alexametrics

Lord Didi Wis Mari Mampir Ngombe

Didi Kempot 31 Desember 1966–5 Mei 2020
6 Mei 2020, 12:13:24 WIB

Wektu kito kuwi ono watese Jo sembrono yen migunaake

(Waktu kita itu ada batasnya Jangan sembrono menggunakannya)

Mampir Ngombe, Didi Kempot

JawaPos.com – Untuk setiap penggalan Cidro yang mengobati patah hati, tahukah Sampean kalau sang penyanyi selalu membawa inhaler tiap kali pentas? Untuk setiap suwiwi (sayap) yang ingin ditumbuhkannya agar Layang Kangen bisa segera terhantar, pernahkah Sampean mendengar sang pelantun mengeluh sesak napas?

Tidak. Tidak akan pernah. Bahkan di sela-sela istirahat pun, Didi Kempot masih berpikir untuk berkarya. ”Mas Didi itu pekerja keras. Hari-harinya dihabiskan untuk menciptakan tembang baru,” kata Eko Guntur Martinus, adik bungsu Didi, kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin (5/5).

Termasuk pada Senin lalu itu (4/5), hari ketika di malam harinya pelantun Cidro, Layang Kangen, dan ratusan lagu lain tersebut mengeluh sesak napas. Didi, kata sang adik, memang punya riwayat asma, penyakit yang membuatnya selalu membawa alat khusus untuk membantu pernapasan.

”Begitu saya dikabari mas masuk rumah sakit, saya langsung ke sini. Tapi, saya sampai sudah terlambat,” tutur Eko dengan pelan.

Ke sini yang dimaksud Eko adalah Rumah Sakit Kasih Ibu Solo. ”Almarhum datang ke rumah sakit, sampai IGD (instalasi gawat darurat, Red) sekitar jam 07.25,” kata Asisten Manajer Humas Rumah Sakit Kasih Ibu Solo dr Divan Fernandes.

Didi, papar Divan, sempat mendapatkan tindakan medis dari dokter selama 20 menit. ”Almarhum datang ke rumah sakit, sampai IGD sekitar jam 07.25 pagi,” katanya.

Saat datang, lanjut Divan, kondisi Didi sudah tidak sadar. Henti napas dan henti jantung. ”Kami melakukan resusitasi (pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu, Red). Namun, karena kondisi pasien sudah buruk, pasien tidak tertolong,” katanya.

Kabar duka itu pun tak terelakkan. Solois pop Jawa yang telah melahirkan puluhan album dan hit itu, yang lagu-lagunya membuat jutaan orang di tanah air hingga Suriname mampu menjogeti patah hati tersebut, dinyatakan meninggal oleh dokter sekitar pukul 07.45.

Dari RS Kasih Ibu Solo, jenazah penyanyi berjuluk The Godfather of Broken Heart itu tiba di rumah duka di Ngawi pukul 14.25. Disambut ratusan pelayat dari berbagai daerah, termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

SUGENG TINDAK, LORD: Peti jenazah Didi Kempot dibawa dari rumah duka menuju pemakaman di TPU Jatisari, Desa Mejasem, Kendal, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (5/5). (R. BAGUS RAHADI/JAWA POS RADAR MADIUN)

Sekitar setengah jam berselang, jenazah Didi dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jatisari, Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Peristirahatan terakhir pria yang oleh penggemarnya kerap dipangil Lord Didi itu berada di samping makam putri sulungnya, Lintang Ayuningtyas Rastri, yang meninggal pada 1995. ”Karena cikal bakalnya (Didi Kempot, Red) di sini, jadi ya dimakamkannya di sini (Majasem, Red),” terang Syukur, paman almarhum.

