alexametrics

Penyanyi Kamga Mo Tak Bisa Lepas dari Teknologi dalam Bermusik

14 Desember 2019, 17:16:25 WIB

JawaPos.com – Penyanyi Mohammed Kamga atau Kamga Mo saat ini lebih sibuk dengan grup duonya bersama Chevrina Anayang. Mereka membentuk grup yang dinamakan Hondo. Setiap kali bermusik dan berkarya, Kamga merasa tak bisa lepas dari teknologi.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi narasumber dalam acara bincang musik dan teknogi bersama Folkative: Future of Tomorrow di Jakarta, Jumat (13/12) malam WIB. Kamga juga akan manggung pada 25 Desember 2019 nanti.

“Teknologi menyelamatkan karir saya. Dulu saya berpikir jadi penyanyi tuh cukup. Apalagi singer song writer, wah zaman dulu tuh keren banget. Sekarang semua penyanyi nulis lagu, sudah bukan luar biasa lagi,” katanya kepada wartawan.

Eks personel grup Tangga itu menjelaskan untuk membuat sebuah lagu membutuhkan biaya yang mahal jika ingin merekrut banyak sumber daya manusia. Sehingga untuk bisa lebih berkreasi secara efektif dan efisien caranya dengan pendekatan teknologi.

“Jadi bagaimana caranya permusikan ini bisa saya kerjakan sendiri. Dan itu nggak bisa saya kerjakan kalau nggak dekat dengan teknologi,” katanya.

Kamga menyebutkan musik Hondo dalam semua prosesnya pasti menggunakan teknologi. Dia menyebut semua proses itu sebagai co-produce yang dibangunnya dengan kecanggihan teknologi.

“Parahnya Hondo ya, Hondo bikin lagu lewat komputer. Bikin audio pakai komputer. Bikin bunyi pakai komputer. Semua diproses lewat komputer. Mixing mastering lewat komputer. Manggungnya pakai laptop, mixernya pakai komputer. Berusaha menyelamatkan karir saya belajar co-produce lagu dengan teknologi,” jelasnya.

Menurut Kamga saat ini masyarakat sudah sulit membedakan antara musik digital dengan musik yang dimainkan asli oleh pemusiknya karena adanya sentuhan teknologi. Kekurangan dalam bermusik sudah bisa ditutupi dengan sentuhan teknologi.

“Bagaimana caranya dengan digital saya terinspirasi. Dan itu yang akhirnya membedakan musik Hondo lebih bagus dari yang pakai gitar. Di musik saya enggak ada gitar dan piano tapi ternyata tanpa itu aliran Hondo pun bisa ballad.
Dibikin pakai komputer atau enggak, yang penting musiknya enak didengar dan pesannya sampai lewat lagu,” ungkap Kamga.

Musik EDM dan Pop

Kamga mencontohkan salah satu musik yang kental dengan unsur teknologi adalah Electronic Dance Musik (EDM) yang saat ini sedang populer. Padahal musik EDM, kata dia, sudah lama didengar. Namun kini perkembangannya justru semakin beragam dan sulit dibedakan dengan musik lainnya karena perkembangan teknologi.

“Seperti misalnya perkembangan EDM sudah ada dari lama didengar dulu sama orang-orang yang suka ke kelab. Sekarang sudah enggak bisa dibedakan. Bahkan dangdut koplo sama reggae tone sama persis. Contohnya musik Taylor Swift yang semula country malah sekarang dekat dengan EDM. Teknologi berbaur,” jelasnya.

Bicara sampai kapan sebuah genre musik bisa bertahan, menurut Kamga hal itu baru bisa dibicarakam 10-20 tahun mendatang. Sama halnya seperti lagu pop dan lagu-lagu era 1990-an yang disebut memiliki nuansa abadi atau Everlasting. Itu karena ada kerinduan oleh generasi 1990-an untuk mendengarkan musik itu lagi.

“Bicara tren musik baru bisa diketahui nanti 10-20 tahun ke depan. Setelah musik itu hilang, tapi yang mainin musik itu enggak akan hilang, akan tetap ada. Kenapa 1990-an everlasting? Itu karena kita dengar sambil nostalgia. Sama seperti musik saat ini kita enggak akan tahu sekarang, nanti 20 tahun lagi. Mungkin saja nanti 20 tahun lagi ada anak muda yang kangen dengar lagu Taylor Swift. Kita enggak akan pernah tahu,” tegasnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani


Close Ads