alexametrics

‘Den Baguse Ngarso’ jadi Biang Kerok dalam Film Pendek ‘Telu’

4 Januari 2021, 18:49:31 WIB

JawaPos.com – Peran aktor senior Susilo Nugroho ikut memperkuat film pendek ‘Telu’ yang tayang secara series di YouTube dalam beberapa episode. Karakter Sarjono yang diperankannya dalam film pendek ini cukup memecah ketentraman lantaran menjadi biang kerok.

Sutradara ‘Telu’, Hendry Arie Nugroho mengatakan, tidak ada kesulitan khusus dalam mengarahkan Susilo Nugroho sebagai biang kerok dan menjadi pusaran konflik di film ini. Sebab aktor kelahiran Jogjakarta, 61 tahun silam itu adalah aktor dengan background teater yang sangat matang.

Susilo Nugroho dikenal lewat perannya sebagai Den Baguse Ngarso, tokoh antagonis dalam ‘Mbangun Deso’ di TVRI pada era 90-an. Menurut Hendry, Susilo sudah terbiasa membawakan peran nyeleneh, sok tahu, dan mau menang sendiri.

“Grasa-grusunya itu sudah muncul. Jadi, nggak sulit,” ujar sutradara yang pernah bekerja sama dengan Garin Nugroho sebagai Cast Director lewat film ‘Ku Cumbu Tubuh Indahmu’, dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com Senin (4/1).

‘Telu’ memiliki pesan menarik berusaha mengangkat kearifan lokal di tengah penetrasi budaya asing yang tak mungkin dibendung. Kendati menerima kebudayaan asing baik yang masuk, bukan lantas meninggalkan kearifan dan kebudayaan lokal. Pesan itu diramu dengan cerita yang sederhana tentang kehidupan sehari-hari.

Kisah utamanya tidak jauh dari seputar keluarga Mbah Atmo (Liek Suyanto), seorang seniman Jawa di rumah pendopo tari yang menyuguhkan berbagai tutur dan polah luhur Jawa yang tak mati ditelan waktu. “Kami ingin tunjukkan bahwa masih ada keluarga yang memiliki tata krama, unggah-ungguh dalam berkehidupan sehari-hari di tengah penetrasi budaya luar. Sesuatu yang sudah mulai hilang saat ini,” ujar Executive Producer ‘Telu’, Brilliana Arfira.

Film pendek ‘Telu’ perkenalkan kearifan lokal kepada milenial/istimewa

Konflik dalam film pendek ini dibangun dari karakter Sarjono yang diperankan oleh Susilo Nugroho. Dia adalah anak Mbah Atmo, sang pemilik pendopo. Sarjono ingin dipanggil Jon. Dia adalah pria slengean, grasa-grusu dan tergila-gila pada hobi memelihara burung.

Karakter Mbah Atmo yang diibaratkan tokoh Semar dalam pewayangan, diperankan Liek Suyanto, banyak memberikan sentuhan improvisasi antara skrip dan adegan di ‘Telu’. Mbah Atmo inilah yang nantinya bakal menjadi benteng ampuh menghadapi tingkah polah nyeleneh Sarjono yang kerap bikin kisruh di keluarga.

“Skenario itu kan bahasa tulisan yang tidak sepenuhnya bisa jadi bahasa kata-kata. Saya coba menerjemahkan bahasa di skenario tentang peran saya sebagai orang Jawa yang mengayomi, tidak perlu marah-marah dengan sentuhan improvisasi itu,” kata Suyanto.

Dia mengapresiasi hadirnya film pendek ‘Telu’, yang mengangkat sopan santun dan tata krama serta mempertahankan kearifan lokal di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang cukup deras. “Saya salut dengan anak-anak muda yang mau mengangkat budaya dan tata krama di tengah arus modernisasi. Teknologi dan modernisasi itu jangan dilawan, tapi budaya asli kita pun jangan ditinggalkan,” kata Suyanto.

Sementara Dyah Novia, pemeran tokoh Gendhis di film ini, sebagai perwakilan milenial yang masih mau mempertahankan budaya Jawa dengan banyak menghabiskan waktu bersama sang kakek, Mbah Atmo. Dia juga mau mempertahankan kesenian tradisi.

“Figur yang masih suka main Tiktok tapi tetap semangat berkesenian. Bahkan Gendhis ini bisa asyik dengan dunia berkeseniannya saat melihat ibu-bapaknya berkonflik,” cerita Dyah yang menaruh harapan agar pesan dalam film pendek ini bisa sampai ke milenial.

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Abdul Rahman


Close Ads