alexametrics

Tertipu Rp8,8 M Akibat Ajakan Kerja Sama, Lucky Hakim: Itu Prosedural

17 Oktober 2020, 17:20:32 WIB

JawaPos.com – Lucky Hakim tergiur dengan penawaran kerja sama yang diajukan oknum PNS yang mengatasnamakan Kementerian Perdagangan. Lucky tergiur karena imbal hasil (keuntungan) investasi yang dijanjikan sangat menggiurkan, sekitar 20 persen dari modal.

Lucky Hakim percaya karena kop surat dan gedung yang digunakan adalah gedung kementerian. Bukan hanya tertera di dalam kertas, kata Lucky Hakim, meeting juga dilakukan di gedung kementerian dan terbuka. Semuanya seperti resmi dan prosedural.

“Jadi kami bukan tipikal orang-orang yang pengin cepat kaya dan rakus, pengin cepat kaya seperti pelihara tuyul, bukan. Jadi ini prosedural,” kata Lucky Hakim.

Orang lain yang juga kena tipu atas penawaran kerja sama cukup banyak. Menurut Lucky, dirinya mengalami kerugian sebesar Rp 8,8 miliar. Sementara orang lain ada yang kena tipu 4 miliar dan 8 miliar. Belum lagi dengan nominal kecil sekitar ratusan juta rupiah.

Lucky Hakim menegaskan orang-orang yang menjadi korban penipuan bukan lah orang bodoh. Justru mereka orang pintar. Mereka memercayainya karena surat-surat, kop dan gedung yang digunakan oknum adalah gedung kementerian. Anehmya lagi, kata Lucky Hakim, praktek ini dilakukan secara vulgar dan tidak terkesan sembunyi-sembunyi.

“Sebenarnya itu adalah sindikat. Suratnya aspal, asli tapi palsu. Formatnya, bentuknya, memang seperti asli, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa di situ. Tidak ada kas yang harus keluar dari kementerian, oknum menipu dan itu puluhan miliar,” paparnya.

Lucky Hakim mengungkapkan dua orang pelaku yang diduga telah menipu dirinya. Keduanya bernama Dini dan oknum PNS Kementerian Perdagangan, Muhammad Yusuf.

Aibat kasus penipuan yang dialaminya, perusahaan Lucky Hakim bangkrut dan belasan orang yang sempat bekerja di perusahaannya terpaksa dilakukan pemutusan hubungan kerja. Lucky Hakim sejatinya sedih harus memberhentikan mereka. Namun hal itu terpaksa dia lakukan karena dana perusahaan sudah terkuras habis.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Abdul Rahman




Close Ads