alexametrics

Studio Band Dibikin Instagrammable sampai Fasilitas Live Record

11 Oktober 2020, 12:40:41 WIB

JawaPos.com – Kalau bukan arek underground Surabaya, pasti mereka yang mencari Inferno 178 akan sulit menemuinya.

’’Bersembunyi’’ di antara kedai kopi, dan pelapak merchandise, studio di Jalan Dharmahusada No 178 itu menjadi kawah candradimuka buat band-band underground Surabaya.

Saat Jawa Pos mengunjunginya Rabu sore (7/10), suasana studio yang berdiri sejak 1997 itu masih lengang.

”Biasanya baru ramai pas malam. Selepas magrib atau isya,” ujar Samir Thalib, pemilik studio Inferno 178. Samir melanjutkan, sejak pandemi Covid-19, band-band yang menyewa studio menyusut drastis. Jika sebelum pandemi per pekan ada 20 band yang latihan, saat ini jumlah itu tinggal separonya.

Nah, peniadaan aktivitas belajar di sekolah turut memukul aspek perekonomian studio. ”Dulu hampir setiap minggu itu ada festival. Jadi, SMP-SMA itu biasa latihan siang-sore hari. Kalau yang dewasa biasanya malem,” papar Samir.

Mengatasi turunnya pemasukan studio, pria kelahiran 6 Februari itu mengaku mencoba menawarkan suasana yang berbeda dalam studionya.

Terutama dari segi visual. Samir mengungkapkan, dulu studio musik hanya akan berfokus pada fungsi. ”Tapi, karena sekarang bisa dibilang eranya Instagram, visual jadi fokus lainnya juga,” kata Samir.

Baca juga:

Dengan visual menarik, menurut dia, itu akan jauh lebih bisa mengundang banyak orang untuk datang meski lokasinya jauh. ”Bahkan, ada walinya anak-anak sekolah yang biasa ngantar itu berpikir kalau ini studio baru,” cerita Samir.

Hal yang sama dialami studio musik legendaris Surabaya lainnya, Natural Studio. Studio yang berada di Jalan Gayungan 5 No 18 Surabaya itu adalah salah satu studio paling senior di Kota Pahlawan. Banyak musisi sukses yang dulu sering latihan di sana. Mulai Dewa 19, Boomerang, hingga Power Metal pernah singgah di studio tersebut.

Namun, masa pandemi tetap saja mampir memberikan krisis. Pemilik Natural Studio Irwan mengungkapkan, tingkat okupansi studio turun hingga 50 persen. ”Dulu hampir tiap hari ada grup yang datang buat latihan. Sabtu-Minggu hampir selalu penuh dari pagi sampai malam. Tapi sekarang kadang kosong seharian,” keluh Irwan.

Terlebih saat PSBB diberlakukan di awal pandemi. Krisis itu sangat dirasakan Irwan yang juga menjaga studionya sendiri secara langsung. Irwan menambahkan, kini band yang datang latihan hanya band-band yang solid dan punya nama saja. ”Grup band sekolah SMP, SMA, atau mahasiswa hampir nggak ada,” sebutnya.

Beberapa siasat untuk mempertahankan studio juga dilakukan Irwan. Mulai perawatan berkala membersihkan tempat latihan hingga penyemprotan disinfektan. ”Selain itu, kita buka live studio record. Jadi, bisa langsung live recording saat latihan,” ujar Irwan.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ama/c17/dra




Close Ads