JawaPos Radar

Suka Duka Anita Pembatik Asal Pekalongan, 15 Tahun Berkarya

02/10/2017, 16:44 WIB | Editor: Muhammad Syadri
Suka Duka Anita Pembatik Asal Pekalongan, 15 Tahun Berkarya
Anita, Pembatik Asal Pekalongan (Rieska/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Batik adalah sebuah teknik atau proses menuliskan atau menegaskan kain bergambar dengan menggunakan malam atau lilin yang pengolahannya diproses sehingga memiliki ciri khas. Membatik bagi semua orang tak mudah dilakukan jika tak memiliki keterampilan tertentu. Salah satunya adalah Anita, pembatik asal Pekalongan, Jawa tengah yang bekerja di Pasaraya, Blok M.

Luar biasa, di usianya kini 34 tahun, Anita mengabdikan separuh hidupnya untuk membatik. Dia sudah belajar membatik sejak duduk di bangku SMP. Dia belajar dari sang nenek yang sebelumnya juga bekerja di Pasaraya, Blok M, sebagai pembatik. Tentu saja, mal Pasaraya Blok M sudah eksis selama 43 tahun.

"Saya belajar batik dari ibu, tapi saya meneruskan pekerjaan membatik ini dari nenek saya. Dari umur 15 tahun sudah belajar batik asli Pekalongan," kata Anita sambil asyik membatik, Senin (2/10).

Berkat keterampilannya itu, Anita tak hanya bekerja di Pasaraya, tetapi dia juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pengajar batik untuk orang asing. Tak sedikit pula orang asing yang memesan batik darinya.

Menurut Anita, batik Pekalongan berbrda dengan batik Jogjakarta. Batik Pekalongan adalah batik pesisir dengan ciri khas warna batik lebih cerah. Motifnya biasanya mengambil motif alam seperti bunga atau binatang. Sedangkan motif parang lebij banyak dipakai oleh batik Jogjakarta.

"Batik Pekalongan itu batik pesisir warnanya lebih cerah dan ada unsur perpaduan budaya China juga Arab," kata Anita.

Dimulai dari membuat pola dengan pensil, lalu Anita mulai membatik di atas kain 1 meter x 60 centimeter. Kemudian setelah itu barulah dilakukan pencelupan. Warna yang digunakannya adalah warna kimia bukan warna alam.

"Saya pakai warna kimia. Warna alam bagus tapi cepat luntur, malah cepat pudar. Satu kain batik biasanya saya selesai 4 hari hanya untuk menggoreskan lilin saja, belum tahap lainnya. Biasanya dipesan sebagai sovenir oleh orang-orang asing," katanya.

Tentu meski sudah belasan tahun, membatik tetap tak mudah. Anita masih sesekali menghadapi kendala apalagi jika sudah kelelahan atau mengantuk. Untuk bahan-bahan membatik, biasa dibelinya langsung dari Pekalongan. Sebab harga di sana jauh lebih murah untuk menghemat biaya produksi.

"Di Tanah Abang kainnya itu harganya dua kali lipat dari di Pekalongan. Lilinnya satu kilogram Rp 75 ribu per kilogram," ungkap Anita.

Dia berharap kain batik semakin berjaya di tanah air dan mancanegara. Agar para pembatik dan perajin sepertinya bisa terus berkarya di tengah pasar yang luas. Kaderisasi pembatik pun sudah mulai langka dengan banyaknya gempuran teknologi dan budaya global yang masuk ke tanah air.

"Penerus dari nenek saya sih hanya saya, tapi sekarang sepupu-sepupu saya sudah mulai mau belajar. Harapannya agar masyarakat lebih menghargai batik tulis karena prosesnya panjang dan rumit," tutur Anita.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up