alexametrics

Candra Darusman dan Segudang Proyek Kolaborasinya

7 November 2021, 18:48:37 WIB

Musisi jazz Candra Darusman tak berhenti bereksplorasi. Dia terbuka untuk berkolaborasi. Tak peduli genrenya. Mulai bossa nova, electronic dance music (EDM), hingga hiphop. Itulah yang membuat Candra masih terus ’’berlari” melintas era.

PADA pergelaran AMI Awards 2018, nama Candra menyita perhatian. Dia memboyong salah satu penghargaan utama, Album Terbaik-Terbaik, lewat album Detik Waktu: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman.

Tahun ini Candra memulai kembali pemanasan untuk album kedua Detik Waktu. Sudah ada dua lagu yang dirilis. Yakni, Waktuku Hampa yang dibawakan Ardhito Pramono bersama Detik Waktu Quartet. Plus, duet dengan Dian Sastrowardoyo di Perjumpaan Kembali.

Lagu baru tersebut kembali masuk nominasi AMI Awards 2021. Perjumpaan Kembali masuk di kategori baru Artis Jazz Kontemporer Terbaik. Candra menceritakan, materi lagu itu terbilang baru. Namun, berbeda dengan Waktuku Hampa, Perjumpaan Kembali lebih riang. ’’Dari awal, lagu saya buat dengan akor jazz Latin dan Dian suka dengan musik Latin. Jadi, ada chemistry antara kami dan lagu samba,” lanjutnya.

Musisi kelahiran 21 Agustus 1957 itu menjelaskan, sebagian lagu dari album kompilasinya bakal diunggah berurutan sebagai single. Rencananya, Detik Waktu kedua rilis pada April 2022. ’’Yang ketiga, saya mengajak teman band indie ternama Indonesia, rahasia lah. Insya Allah di akhir tahun ini bisa rilis,” papar Candra. Dia berharap lewat musisi baru, albumnya bisa ’’memotret” situasi dunia musik Indonesia saat ini.

Di luar proyek Detik Waktu, dia juga terbuka menerima kolaborasi dengan musisi lain. Bahkan lintas genre. Nama Candra ada di album band reggae Souljah, solois pop Vidi Aldiano, hingga proyek Dipha Barus dan musisi hiphop Matter Mos. ’’Dipha, Souljah punya inisiatif dan saya diajak. Saya melihatnya, alhamdulillah karya saya disukai,” tuturnya. Bagi dia, kolaborasi –tak pandang genre dan generasi sang musisi– menghadirkan pengalaman yang berbeda.

’’Saya rasa, ada sesuatu yang lain ketika dua generasi berkolaborasi. Generasi baru punya energi, sementara yang lama punya karakter,” kata Candra. Pria yang tergabung di Karimata dan Chaseiro itu menjelaskan, pengalaman bermusik saat ini jauh berbeda dengan 2–3 dekade lalu. Teknologi jauh lebih maju sehingga perbendaharaan bunyi lebih kaya. Dari pengamatannya, karya musik yang dihasilkan pun berbeda.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : fam/c7/dra

Saksikan video menarik berikut ini: