JawaPos Radar | Iklan Jitu

Psikolog Akui Gaya Hidup Mewah Jadi Salah Satu Pemicu 'Ayam Kampus'

10 November 2018, 10:18:10 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
pekerja seks komersial, ayam kampus,
ILUSTRASI. mahasiswi yang memilih jalan hidupnya sebagai 'Ayam Kampus' biasanya berawal dari keinginan hidup mewah. (Shutterstock/Daily Mail)
Share this

JawaPos.com - Seakan sudah menjadi rahasi umum kalau mahasiswi yang ingin memenuhi kebutuhan gaya hidup dengan cara yang instan seringkali terjerumus dalam kehidupan gelap seperti menjadi 'ayam kampus'. Sebenarnya, bagaimana para 'ayam kampus' ini memulai profesinya jika dilhat dari sisi psikologi?

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie menjelaskan mahasiswi yang memilih jalan hidupnya sebagai 'ayam kampus' biasanya berawal dari keinginan mereka menambah uang jajan dan gaya hidup mewah. Kosmetik terbaru, pakaian yang sedang tren, sepatu, pakaian, jam, perhiasan, semuanya bisa diperoleh dengan jalam pintas.

"Sesimple ada lipstik mahal atau make up keren baru saja launching. Saya harus punya nih. Alasan sesimple itu pemicunya," kata Liza kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Sayangnya alarm sosial yang merupakan teman-teman di lingkaran 'Ayam Kampus' saat ini semakin cuek dengan apa yang terjadi dengan temannya. Nilai-nilai norma semakin bergeser. Isu keperawanan sudah tak begitu sakral lagi di era modern ini.

"Norma dan moral yang menyangkut seksualitas sudah bergeser. Dulu kan untuk bercinta saja menunggu malam pertama menikah, sekarang tinggal satu rumah pun teman-temannya cuek saja," tukasnya.

Apalagi saat ini tren gaya hidup mahasiswa semakin bebas dan tak terpantau orang tua dengan memilih tinggal di apartemen. Bukan lagi di kamar kos dengan kontrol oleh ibu kos, apartemen justru menjadi zona paling nyaman.

"Di kampus-kampus kan sekarang lagi tren mahasiswa kos di apartemen. Ada mahasiswa yang ngakunya di kamarnya itu pacarnya, teman mahasiswa lainnya pun cuek saja," ujar Liza.

Ujung-ujungnya, kata dia, tentu adalah materi. Awal mula barangkali hanya iseng, namun lama kelamaan keterusan karena menikmati profesi instan untuk mendapatkan uang banyak.

"Daripada kerja mending begitu. Entah menikmati hubungan itu atau enggak ya, tetapi pasti motifnya adalah materi," tandasnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up