JawaPos Radar

Begini Pandangan Kurniawan Tentang Skill Sepak Bola Anak Indonesia

25/03/2018, 08:10 WIB | Editor: Kuswandi
Milo Football Championship 2018
Peserta Milo Football Championsip 2018 (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pemain sepakbola legendaris, Kurniawan Dwi Yulianto kembali mendapat kesempatan menjadi Talent Scouting di ajang Milo Football Competition (MFC) 2018. Dari ajang inilah, Kurniawan dapat mengenal potensi anak bangsa di cabang olahraga sepakbola.

Kurniawan melihat anak-anak Indonesia punya potensi besar untuk maju ke dunia Internasional. Namun memang butuh semangat dan kerja keras, dikarenakan MFC diikuti oleh anak dengan jenjang umur 12 tahun ke bawah, maka akan butuh pelatihan khusus.

"Mungkin karena umurnya masih 12 tahun ke bawah ya dimana filosofinya itu belajar dan bersenang-senang jadi kita juga tidak bisa menekan mereka harus dibentuk seperti yang kita mau," terang Kurniawan kepada JawaPos.com, Sabtu kemarin (24/3).

"Tapi dari cara mereka bermain, talenta terlihat secara individu, karena yang dilatihkan pengayaan gerak, jadi memang kelihatan. Tapi dari visi bermainnya, yang jarang latihan bareng ya kurang terasah saja kerjasama timnya," tambahnya.

Namun, Kurniawan menjelaskan sebenarnya ada kelemahan dari permainan anak-anak, yaitu telat mikir dan kurang inisiatif dalam bermain. Sehingga, sebagai talent scouting, dirinya terus memacu dan menumbuhkan rasa tersebut dalam permainan anak-anak Indonesia.

"Maka dari itu, kita akan cari anak-anak yang punya inovasi dan inisiatif dalam bermain, sehingga mereka dapat bisa diandalkan baik secara individu dan tim," ujarnya.

Namun, lanjut Kurniawan, MFC tahun ini lebih ketat dalam seleksinya karena kriteria yang dilihat tidak hanya teknik dan skill di lapangan, tetapi juga karakter.

"Bukan hanya di bidang teknik dan skill lapangan ,jadi kita juga memilih dari semangat juang mereka dan kepercayaan diri mereka dan jiwa leadership saat di lapangan," ungkap lelaki berumur 41 tahun ini.

Kurniawan menambahkan, terutama saat di luar lapangan atau camp. Di sana, akan terlihat tingkah laku anak-anak yang bersaing dan itu akan memengaruhi penilaian. Untuk postur tubuh, tidak menjadi penilaian utama tetapi, ketika ada anak yang nilainya sama penentu ada pada hal tersebut.

Kurniawan dulu memiliki mimpi yang sangat sederhana yaitu masuk televisi, ke luar negeri, naik pesawat gratis dengan main bola, dan itu semua terwujud. Dirinya berharap anak-anak jaman now pun tidak takut dan ragu untuk bermimpi dan berjuang untuk meraihnya.

"Teruslah bermimpi karena suatu saat mimpi dapat jadi kenyataan dan dari mimpi itu akan terjadi motivasi yang akan bisa menyemangati diri kita bisa kerja keras dan berhasil," pungkasnya.

(rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up