alexametrics

Menyimak Kisah Pewayangan Modern di Satria Dewa: Gatotkaca

12 Juni 2022, 19:48:53 WIB

Astina ada di situasi mencekam. Setelah menghadapi wabah misterius, mereka diliputi kecemasan karena pembunuhan berantai. Korbannya pun merupakan sosok yang berprestasi. ’’Kiamat kecil” itu menandai satu hal pasti: Kurawa kembali.

DALAM hitungan hari, Yuda (Rizky Nazar) kehilangan orang-orang terdekatnya. Sahabat baiknya, Erlangga (Jerome Kurnia), meninggal di acara wisuda kampusnya. Tak lama setelahnya, ibu Yuda yang bernama Arimbi (Sigi Wimala) tewas dibunuh. Dua tragedi itu sama-sama dilakukan bala kurawa. Dia dan Agni (Yasmin Napper) berusaha mengusut penyebab kematian itu.

Keduanya bertemu Dananjaya (Omar Daniel) dan adiknya, Gege (Ali Fikry), yang merupakan orang kepercayaan Erlangga. Kakak beradik itu berusaha melacak dan menghentikan rencana keji kurawa. Mereka bermarkas di toko antik milik Ibu Mripat (Yatti Surachman) yang memiliki kemampuan menyembuhkan.

Penelusuran tersebut membawa empat sekawan tadi bertemu Pandega (Cecep Arif Rahman), ayah Yuda yang meninggalkan keluarganya. Perasaan Yuda pun campur aduk. Sebab, Pande –panggilan Pandega– menjadi anak buah kurawa. Dia bekerja sama dengan Beceng (Yayan Ruhian), yang punya ambisi menjadi salah satu kurawa terkuat.

Di situasi sulit itu, Arya Laksana (Edward Akbar) datang dan berusaha menolong. Arya adalah ayah Agni yang juga seorang ahli sejarah dan petinggi kampus. Tapi, keberadaannya tidak banyak membantu. Yuda, Agni, dan Danan justru terjebak di ’’kandang” kurawa. Di sisi lain, desakan bertubi-tubi tersebut menyadarkan Yuda: dia memiliki potensi luar biasa berupa gen Gatotkaca.

Sejak diumumkan pada 2019, Satria Dewa: Gatotkaca berhasil menarik perhatian publik. Film yang menjadi pembuka Satria Dewa Semesta itu ibarat starter pack. Penjelasan tentang pandawa dan kurawa, serta perselisihan keduanya, dibahas lengkap. Asal usul Gatotkaca pun dituturkan dengan baik meski tak sedominan pandawa-kurawa.

Sutradara Hanung Bramantyo dan penulis naskah Rahabi Mandra berhasil menerjemahkan konflik pewayangan dalam konteks dunia modern. Film yang tayang mulai 9 Juni itu punya pembagian babak yang unik. Ibarat pertunjukan wayang orang, di tengah cerita ada sisipan komedi. Bahkan, ada kemunculan punakawan, yang biasa ditampilkan untuk mengundang tawa di tengah pentas.

Sayang, banyaknya perkenalan tokoh potensial justru jadi titik lemah film. Banyak karakter yang hanya tampil sekilas tanpa mendapat panggung. Penonton penasaran dan ’’digantung”. Di sisi lain, penempatan promosi produk juga terlalu banyak dan kentara. Bagian yang paling dinanti penonton, yakni kostum Gatotkaca serta kemampuan serta asal usulnya, justru terlewat.

Terlepas ulasan penonton, Hanung mengaku lega Satria Dewa: Gatotkaca akhirnya dirilis. Dia menyatakan, film tersebut diproduksi di masa genting pandemi. Sutradara kelahiran 1 Oktober 1975 itu pun terpaksa ’’memperkecil” film karena kuntara. ’’Saya di Jogjakarta, sementara para pemain di Jakarta. Saya hampir nggak pernah nyentuh mereka selain lewat Zoom,” paparnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : fam/c7/ayi

Saksikan video menarik berikut ini: