JawaPos Radar

Sejarah Batik: Diklaim Malaysia Hingga Diakui Unesco

02/10/2017, 05:35 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Sejarah Batik: Diklaim Malaysia Hingga Diakui Unesco
Workshop Membatik di Hotel Aston Marina (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Masyarakat Indonesia harus bangga memakai kain batik. Rasa cinta terhadap kain nusantara ini harus terus digelorakan dengan cara memadukannya di kegiatan sehari-hari. Batik adalah sebuah teknik atau proses menuliskan atau menegaskan kain bergambar dengan menggunakan malam atau lilin yang pengolahannya diproses sehingga memiliki ciri khas.

Sejarah panjang perjalanan batik hingga kini akhirnya batik diakui organisasi dunia Unesco sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009. Karena itulah, sejak saat itu, Indonesia memperingati hari batik nasional setiap 2 Oktober, atau hari ini, Senin (2/10). Setiap sekolah, kelembagaan, dan perusahaan mewajibkan penggunaan pakaian batik satu hari dalam sepekan.

Sebetulnya proses meraih pengakuan itu bukan hal yang mudah. Semula perjuangan diawali karena perlawanan Indonesia karena tak mau batik diklaim oleh negera tetangga Malaysia. Karena itu sejak tahun 2008, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke dalam deretan representatif budaya tak benda warisan manusia Unesco atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco. Kemudian diterima resmi oleh Unesco pada 9 Januari 2009 untuk diproses. Barulah pada 2 Oktober 2009 Unesco mengakui batik.

“Hampir semua provinsi, daerah di Indonesia punya batik. Karena batik itu adalah teknik atau proses. Awalnya batik diklaim punya Malaysia. Namun setelah diakui Unesco lalu perkembangan batik menjadi pesat saat ini,” kata Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil, Sugeng Riadi dalam workshop membatik di Hotel Aston Marina, Minggu (1/10).

Dalam rangka memeringati Hari Batik Nasional, hotel Aston Marina Ancol menggelar workshop membatik kepada para pengunjung. Kegiatan itu tentu menjadi salah satu rangkaian pengenalan dan pelestarian terhadap batik, bahwa batik adalah warisan budaya yang sangat relevan diperkenalkan kepada generasi milenial.

“Kami juga merasa terpanggil untuk memperkenalkan warisan budaya batik kepada masyarakat dengan konsep yang berbeda namun tujuannya sama. Karena itu kami berkolaborasi dengan Museum Tekstil,” jelas Marketing Communication Hotel Aston Marina, Paundra Hanutama.

Dilansir dari laman Pemprov Jawa Barat resmi, sejarah perjalanan batik dari sebelum akhirnya diklaim Malaysia dan diakui Unesco, melalui proses yang sangat panjang. Dimulai sejak zaman kerajaan Majapahit, ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulungagung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit.

Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Saat itu petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau Tulungagung membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, di mana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual.

Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang adalah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut.

Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas.

“Saat ini, lilin atau malamnya hanya bisa dibeli di daerah Pekalongan atau Solo dan Jogjakarta. Sejarah batik begitu panjang, dan hal itu akan mempengaruhi setiap tekniknya. Setiap daerah saat ini membuat batik. Proses membatiknya sama. Pewarnaannya sama. Tapi tiap daerah punya ciri sendiri dan yang membedakan adalah keindahan motifnya,” tutup Pengajar Teknik Batik Museum Tekstil, Sugeng Riadi.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up