alexametrics

Kata Sahabat Terkait Wafatnya Seniman Djaduk Ferianto

13 November 2019, 10:56:03 WIB

JawaPos.com – Meninggalnya seniman serba bisa Djaduk Ferianto di usia 55 tahun membuat Agus Noor, sahabatnya di Teater Gandrik, terkejut. Pasalnya dia tidak pernah menduga Djaduk akan menutup lembaran hidupnya secepat ini.

“Ya sangat terkejut lah pasti,” ucap Agus Noor kepada JawaPos.com melalui sambungan telepon, Rabu (`13/11).

Menurut sepengetahuannya, Djaduk Ferianto tidak mengalami sakit serius sebelum menghembuskan napas terakhir. Tapi memang, Djaduk sudah harus berhati-hati kalau makan karena masalah kesehatan.

“Bukan karena sakit lama kemudian meninggal, enggak begitu. Dia (memang) mengalami persoalan kesehatan iya, makanya sudah harus hati-hati kalau makan. Tapi bukan sakit seminggu opname kemudian meninggal, enggak kayak gitu,” tuturnya.

Sayangnya, Agus Noor tidak sempat bercerita panjang karena sedang bersiap take off melakukan penerbangan. “Maaf ya saya sudah ditegur pramugarinya nih,” kata Agus yang sempat membuat pementasan bareng Butet Kertaredjasa dan Djaduk Ferianto bertajuk Para Pensiunan: 2049 di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada April 2019 lalu.

Kabar meninggalnya Djaduk Ferianto diperoleh JawaPos.com melalui sebuah pesan singkat. Dalam pesan tersebut juga dinyatakan bahwa Djaduk Ferianto akan disemayamkan di Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo, Yogyakarta. Djaduk akan dibaringkan dalam peristirahatan terakhirnya di pemakaman keluarga, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pada pukul 15.00 WIB.

“Disemayamkan di Padepokan seni Bagong. K. Dimakamkan pkl 15.00 di makam keluarga Sembungan, Kasihan Bantul. Pemberkatan pkl 14.00,” demikian potongan pesan yang diterima JawaPos.com.

Djaduk Ferianto lahir di Yogyakarta pada pada 19 Juli 1964. Ia berasal dari keluarga seniman. Ayahnya Bagong Kussudiardja adalah koreografer yang juga pelukis kenamaan Indonesia.

Semasa hidupnya, Djaduk sempat menjadi salah satu anggota kelompok musik Kua Etnika, musik humor Sinten Remen, dan Teater Gandrik. Selain bermusik, Djaduk juga menyutradarai beberapa pertunjukan teater dan menggarap ilustrasi musik untuk sinetron di televisi.

Djaduk diketahui sempat mendirikan Kelompok Rheze yang pada 1978 dan pernah dinobatkan sebagai Juara I Musik Humor tingkat Nasional. Djaduk juga sempat mendirikan Kelompok Musik Kreatif Wathathitha.

Pada 1995, bersama sang kakak Butet Kertaradjasa dan Purwanto, Djaduk mendirikan Kelompok Kesenian Kua Etnika yang merupakan penggalian atas musik etnik dengan pendekatan modern. Pada 1997, Djaduk mengolah musik keroncong dengan mendirikan Orkes Sinten Remen.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Abdul Rahman



Close Ads