JawaPos Radar

Batik Lasem Rembang Siap Bersaing di Panggung Fashion

01/08/2018, 17:32 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
batik tulis lasem, dian pelangi, istri bupati rembang,
Launching The art of Rembang oleh Ketua Dekranasda Hasiroh Hafidsz (tengah) di tengah-tengah JMFW 2018. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Memiliki warna yang cerah khas pesisir, batik tulis Lasem asal Rembang kini tengah merambah dunia fashion. Tampil dengan potongan kekinian, batik Lasem tak hanya diharapkan makin dikenal orang. Tapi juga memajukan para pengrajin batik di Rembang.

Saat ditemui disela-sela pagelaran Jakarta Modest Fashion Week 2018 beberapa waktu lalu, Ketua Dekranasda Kabupaten Rembang, Hasiroh Hafidz, mengatakan akan menggandeng desainer Indonesia dalam memperkenalkan dan mengangkat nilai batik tulis Lasem.

Setidaknya ada empat desainer Indonesia yang akan terlibat antara lain Dian Pelangi, Median Zein, Anisa Hapsari, dan Sayee. Nantinya, keempat desainer akan menampilkan hasil rancangannya dengan batik tulis Lasem dalam rangkaian acara The Art of Rembang, yang akan digelar di Jakarta 27-28 September mendatang.

“Mereka akan merancang busana berbahan batik tulis Lasem yang cukup terkenal itu dengan paduan corak dan motif yang kekinian dan fashionable. Saya optimis event The Art of Rembang akan jadi barometer peningkatan kualitas batik tulis Lasem dan produk Rembang lainnya,” kata Hasiroh yang juga istri dari Bupati Rembang.

Tak hanya merancang busana, para desainer juga akan dilibatkan membuat corak batik tulis. Bicara tentang coraknya, ciri khas batik tulis Rembang memang didominasi warna merah, yang dipengaruhi budaya cina yang kental. Sebab Lasem adalah daerah pertama yang didatangi Cina di Nusantara.

Sehingga, ungkap Hasiroh, dengan terlibatnya desainer papan atas Indonesia, batik tulis Rembang kembali terangkat nilainya. Tentunya, tetap mempertahankan nilai sejarah dari batik di tengah gempuran batik cetak atau print.

“Melalui kegiataan The Art of Rembang ini, kami akan kenalkan batik tulis Lasem itu murah dan terjangkau. Sebenarnya batik itu semakin banyak pewarnaan semakin mahal, ini tulis semua kalau dari Lasem, harganya mulai Rp 100 ribu, 350 ribu, hingga ada yang Rp 500 juta, itu usianya sudah 50 tahun,” ujarnya.

Sekedar informasi, untuk meningkatkan keterserapan produk UMKM, pemerintah Kabupaten Rembang akan membuat event pagelaran kesenian Rembang dan expo atau pameran produk Rembang The Art Of Rembang di Jakarta.

Tujuan dari diadakannya The Art of Rembang ini adalah untuk mengenalkan potensi dan produk Rembang kepada warga Jakarta, masyarakat Indonesia, dan bahkan dunia. “Agar mereka semua tahu akan produk unggulan Rembang yang layak dipakai, digunakan dan dibeli sehingga pertumbuhan ekonomi akan pesat di Rembang,” tutup Hasiroh.

(ana/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up