JawaPos Radar

Ini Penyebab Mahalnya Harga Batik

16/05/2016, 00:50 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ini Penyebab Mahalnya Harga Batik
Ilustrasi (dok. JPNN.com)
Share this image

JawaPos.com - ‎Kain tradisional dan produk lokal lainnya acap kali dibanderol dengan harga tinggi. Hal ini kerap membuat para konsumen rada kaget.

Tingginya harga produk lokal tersebut, lantaran proses pembuatan suatu produk itu cenderung memakan waktu lama dan terkesan rumit. Contohnya, dalam membuat kain batik tulis, tenun, atau pun songket.

Tingginya harga produk tersebut membuat pasar produk lokal itu jadi terbatas.‎ Bahkan, terlihat kurang laku. Masyarakat pun lebih mengincar produk asing.

Melihat fenomena ini, Ketua sekaligus Founder Komunitas Cinta Berkain (KCB) Sita Agustanzil‎ meminta para pengrajin produk lokal khususnya, kain batik agar tidak mematok harga mahal produknya.

"Seharusnya, mereka memberikan kualitas bagus tapi harga terjangkau," ujarnya saat ditemui di Jakarta.

Dirinya tak menampik, memang faktor ekonomi ditambah proses pengerjaan yang memakan waktu lama menjadi alasan dibalik harga yang mahal.

Namun, Sita menambahkan, bila para pengrajin produk lokal terus membanderol harga tinggi‎ maka pasarnya hanya orang kelas menengah ke atas dan itu-itu saja.

"Padahal, Indonesia memiliki banyak kelas menengah. Sebaiknya, sasar kelas itu," ucapnya.

‎Dia juga menyarankan, agar kain tradisional daerah memiliki kekhasan masing-masing. Jangan sampai memadukan motif khas daerah satu dengan yang lainnya.

"Nanti  itu bisa memicu perpecahan. Selain itu, dengan ciri khas maka akan banyak dicari orang," tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, pengrajin kain batik asal Kudus ‎Yuli Astuti mengaku, memang soal harga sangat dilematis. Para pengrajin sempat serba salah dengan harga yang ditawarkan.

Yuli menyarankan, agar pemerintah membantu para pengrajin batik dalam menentukan harga.

Di sisi lain, Wakil Ketua KCB Wina menyatakan, agar para pengrajin dan penjual kain tradisional jujur kepada konsumen dengan produk yang dijualnya. Sebab, terkadang masih sering ada pengrajin atau penjual yang suka menipu konsumen.

"Bilangnya batik tulis, ternyata printing. Terkadang, juga suka mencampuradukan barang dagangan antara kain mahal dan murah," terangnya.

Wina juga menyarankan, sebaiknya para pengrajin kain tradisional memberikan nama kain dan tahun pembuatannya. "Sebab, tidak semua orang tahu motif yang ada di dalam kain tersebut," tandasnya. (rka/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up