JawaPos Radar

Dua Wilayah Ini Bikin Ciri Khas Batik Berbeda Sentuhan

02/10/2017, 09:19 WIB | Editor: Muhammad Syadri
Dua Wilayah Ini Bikin Ciri Khas Batik Berbeda Sentuhan
Suasana Membatik di Mal Margo City (Rieska/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Luasnya wilayah Indonesia membuat penduduknya beragam. Adat istiadat dan kebudayaan juga beragam. Begitu pula teknik membatik. Di Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, boleh juga menjadi momentum bagi masyarakat agar tak hanya menggunakan kain batik, tetapi juga mengerti teknik pembuatannya.

Karena luasnya wilayah Indonesia, maka teknik membatik ternyata dibedakan menjadi dua wilayah. Di antaranya wilayah pedalaman dan wilayah pesisir. Meskipun seluruh daerah kini mempunyai kain batik, hal itu dibedakan dari motif dan warna. Masing-masing tentu mempunyai ciri khas dari mulai batik Aceh hingga batik Papua.

“Wilayah pembatikan di Indonesia dibagi menjadi dua. Yaitu wilayah pedalaman Jogjakarta dan Solo, kemudian di wilayah pesisiran sepanjang Pantura Jawa, Madura, Tuban, Pekalongan, Cirebon, Lasem, bahkan hingga Betawi,” kata Pengajar Teknik Membatik di Museum Tekstil Sugeng Riadi di Hotel Aston Marina, Minggu (1/10).

Menurut Sugeng, setiap orang sebetulnya bisa belajar membatik baik batik dari wilayah pedalaman atau wilayah pesisiran. Namun jika bicara masalah hasilnya, ternyata hal itu juga dipengaruhi oleh ketekunan dan bakat seseorang.

“Saya mempelajari batik sudah 14 tahun dan memang mengambil program edukasi. Karena yang belajar membatik itu ada yang tujuannya memang ingin membuka usaha, ada juga yang memang hobi. Tapi jika memang sudah bakat, maka goresannya akan lebih bagus,” papar Sugeng.

Wilayah Pedalaman
Batik di wilayah pedalaman seperti Jogjakarta dan Solo memiliki banyak motif yang sudah dibukukan. Kurang lebih ada 170an motif, bahkan lebih dari itu. Ciri khas batik wilayah pedalaman, hanya ada lima warna yang digunakan yakni biru, putih, cokelat, krem, dan hitam. Dari segi motif, lebih berupa simbol-simbol dan sulit diterjemahkan.

“Misalnya saat penciptaan motif parang diambil dari relief candi. Pengaruh batik pedalaman karena zaman kerajaan Hindu dan relief-relief candi,” kata Sugeng.

Wilayah Pesisiran
Terletak di dekat pantai dan lebih bersifat realis atau natural. Pengaruh batik wilayah pesisiran dipengaruhi oleh pusat perdagangan dibawa oleh budaya China, Gujarat, Arab, dan India. Warnanya juga lebih mencolok atau multiwarna. Dari mulai biru, merah, kuning, hijau, dan lainnya. Motifnya juga lebih variatif.

“Setiap daerah punya batik. Ya proses membatiknya sama, pewarnaannya sama. Tapi tiap daerah punya ciri sendiri dan motifnya yang beda. Seperti batik di Kalimantan diambil dari motif tameng suku dayak atau rumah-rumah dayak, begitu juga batik dari Papua yang mengambil motif burung di sana,” ujar Sugeng.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up