alexametrics
Review Film

The Batman: Kembalinya Hakikat Sang Detektif Terhebat di Dunia

2 Maret 2022, 15:21:17 WIB

JawaPos.com – Batman tidak bisa dipungkiri merupakan salah satu ikon terbesar dan terpopuler di dunia. Sekian dekade malang melintang di dunia komik maupun film, alter ego dari Bruce Wayne tersebut sudah dicap publik sebagai salah satu superhero, meskipun ia tidak punya kekuatan super apapun di samping kekayaan yang tiada tara.

Namun, kebanyakan publik lupa bahwa selain sebagai superhero, Sang Kesatria Kelam juga menyandang predikat lain: seorang detektif.

Reputasi Batman sebagai The World Greatest Detective, salah satu dari sekian banyak julukannya, memang hampir tidak pernah diekspose secara lugas dalam film-film layar lebar terdahulunya. Mulai dari Batman (1989), Batman Returns (1992), Batman Forever (1995), Batman and Robin (1997), Trilogi The Dark Knight (2005, 2008, dan 2012), maupun dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017), semua hanya menampilkan sisi Batman sebagai seorang vigilante yang dilengkapi gadget canggih.

Hal ini memang cukup ironis, mengingat Batman lahir dari label komik DC yang notabene merupakan singkatan dari Detective Comics.

Sutradara Matt Reeves rupanya cukup jeli dalam melihat hal ini. Ia pun menggarap sebuah film Batman dengan konsep yang cukup berbeda: mengembalikan hakikat Batman sebagai seorang detektif mumpuni, tanpa menghilangkan personanya sebagai seorang pahlawan super yang ditakuti para penjahat.

Hasilnya adalah sebuah film yang sangat seru dan menegangkan berjudul The Batman (2022).

Berdurasi 3 jam, Matt Reeves menyuguhkan film Batman yang paling ‘gelap’ sejauh ini, baik secara mood maupun teknik lighting. Buang jauh-jauh harapan bahwa The Batman akan menyuguhkan adegan penuh aksi dan ledakan seperti kebanyakan film Batman sebelumnya, karena seperti sudah disebutkan di atas, film ini lebih menonjolkan sisi Batman sebagai seorang detektif ulung.

Mengingat film Batman sudah berkali-kali dibuat, Reeves tidak mau berlama-lama memperlihatkan sosok si manusia kelelawar ke hadapan para penonton.

The Batman dibuka dengan memperlihatkan Kota Gotham yang tengah digerogoti oleh kriminalitas yang merajalela di setiap sudutnya. Tidak sampai 5 menit, Batman (Robert Pattinson) sudah muncul dan menghajar habis-habisan gerombolan penjahat di sebuah stasiun kereta bawah tanah. Lewat pengambilan gambar dan pencahayaan apik, didukung dengan narasi gloomy tentang betapa menyedihkannya kondisi Kota Gotham, penonton seakan ikut dibawa untuk merasakan betapa menakutkannya sosok Batman di mata para penjahat.

Plot cerita The Batman dimulai saat Wali Kota Gotham dibunuh dengan sadis  dan brutal oleh seorang penjahat bertopeng, yang belakangan diketahui bernama The Riddler (Paul Dano). Tak hanya membantai sang Wali Kota, Riddler juga membuka dosa-dosa korbannya tersebut ke hadapan publik.

Riddler bukanlah tipikal penjahat pada umumnya yang membuat keonaran demi mendapatkan uang atau menguasai dunia. Ia adalah seorang bandit yang memiliki misi besarnya sendiri. Seorang teroris sejati.

Sama seperti di dalam komik, Riddler selalu meninggalkan teka-teki yang ditujukan kepada Batman. Teka-teki tersebut merupakan petunjuk dari aksi teror yang akan ia lakukan selanjutnya.

Di sinilah porsi Batman sebagai seorang detektif digali. Ia harus berpacu dengan waktu seiring Riddler terus melakukan pembunuhan kepada sederet daftar nama penting di Kota Gotham lainnya yang sudah ia incar demi merealisasikan rencana akbarnya. Dalam perjuangannya, Batman juga ditemani oleh James Gordon (Jeffrey Wright), satu dari segelintir polisi jujur dan bersih di Kota Gotham.

Penelususan Batman dalam memecahkan misteri yang ditinggalkan Riddler pun membawanya bertemu dengan sosok lain yang sudah tidak asing, yakni Selina Kyle alias Catwoman (Zoe Kravitz) dan Oswald Cobblepot alias Penguin (Colin Farrell).

Lewat The Batman, Reeves sukses membuktikan bahwa film Batman tidak melulu harus dihiasi adegan baku hantam. Kemampuan analisis dan kecerdasan Batman dalam memecahkan masalah ternyata bisa menjadi suguhan yang menghibur, walau pada akhirnya tetap saja Batman harus mengerahkan otot-ototnya untuk bertarung dengan para penjahat di film ini.

Tantangan terberat Reeves bukan cuma memuaskan ekspektasi tinggi publik lewat Batman versi dirinya, apalagi kepada para pecinta film yang sudah mematok standar The Dark Knight (2008) sebagai film Batman, atau bahkan film superhero terbaik yang pernah ada di jagat sinema.

‘Menyulap’ seorang Robert Pattinson, yang selama ini sudah kental dengan imej vampir ganteng nan berkilau lewat perannya sebagai Edward Cullen dalam saga Twilight, menjadi sosok Batman yang pemurung dan penuh angkara murka adalah salah satu PR besar Reeves.

Sejak pertama kali diumumkan bahwa Pattinson akan memerankan Batman, keraguan dari publik pun tidak terelakkan. Hujan kritik pun berdatangan.

Toh, Pattinson akhirnya bisa menjawab itu semua. Sebagai seorang aktor Hollywood kelas kakap, Pattinson boleh dibilang berhasil mengemban peran sebagai Batman yang baru. Di balik topeng kelelawar, Pattinson sanggup mengeluarkan kharisma Batman sebagai seorang penegak kebenaran yang diliputi kesedihan dan rasa dendam akut.

Meski berhasil memerankan Batman, peran Pattinson sebagai Bruce Wayne sepertinya harus menjadi catatan sendiri. Dalam The Batman, Bruce Wayne digambarkan sebagai seorang miliarder yang tidak bahagia. Wajahnya selalu masam, dandanannya tidak parlente, dan tidak dikelilingi wanita-wanita cantik.

Ketimbang sebagai seorang yang tajir melintir, ia malah lebih terlihat seperti seorang anggota grup band emo yang menggandrungi sepeda motor. Bagi maniak Batman, hal ini harus diakui cukup disayangkan, mengingat Bruce Wayne adalah seorang playboy yang necis dan murah senyum.

Terlepas dari itu, para karakter lain dalam The Batman juga sangat layak diacungi dua jempol. Zoe Kravitz sebagai Catwoman tampil nakal dan begitu menggoda, sangat cocok mengimbangi karakter Batman yang kaku. Paul Dano, yang didandani dengan begitu misterius namun culun di saat yang bersamaan, pantas diberikan pujian atas aktingnya sebagai Riddler.

Secara keseluruhan, The Batman adalah sebuah film yang sangat layak ditonton. The Batman memang lebih terasa sebagai film thriller misteri ketimbang film superhero, namun hal tersebut sama sekali tidak menafikan derajat Batman sebagai simbol keadilan dalam kegelapan.

 

“I am vengeance…”

Editor : Banu Adikara

Saksikan video menarik berikut ini: