alexametrics

Log Zhelebour Come Back karena Ingin Bangkitkan Musik Rock Indonesia

22 Februari 2021, 06:48:45 WIB

Sebagai produser musik, Log Zhelebour sudah lima tahun menghilang dari dunia musik. Dia bahkan sempat memutuskan ”pensiun” dan menikmati masa tuanya bersama keluarga.

NAMUN, pada 26 Januari lalu namanya kembali muncul setelah merilis single baru band hip metal lawas bernama Kobe di kanal YouTube Logiss Record. Bahkan, kanal YouTube baru dibuat enam hari sebelum perilisan single tersebut. Jawa Pos pun mewawancarainya pada Rabu (17/2) soal turun gunungnya Log ke dunia musik.

Jawa Pos (JP): Lebih dari 5 tahun vakum di dunia musik, kenapa Log memutuskan untuk come back ke industri musik?

Log Zhelebour (LZ): Iya, sudah lama vakum. Tapi, sebelum memutuskan kembali, saya pelajari dulu gimana bisnis digital ini. Kira-kira masih punya kans tidak untuk balik modal. Selama lima tahun saya memantau perkembangan YouTube. Kalau dulu kan pakai aggregator luar kita tidak bisa memantau, sekarang kerja sama dengan lokal. saya juga mulai paham bisnis digital walaupun kans kecil karena persaingannya ketat. Satu tahun terakhir ini kan ada ratusan ribu YouTuber muncul.

Terus, mereka semua eksis dengan dunianya masing-masing, channel-nya masing-masing, sehingga hampir semua lagu yang dirilis selama tujuh bulan terakhir tidak ada yang booming. Semua lagu yang dirilis di YouTube tidak ada yang booming karena membanjirnya YouTuber. Lihat saja channel YouTube label-label sekarang. Dulu rilisan fisiknya ratusan juta, tapi sekarang viewers-nya sedikit. Itu hampir dialami semua produser.

Di samping itu, saya melihat banyak orang yang rindu karena saya lama tidak aktif. Mereka juga sudah jenuh dengan musik dangdut ataupun musik-musik yang ada saat ini. Istilahe, kupinge wes bosen. Lalu meminta saya come back untuk membangkitkan musik rock supaya musisi rock yang selama era digital tidak ada yang booming bisa muncul kembali. Satu-satunya yang diharapkan memimpin kebangkitan musik rock digital kan saya. Jadi, yang lain-lain tinggal ikut, selama saya tidak bergerak, nanti rock-nya tidak come back. Sementara itu, orang-orang sudah bosan dengan musik yang ada.

JP: Lalu kenapa Kobe yang jadi penanda awal kembalinya Log ke industri musik?

LZ: Mereka yang datang cari saya. Ngetek mau ketemu terus. Mereka ingin saya mendengarkan karyanya, minta pendapat. Lah, kenapa saya mau? Ya karena telanjur. Saya sudah ngasih pendapat, mereka juga mau nurut. Di samping itu, saya ingin memberikan pelajaran bahwa mengelola band itu tidak gampang.

JP: Dulu Log terkenal habis-habisan untuk promosi ketika menelurkan band baru. Lalu pada era digital seperti sekarang, apakah treatment yang sama diberlakukan ke Kobe?

LZ: Tidak, treatment-nya berbeda. Era digital ini lebih mudah, lebih mudah promosi karena tidak perlu banyak biaya. Tidak perlu ada gudang untuk stok album, tidak perlu ada istilahnya bayar pajak duluan, cetak cover, dan cetak kaset. Kalau dulu kita mau rilis sesuatu, pengeluaran untuk pembelian barang sudah puluhan juta, itu belum promosi, belum tentu laku lagi. Sekarang ini kan tidak ada cetak-cetak seperti itu. Tinggal upload, kamu mau nonton dan dengarkan atau tidak, gitu saja.

Jadi, kami hanya mengeluarkan biaya master, rekaman, paling ya desain-desain gitu, dan Google App. Itu juga tidak tinggi seperti promo-promo di televisi dulu kan. Dulu bisa ratusan juta hingga miliaran. Hanya pendapatannya lebih sedikit dan lama sekarang ini. Tiap bulan mungkin hanya dapat Rp 500 ribu–Rp 1 juta, tapi ada terus. Album fisik juga, paling jualannya nanti di online. Mungkin hanya seribu copy nanti untuk memenuhi permintaan penggemar agar bisa dikoleksi.

JP: Sudah balik modal?

LZ: Belum, digital tidak bisa dalam waktu singkat. Kami kan baru tahap memperkenalkan lagunya kepada masyarakat, tahapan keduanya mau beli RBT tidak, langganan di Spotify dan platform digital lainnya. Terserah penggemar, kalau mereka senang support saya, ya dengarkan terus.

JP: Apakah di tim Log saat ini diisi anak-anak muda? Sebab, industri musik digital adalah industri baru bagi orang-orang di era Log Zhelebour?

LZ: Untuk pelaksana, kami tetap mengambil anak-anak muda. Tapi, secara promosi tetap saya. Mereka kan tidak punya kemampuan promosi seperti yang saya lakukan. Mereka kan nalurinya bukan rock. Rock itu mau dipasarin ke mana tidak tahu kan mereka, dianggapnya semua musik sama. Mereka tidak punya taste promosiin lagu rock itu seperti ini lho, misalnya. Kalau tak serahkan mereka, Kobe tidak naik seperti sekarang. Contohnya waktu Kobe rilis, itu bareng sama penyanyi dangdut terkenal yang mengeluarkan single di YouTube. Tapi, Kobe lebih unggul karena kemampuan saya berpromosi.

JP: Apakah dengan adanya anak-anak muda yang membantu bakal ada regenerasi di Logiss Music milik Log?

LZ: Belum ada. Tapi, kembali ke masyarakat sendiri, ini kan hanya dari hobi saya. Percuma dikader militan, tapi jiwanya tidak ke sana. Kalau orang lapangan seperti saya, nyalinya harus besar. Saya wes tuwek rek, memang harus ada generasi baru. Tapi, generasi baru sekarang saya lihat nyalinya kecil, kantongnya juga kecil. Itu juga yang membuat Surabaya tidak rock seperti dulu. Tidak ada peminatnya karena belum ada yang menggerakkan.

JP: Kobe dan Jamrud bisa dikatakan band rock lawas. Apakah Log berencana merilis lagi band-band rock lama yang dulu pernah di bawah naungan Log Zhelebour? Boomerang, misalnya?

LZ: Bergantung mereka, nanti mungkin kami nampilin band baru. Tapi, single dulu. Untuk band-band dari Surabaya juga, saya mau, tapi dengan syarat. Mereka harus paham kompromi dengan kebutuhan penonton, tidak bisa mereka sok idealis dengan kemauan sendiri sehingga hanya ditonton dengan teman-temannya.

Baca Juga: Terdakwa Penerima Salah Transfer Bank Mengira Rp 51 Juta Uang Fee

JP: Lalu apakah Log juga berencana menggelar festival hingga membuat konser musik rock dengan menghadirkan band-band internasional lagi?

LZ: Sementara saya tidak mau membicarakan yang tidak jelas. Pandemi ini selesai dulu, vaksin, rakyatnya sudah bisa berkerumun untuk berkegiatan tanpa ada protokol kesehatan. Itu dulu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : rid/c12/dra




Close Ads