setiap hari.

Kian lama, kerumunan di Sayidan makin riuh. Menjelang akhir era 90-an itu Sayidan menjadi melting pot. Sebagian besar yang ngomah di Sayidan adalah anak-anak muda yang gemar mendengarkan dan memainkan musik secara underground. Ada anak-anak punk, metal, hardcore, hingga ska.

Sayidan benar-benar menjadi jujukan bagi anak-anak muda yang suka band-bandan. Richad dan Bandizt yang asli Sayidan kemudian memiliki banyak teman lintas genre. Pergaulan itu membuat Richad dan Bandizt yang masing-masing sudah punya band lantas bergabung dengan Heruwa dan teman lainnya untuk membentuk Shaggydog.

Selain Shaggydog, ada beberapa band lain yang juga lahir dan berkembang di Sayidan. Membicarakan musik sambil main gitar dengan judul cangkrukan terus berlanjut. ”Sore kumpul di Sayidan. Mau masuk tengah malam, kami jalan kaki ke arah Malioboro. Terus, cangkruk di sana, minum lagi,” cerita Heruwa.

Kebiasaan itu justru melahirkan banyak inspirasi. Khususnya bagi Shaggydog. Berkumpul dengan para pencinta musik lintas genre membuat Shaggydog tidak hanya memainkan ska. Mereka juga mempelajari roots aliran lain. Bertukar referensi musik dengan teman-teman lainnya lantas menjadi kebiasaan lain yang lahir di Sayidan.

”Dengan cangkruk mudah bikin lirik. Kan lirik-lirik Shaggydog itu aktual semua. Bercerita. Ya, dari cangkruk itu,” tegasnya. Gaya bercerita itulah yang membuat lirik Shaggydog mudah diingat karena dekat dengan keseharian masyarakat.

…di Sayidan, di jalanan, angkat sekali lagi gelasmu, kawan! (rid/c14/hep)

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: