alexametrics

Cerita Generasi Ketiga Petani Kopi Gayo Pertahankan Cita Rasa

6 Februari 2019, 15:35:03 WIB

JawaPos.com – Siapa tak kenal biji kopi Aceh Gayo. Namanya sudah mendunia karena aroma dan kelezatannya saat diseruput. Biji kopi Gayo yang berasal dari tanah Serambi Mekkah itu ternyata menyimpan sejuta rahasia lainnya.

Pemilik resto Messis di Jalan Tole Iskandar, Depok, Yuly Arda rupanya generasi ketiga petani dan pemilik kebun kopi Gayo di Aceh. Dirinya bercerita banyak soal biji kopi yang menjadi primadona itu. Saking cintanya kepada biji kopi, dia juga menamai restonya dengan Messis. Diambil dari bahasa latin yang artinya hasil panen.

“Saya generasi ketiga di Gayo, di mana awalnya kakek saya almarhum merintis menanam kopi. Dari kakek saya diteruskan oleh almarhum ayah saya. Tanah itu kini menjadi milik saya. Dari situ muncul ide, saya berpikir betapa sulitnya generasi sebelumnya merawat, menanam dan memetik biji kopi,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Cerita Generasi Ketiga Petani Kopi Gayo Pertahankan Cita Rasa
Yuly Arda pemilik resto Messis sekaligus generasi ketiga pemilik kebun kopi di Aceh Gayo. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

Sejak kecil, Yuly terinspirasi untuk membudidayakan biji kopi Gayo. Bagaimana generasi sebelumnya penuh keringat melestarikan dan membesarkan nama biji kopi Gayo.

“Pada saat saya sudah sekolah dan bekerja di bidang medical, inspirasi itu muncul lagi. Sebab, sebelumnya kok setelah panen dijual bukan pada orang yang tepat tapi pada tengkulak dan harganya murah banget,” katanya.

Oleh karena itu, rencana semula membangun resto unik dari kontainer yang dia miliki saat ini, hanyalah mengelola menu makanan saja dari hasil kreasi istri tercinta, Fayruz Zhalielah Dalimunthe. Namun, kecintaan pada biji kopi Gayo, mendorongnya menjadikan kopi gayo sebagai kekuatan menu di resto miliknya.

“Lalu, teringat kopi yang saya ceritakan, orang datang pasti butuh minum kopi. Dan saya di kampung halaman ada kebun kopi kenapa tak coba mengolahnya,” ungkapnya.

Awalnya, Yuly hanya tahu bagaimana cara menanam dan memanen biji kopi. Oleh karenanya, dia banyak memiliki jaringan bersama komunitas kopi dan juga temannya yang berasal sama-sama dari Gayo. Maka dengan banyak belajar serta riset, kini banyak variasi menu kopi yang dihidangkan di restonya.

“Tak sengaja ketemu keluarga saya jauh, ternyata juga kembangkan kopi. Saya juga tahunya dari komunitas kopi. Barulah saya merasa mulai siap profesional, mudah-mudahan karena kami memiliki kualitas biji kopi kebun sendiri, maka terjamin kesegarannya,” ungkap Yuly.

Menurutnya, nama kopi Gayo sudah mendunia. Namun, karena keprihatiannya atas biji kopi yang dihargai murah oleh tengkulak, maka dia pun lebih mengharumkan biji kopi itu sendiri menjadi kopi bercita rasa nikmat.

“Memang untuk membedakan kualitas rasa kopi Gayo dibutuhkan sensasi oleh pecinta dan penikmat kopi. Dari 100 orang, kurang lebih hanya kurang dari 10 persen yang bisa membedakan setiap cita rasa kopi,” ungkapnya.

Signature Kopi Khas Messis

Ada banyak kopi andalan yang menjadi menu di Messis. Salah satunya bahkan terdapat menu kopi Caramel Machiato yang tidak menggunakan saus karamel sama sekali. Namun, ketika diseruput, aroma karamelnya begitu kuat. Rahasianya ada pada proses roasting-nya.

Kemudian, menu andalan lainnya ada juga Candy Coffee Latte yang cocok bagi siapapun tanpa takut mengalami gangguan asam lambung. Rasa dan aromanya begitu menenangkan.

Bagaimana dengan harganya? Ternyata sangat terjangkau dimulai dari Rp 9 ribu hingga Rp 30 ribu per cangkir. Bisa disajikan dalam dingin maupun hangat.

Editor : Novianti Setuningsih

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Copy Editor :

Cerita Generasi Ketiga Petani Kopi Gayo Pertahankan Cita Rasa