alexametrics

Temu Musisi, Karya Seni Harus Orisinal

15 April 2017, 16:57:21 WIB

JawaPos.com – Musisi Fariz R.M. dan seniman Hamid Nabhan tampak cocok. Ketika berbincang tentang seni, selalu ada hal yang dapat dikaitkan. Padahal, aliran seni yang mereka geluti berbeda. Fariz, musisi kenamaan tanah air, versus Hamid, penyair dan pelukis.

”Saya mengenal Hamid sebagai salah seorang seniman yang orisinal. Ya, karya seni itu harus orisinal. Tak ada yang menyamai,” ucap Fariz ketika ditemui pada launching Antologi Pohon Sunyi dan pameran ilustrasi Hamid beberapa hari lalu.

Begitu pula Hamid. Dia sudah lama mengidolakan sosok pencipta tembang Barcelona tersebut. Lebih dari 10 album Fariz R.M. berjajar di rak koleksi Hamid. Ketika pertemuan di The Biliton, beberapa ditunjukkan kepada sang idola untuk ditandatangani. ”Kapan-kapan saya ingin membukukan karya Mas Fariz,” tuturnya.

Dalam bukunya, Hamid membahas kegelisahan hatinya tentang alam. Gambaran tentang rusaknya alam digoreskan pada kumpulan lukisan, puisi, dan haiku (puisi pendek khas Jepang, disajikan dalam formasi 5-7-5 suku kata di dalam tiga larik).

Selain itu, terdapat 47 lukisan pohon sunyi yang terbuat dari beragam media. Di antaranya, drawing pen, akrilik, cat air, dan cat minyak. Penggambaran pohon-pohon tinggi tak berdaun, berbuah, dan berbunga terbentuk dari hasil imajinasinya. Pohon yang tak dapat menaungi.

Menurut Fariz yang kala itu hadir sebagai salah seorang undangan dan pengisi acara, melukis merupakan salah satu media untuk mengungkapkan isi hati. Sama halnya dengan menulis lagu. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu juga menjadikan lukisan sebagai media ekspresi. ”Saya juga suka membuat sketsa. Jika suatu hal tidak bisa saya ungkapkan melalui lagu, akan saya utarakan dengan gambar. Begitu pun sebaliknya,” terangnya.

Karakter yang dimiliki seorang seniman harus kuat. Fenomena industri musik saat ini dinilai Fariz kurang mengeksplorasi karakter seniman. ”Banyak produser yang melihat potensi. Kemudian, menyuruh seniman untuk mengubah karakter dengan alasan tuntutan pasar,” paparnya. Hal tersebut disayangkan Fariz. Seharusnya, lanjut dia, dengan talenta yang sudah dimiliki, seorang seniman dapat ke mana saja untuk membentuk karakter sendiri.

Pada usia yang ke-58 tahun, Fariz memiliki kesibukan sebagai pengajar di beberapa sekolah musik. Dia juga menjalani aktivitas sebagai dosen tamu tentang musik dan studi penyiaran. ”Ada tiga hal yang menimpa diri saya sekarang. Yakni, menulis lagu untuk saya sendiri, menulis lagu untuk orang lain, dan orang lain yang menulis lagu untuk saya,” tuturnya. Fariz sedang giat menggandeng para pemusik muda untuk berkolaborasi dalam sebuah proyek. (esa/c6/jan/sep/JPG)

Editor : Suryo Eko Prasetyo

Temu Musisi, Karya Seni Harus Orisinal