alexametrics

Sengketa Kandank Jurank, Dik Doank Ketakutan Saat Putusan Dibacakan

5 April 2021, 17:01:06 WIB

JawaPos.com – Dedy DJ selaku pengacara presenter Dik Doank mengakui kliennya sempat dibekap perasaan takut dan cemas saat pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Tangerang berlangsung pada 31 Maret 2021 lalu. Bukan hanya Dik, dia dan tim kuasa hukum juga merasa ketakutan lantaran khawatir putusan majelis hakim tidak sesuai dengan harapan.

Untungnya dalam pembacaan putusan yang berlangsung selama sekitar satu jam, majelis hakim akhirnya memenangkan Dik Doank dalam sengketa tanah seluas sekitar 2.500 meter persegi tempat berdirinya Kandank Jurank di kawasan Tangerang, Banten.

Nervous banget, grogi, ketakutan, gelisah. Nggak enak lah lihat muka Om Dik waktu hakim membacakan putusan. Alhamdulillah di ending semua dalil gugatan para pengugat ditolak,” tutur Dedy DJ kepada JawaPos.com, Senin (5/4).

Usai mendengar putusan majelis hakim, tangis Dik Doank secara spontan langsung pecah saking bahagianya. Ia lega sudah ada kepastian hukum terkait tanah yang disengketakan selama lebih dari 2 tahun itu.

“Kita langsung amaze banget, kita spontan nangis, pelukan. Yang diucapkan Om Dik pada waktu itu, ‘Allah tidak tidur, Allah masih cinta Kandank Jurank, Allah masih cinta sama anak-anak. Ternyata perjuangan-perjuangan yang saya lakukan Allah kirimkan malaikat penolong buat Kandank Jurank Doank ,buat saya’,” tutur Dedy DJ menirukan perkataan Dik Doank ketika itu.

Majelis hakim memenangkan pihak Dik Doank aras pihak penggugat karena bukti-bukti yang dihadirkan ke persidangan menunjukkan bahwa tanah itu memang milik Dik Doank. Pihak Dik Doank juga berhasil menghadirkan saksi yang tahu betul dalam proses pembentukan markas Kandank Jurank termasuk proses terjadinya proses jual beli tanah.

“Para penggugat, menurut pertimbangan hakim, terlalu mengada- ngada. Mereka hanya memiliki letter C. Letter C kan semua tanah memang ada di desa. Namun apakah dijual atau tidak dibuktikan berupa sertifikat. Kan seperti itu menurut UU Pertanahan,” tutur Dedy.

Menariknya, tim pengacara yang membantu mengurusi sengketa tanah Kandank Jurank tidak dibayar. Mereka secara suka rela mau membantu Dik Doank supaya mendapatkan hak-hak yang seharusnya ia dapatkan setelah sempat digoyang oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai ahli waris.

“Saya tidak membayar para pengacara ini, tapi para pengacara ini membantu hak-hak anak. Ini bukan hak saya, tapi hak anak di Indonesia yang mau belajar di Kandank Jurank,” ucap Dedy DJ kembali menirukan perkataan Dik Doank.

Tanah yang disengketakan seluas sekitar 2.500 meter persegi dibeli secara bertahap dari sejumlah orang. Rinciannya, tanah seluas 600 meter persegi dibeli Dik Doank pada 3 Septmber 2003 dari Ade Lius; tanah seluas 615 meter persegi dibeli dari Edward Palandeng pada 25 Oktober 2002. Kemudian tanah seluas 330 meter dibeli dari Oey Sri Mulyani; dan 500 meter beli dari Arawita.

Polemik soal sengketa tanah seluas 2.500 meter persegi mulai bergulir sejak 2018 silam. Kala itu sejumlah orang meminta uang sebesar Rp 5,5 miliar karena mengaku sebagai pemilik tanah yang sah.

Buntut dari permasalahan itu, akhirnya pihak penggugat memasukkan gugatan terhadap Kandank Jurank dan Dik Doank secara resmi ke PN Tangerang pada 2020 dan gugatannya terdaftar dengan nomor Nomor 644 Perdata 2020. Dalam gugatan tersebut, Dik Doank digugat dengan nominal sebesar Rp 5,5 miliar oleh ahli waris Madi Kenin.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Abdul Rahman





Close Ads