alexametrics

Tahukah Anda, Ada 3 Level Gangguan Kejiwaan Karena Selfie Berlebihan

7 Desember 2018, 08:00:57 WIB

JawaPos.com – Kebiasaan memotret diri sendiri dengan gadget atau yang dikenal dengan selfie sudah populer setidaknya dalam 3-5 tahun terakhir. Tak hanya selfie, wefie atau berfoto dalam grup juga banyak dilakukan masyarakat. Namun jika berlebihan, selfie bisa termasuk gangguan kesehatan. Apalagi banyak korban kecelakaan karena selfie terlalu heboh.

“Ada saja pengunjung mal yang melakukan selfie, bisa secara sendiri-sendiri maupun dalam kelompok. Gaya saat berswafoto tersebut ternyata macam-macam dengan mimik wajah yang juga dibuat macam-macam, ada yang dilakukan sendiri-sendiri ada yang dilakukan secara berkelompok,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB dalam aplikasinya ‘Apa Kata Dokter’ yang baru diluncurkan, Kamis (6/12).

Selfie atau mengambil foto diri secara mandiri dan membagikan melalui media sosial sudah merupakan budaya masyarakat zaman now. Tujuannya macam-macam dan dianggap sebagai upaya pengembangan psikososial.

selfie, dampak selfie, pengaruh buruk selfie, selfie tanda sakit,
Gangguan kejiwaan karena selfie terbagi dalam tiga tingkatan. (Live Science)

“Kegiatan selfie sudah mendunia dalam 5 tahun terakhir ini dan semakin meningkat drastis dalam 2 tahun terakhir. Semakin banyak pelakunya semakin banyak laporan kecelakaan yang berhubungan dengan pengambilan selfie tersebut,” katanya.

Menurut dr. Ari, biasanya memang selfie dilakukan dengan riang gembira. Secara psikologi, tersenyum dan tertawa bisa mengurangi tekanan jiwa yang terjadi. Selain itu selfie juga meningkatkan kepercayaan diri.

Menurut peneliti dari Nottingham Trent University ada enam motivasi kenapa seseorang melakukan selfie, yaitu meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi berbahagia, mencari perhatian, meningkatkan mood, berhubungan dengan lingkungan sekitar, meningkatkan adaptasi mereka dengan kelompok sosial di sekitar serta bisa juga untuk berkompetisi secara sosial.

Di satu sisi jelas bahwa selfie membawa dampak positif untuk mental seseorang. Tetapi ternyata jika selfie dilakukan secara berlebihan sehingga mereka menjadi obsesif untuk selalu mengambil gambar dan terus melakukan upload ternyata dikelompokkan pada gangguan kesehatan yang disebut selfitis.

Mengutip hasil penelitian dr. Janarthanan Balakrishnan, penyakit selfitis, yaitu seseorang yang sudah mengalami kecanduan untuk melakukan selfie. Selfitis menjadi 3 kelompok. Pembagian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan di India salah satu negara dengan angka kematian tertinggi yang berhubungan dengan selfie. Pada penelitian tersebut 34 persen responden mengalami selfitis borderline, 40,5 persen mengalami selfitis akut, dan 25,5 persen mengalami selfitis kronis.

“Bagaimana dengan di Indonesia? Memang perlu dilakukan penelitian mengenai fenomena selfie di Indonesia. Maka tetap harus bijak dan proporsional serta tak mengganggu aktivitas,” ungkap dr. Ari.

Selfitis sebagai suatu gangguan kejiwaan juga dibagi menjadi 3 tingkat penyakit, yaitu,

Boderline
Ketika mengambil gambar selfie sebanyak 3 kali dalam sehari tetapi tidak di-posting.

Akut
Mengambil 3 foto selfie dalam sehari dan membagikan seluruhnya ke media sosial.

Kronik
Jika keinginan selfie terlalu berlebihan dan tidak terkendali. Bisa lebih dari 6 kali posting sehari.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : (ika/JPC)

Tahukah Anda, Ada 3 Level Gangguan Kejiwaan Karena Selfie Berlebihan