alexametrics

Joko Anwar Ungkap Alasan Bersedia Garap Film Ratu Ilmu Hitam

4 November 2019, 20:15:14 WIB

JawaPos.com – Sosok Joko Anwar berperan penting dalam proses pembuatan film Ratu Ilmu Hitam. Pasalnya, di tangan kreatifnya tercipta naskah skenario yang cukup baik.

Di hadapan awak media dalam jumpa pers film Ratu Ilmu Hitam di bilangan Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (4/11), Joko mengungkap alasan di balik ketertarikannya menggarap film yang bakal tayang di bioskop dalam waktu dekat. Sutradara film Pengabdi Setan tersebut secara terus terang mengaku sangat menyukai film Ratu ilmu Hitam yang tayang pada 1981.

“Pertama memang Ratu Ilmu Hitam produksi 1981 favorit saya. Kimo Stamboel (sutradara Ratu Ilmu Hitam, Red) ini salah satu film maker yang sangat saya kagumi. Sebenarnya sudah lama saya mau kerja bareng. Pas banget ada project ini bareng Kimo, saya langsung bilang oke tanpa perlu pikir lagi,” paparnya.

Film Ratu Ilmu Hitam menyajikan horor yang berbeda. Ketakutan yang dibuat di film ini tidak seperti penampakan ketika melihat hantu, tapi dibuat dengan cara berbeda. Sehingga penonton dibikin ngeri ketika menonton film ini.

Produser film Ratu Ilmu Hitam, Sunil Samtani, di tempat yang sama mengatakan, film yang dibintangi Hannah Al Rasyid, Ario Bayu, Tanta Ginting, Adhisty Zara dan sederet artis lainnnya, disempurnakan dengan menggunakan teknologi CGI.

“Terima kasih sudah menonton filmnya. Ini project Ratu Ilmu Hitam, menggunakan CGI dan dibantu oleh tim luar biasa. Mohon doanya untuk tanggal 7 November mulai tayang,” ucapnya.

Film Ratu Ilmu Hitam bercerita tentang Hanif (Ario Bayu) bersama istrinya Nadya (Hannah Al Rasyid) dan ketiga anak mereka pulang ke panti asuhan tempat dia dulu dibesarkan. Kepulangan mereka ke panti untuk menjenguk Pak Bandi (Yayu Unru) yang sudah tua dan sakit keras.

Dua sahabat Hanif dulu, Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), juga sempat datang ke panti asuhan dengan membawa serta istrinya masing-masing. Namun siapa sangka malam hari yang dipikirkan akan indah penuh kedamaian malah justru berujung petaka.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Abdul Rahman



Close Ads