Ganjar mengetahui kabar kepergian Didi saat diundang ke salah satu stasiun radio milik pemerintah untuk wawancara. Awalnya, dia berpikir akan diinterviu mengenai perkembangan mudik dan sebagainya. Ternyata malah dimintai komentar mengenai kabar duka tersebut. ”Yang jelas, kita semua bisa meneladani sikap Mas Didi yang selalu merakyat dan suka membantu orang lain,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Kalau Didi mewujud pekerja tangguh, itu karena hidup telah menempanya dengan sangat keras sejak kecil. Merantau ke Jakarta, menjadi pengamen, meniti karir dari panggung hajatan, hingga mampu berkonser di stadion besar.

Karena hidup dan bergulat di tengah keseharian warga kebanyakan, lagu-lagu Didi jadi tak berjarak dengan pendengarnya. Ekspresi kesedihan, kegembiraan, dan kegenitan Didi adalah ekspresi kejujuran setiap kita. Pengalaman Didi adalah juga apa yang kita sentuh dan alami sehari-hari.

Jadi, ketika dalam Mampir Ngombe (Mampir Minum) dia bilang, ”Ngibadah ojo ditinggalke (beribadah jangan ditinggalkan)//Becike ayo dijalake (perbuatan baik ayo dijalankan),” tak ada orang yang merasa digurui. Ketika di Sewu Kutho (Seribu Kota), Didi menyebut, ”Sewo kuto uwis tak liwati (seribu kota telah kulewati)//Sewu ati tak takoni (seribu hati kutanyai),” tak akan ada yang bilang, ”Ah, gombal.”

Bahwa Didi adalah one of us, bagian dari kita, itu kian kuat tertanam seiring tak berubahnya penyanyi yang terlahir dengan nama Dionisius Prasetyo tersebut dalam laku keseharian setelah popularitasnya melejit. Komika Dodit Mulyanto mengenang betapa bersahajanya penyanyi yang diidolakannya itu saat kali pertama bertemu akhir tahun lalu.

”Wonge baik. Dadi, Pakde Didi Kempot itu meski baru ketemu kayak sudah lama ketemu. Akrab,” ungkapnya.

Dodit juga mengamati betul bagaimana sang idola yang biasa dia sapa pakde itu dikerubungi fans yang meminta foto. ”Dia sabar melayani, pengawalannya juga biasa saja,” lanjutnya.

Pengalaman panjang juga melatih kedisiplinan Didi. Ucup Klaten, youtuber yang tengah menanjak lewat serial guyonan dengan bintang Mbah Minto, mengenang betapa profesionalnya putra mendiang pelawak tradisional Ranto Gudel itu.

”Saat itu dia minta skripnya direvisi karena dianggap terlalu panjang,” kata Ucup yang menjalani syuting iklan bersama Didi akhir April lalu.

Syuting berjalan lancar. ”Selesai syuting sempat diskusi dan ngobrol juga. Saya juga minta foto dengannya,” jelas Ucup yang sempat nge-vlog soal pantun dengan Didi di sela-sela proses syuting.

Karena itu, betapa kaget ketika bangun tidur kemarin, dia mendapat kabar kepergian penyanyi yang diidolakannya tersebut. ”Saya sungguh tak menyangka syuting itu jadi pertemuan pertama dan terakhir saya dengan beliau,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Mungkin hanya orang-orang terdekat Didi yang tahu bahwa dia mengidap asma dan harus selalu membawa inhaler tiap pentas. Seperti petarung yang dibesarkan di jalanan, mengeluh adalah hal terakhir yang akan dilakukan.

Tapi, wektu kito kuwi ono watese. Semua ada batasnya. Lord Didi wis mari (sudah selesai) Mampir Ngombe. Kini saatnya tangan yang telah bekerja dengan sangat keras selama puluhan tahun itu menjadi suwiwi, membawanya terbang untuk beristirahat.

Kami ambyar, Lord. Tapi, lagu-lagumu akan terus menguatkan kami.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : atn/fam/byu/lum/shf/wan/tif/c1/fin/c11/ttg

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads