Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 Maret 2021 | 03.03 WIB

Hari Musik Nasional: Ada Gap Antar Musisi hingga Eksploitasi Digital

Pongki Barata./tangkapan layar - Image

Pongki Barata./tangkapan layar

JawaPos.com - Hari Musik Nasional yang jatuh pada hari ini Selasa (9/3) menjadi momentum untuk melakukan perenungan untuk wajah industri musik Indonesia ke depannya. Apalagi industri ini ikut terkena dampaknya akibat pandemi. Aktivitas musik offair melibatkan banyak penonton belum dapat dilaksanakan sampai sekarang.

Pengamat musik Adib Hidayat mengatakan tantangan terbesar dunia musik saat ini adalah beradaptasi dengan kondisi pandemi. Menurutnya, kemungkinan Covd-19 tidak akan benar-benar sirna dari muka bumi. Akan tetapi, dunia kesehatan tentu akan terus melakukan upaya supaya kehidupan manusia bisa normal kembali.

“Mau gak mau pandemi ini akan melekat dan ini akan menjadi persoalan ke depan. Ini bukan hanya dihadapi kita saja tapi juga musisi di seluruh dunia. Ada yang bilang ini tidak akan hilang tapi imun kita yang diperkuat. Vaksin mungkin ada updatenya, kayak Ios kan ada updatenya,” ungkapnya dalam diskusi virtual.

Dia pun menyatakan insan musik tanah air harus terus melakukan adaptasi dengan keadaan masa pandemi. Adib Hidayat berharap aktivitas musik digital bisa terus diperkuat dengan mencari formula yang lebih baik lagi dan menguntungkan untuk penonton maupun si artis.

“Bioskop yang sudah dibuka aja beberapa bulan lalu penontonnya masih sepi. Kelihatannya untuk acara musik masyarakat juga masih takut. Mungkin eksploitasi digital ini lewat beragam plaform bisa lebih dimaksimalkan lagi ke depannya,” tuturnya.

Adib Hidayat berharap juga ada upaya acara musik dilakukan secara offair. Mengenai fomulanya bisa terus dicarikan yang paling tepat, paling nyaman dan aman. Supaya acara musik bisa terus berjalan tapi tidak malah menambah jumlah kasus Covid-19.

“Secara umum kita harus lebih banyak adaptasi sih. Apakah konser sifatnya terbatas dulu atau seperti apa,” ungkapnya

Memperkuat pernyataan Adib Hidayat, Pongki Barata mengatakan memang sangat perlu industri musik Indonesia melakukan adaptasi dengan kondisi normal baru akibat pandemi. Karena jika gagal melakukan adaptasi, bisa jadi industri musik akan mengalami penurunan.

“Kemampuan musisi beradaptasi akan menjadikan ia musisi yang sekarang,” tutur Pongki Barata.

Masalah lain dalam industri musik saat ini adanya gap antara musisi senior dengan musisi zaman sekarang. Musisi senior yang dulu sempat merasakan manisnya penjualan kaset atau CD, sulit masuk ke ruang digital. Di sisi lain, musisi muda yang baru lahir dalam industri besar di dunia digital meskipun ia bukan seorang musisi hebat.

Pongki Barata berharap musisi senior juga bisa melakukan adaptasi dengan era digital seperti sekarang ini. Diakuinya memang ada gap yang cukup timpang antara musisi zaman dulu dan zaman sekarang. Banyak musisi senior hebat namun tidak terlalu bisa masuk ke era sekarang di tengah makin perkarasanya dunia digital.

“Padi atau lagu saya di platform digital memang kalah tinggi dibandingkan penyanyi yang baru satu hari rilis sudah satu juta streaming. Ada gap betul tapi saya memilih memperkecil gap itu sebisanya saya,” katanya.

Salah satu cara memperkecil gap antara musisi senior dan penyanyi zaman sekarang, katanya, adalah dengan membuat kolab musisi musik beda generasi. “Kolaborasi atau join kekuatan dengan teman-teman yang memang update dengan platform zaman sekarang. Mereka ini seperti kita dulu tapi berjuangnya lewat platform,” paparnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/1fYq2EjJWvw

 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore