alexametrics

All-Female Band di Indonesia Berjuang Melawan Stigma

3 Januari 2021, 14:48:15 WIB

Dalam skena musik Indonesia, all-female band selalu bermunculan. Namun, tidak semua bisa meraih kesuksesan plus simpati publik. Nama yang tenar pun bisa dihitung jari. Dara Puspita, kuartet pemusik perempuan pada 1960-an, terus dibicarakan hingga hari ini. Kesuksesan menembus pasar internasional membuat band itu sulit dikejar secara prestasi oleh all-female band lain.

MENDAPATKAN pengakuan dari basis Red Hot Chili Peppers Michael Balzary alias Flea dan sanjungan gitaris Rage Against the Machine Tom Morello tidak langsung menaikkan pamor dan popularitas Voice of Baceprot (VoB). Ada ”tembok” besar yang menghalangi VoB meski memperoleh testimoni dari superstar musik dunia tersebut. Menurut sang gitaris, Firda Kurnia, VoB melawan ”arus besar” kultural di masyarakat Indonesia saat ini.

Ya, Firda dan dua rekannya di VoB, Euis Siti Aisah (drumer) dan Widi (basis), memainkan musik metal di atas panggung. Kemudian, menurut Firda, penampilan mereka yang berjilbab membuat VoB mendapat cacian, tentangan, dan kritik pedas dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan identitas yang dipakai di atas panggung.

”Menurut saya, metal dan hijab adalah dua hal berbeda. Metal adalah genre musik, sedangkan saya memakai hijab karena saya seorang muslimah,” kata Firda. ”Saya memakai hijab sejak kecil, bukan untuk mencari sensasi. Bukan karena main musik metal, lalu pakai hijab,” tambahnya.

Firda menyatakan, VoB terus melaju bersama cacian tersebut. Bahkan, mereka berencana ingin dikenal publik yang lebih luas hingga dunia internasional serta menjadi The Next Dara Puspita. Demi impian tersebut, mereka kemudian berguru kepada beberapa musisi senior di dunia metal. Mulai Stevi Item dari band DeadSquad hingga gitaris Musikimia Stephan Santoso.

Salah satu all-female band Indonesia, Zirah. (INSTAGRAM ZIRAH)

”Sebelum metal, kami sempat mencoba banyak genre. Tapi, selalu merasa ada yang kurang,” ungkap Firda. ”Bagi kami, metal bukan hanya dari segi musik atau aransemen, tapi juga lirik. Bagian itu yang lebih kami tekankan untuk dibuat ’keras dan metal’,” lanjutnya.

Terkait dengan jilbab, metal, gender, dan usia yang selalu menjadi bahan cercaan buat VoB, Firda cuek saja. Band asal Garut itu ingin menunjukkan eksistensi dengan kembali melahirkan album. Dengan berkarya, VoB merasa all-female band bisa terus eksis di belantika musik Indonesia.

”Sejak awal terbentuk, kami sepakat menjadikan musik sebagai media bersuara sekaligus merekam jejak kiprah dan keberadaan kami. Tentu kami akan selalu berkarya sebagai perwujudannya karena manusia hanya dibatasi umur, sedangkan karya bisa tetap ada dan bersuara,” jelas Firda.

INSTAGRAM Nonaria

All-female band kekinian selanjutnya adalah Zirah. Jika VoB berjanji terus konsisten di jalur metal, Zirah yang bernaung di bawah komunitas Potlot punya paradigma tersendiri. Zirah tidak mematok satu genre musik khusus sebagai karakter musik mereka. ”Kami bakal berupaya memberi warna baru dalam industri musik dan mencari cara agar tetap mengikuti arus,” ujar basis Zirah Anissa Yasmin.

Zirah pun tidak mau menargetkan pasarnya hanya dari kaum hawa. Meski jumlah perempuan memang lebih banyak di Indonesia, Zirah justru ingin musiknya juga disukai laki-laki. ”Kami menerima segala bentuk, ras, agama, dan gender. Siapa saja bisa mendengarkan kok. Alien juga boleh,” ucap Anissa, lantas tertawa.

Sebelum VoB dan Zirah, beberapa all-female band berupaya terus eksis di dunia musik. Nama-nama seperti NonaRia bahkan sempat menjadi perbincangan melalui karya-karyanya. Ada juga SHE yang sempat tenar pada era 2000-an.

Baca Juga: Deretan Film Besar Hollywood yang Siap Mengisi Bioskop di 2021

Di sisi lain, musisi Melanie Subono menegaskan bahwa stigma perempuan berkutat di dapur saja sudah tidak relevan saat ini. Anggapan itu salah besar. ”Perempuan itu bermusik bukan hanya karena memiliki penampilan yang oke. Tapi, mereka juga bisa bernyanyi dan menghasilkan karya,” tegas Melanie.

Melanie juga berharap kaum perempuan lebih berani menunjukkan jati diri, bisa berkarya, dan tidak hanya berlindung di balik sosok pria.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : rid/c14/dra


Close Ads