JawaPos Radar

Pesona Sulam dan Bordir Tanah Minang Warnai Indonesia Fashion Week 2017

24/01/2017, 01:30 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Pesona Sulam dan Bordir Tanah Minang Warnai Indonesia Fashion Week 2017
Shafira Tampilkan Sulam dan Bordir Khas Bukittinggi (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Ajang Indonesia Fashin Week (IFW) 2017 bakal digelar di Jakarta Convention Center (JCC) mulai 1 Februari 2017 hingga 5 Februari 2017. Salah satu label busana muslim, Shafira berkontribusi sebagai pelaku aktif dalam industri kreatif di Indonesia.

Shafira bertekad memajukan industri mode dalam negeri, salah satunya melalui penyelenggaraan IFW 2017. Melalui ajang tahunan ini, Shafira memperkenalkan wajah Indonesia dengan citra positif kepada barisan terdepan industri fashion.

“Desainer dan pelaku industri kreatif lainnya harus terus mengkampanyekan gerakan cinta produk dalam negeri. IFW menjadi ajang strategis untuk mengajak masyarakat menghargai produk lokal berkualitas dengan bercita rasa global, hingga dapat menggiring imajinasi dan tumbuh rasa bangga terhadap karya asli buatan Indonesia,” kata Founder Shafira Corporation, Feny Mustafa dalam Konferensi Pers di Sudirman, Jakarta, Senin (23/1).

Perjalanan ke dataran tinggi nagari Andalas tanah Minang menginspirasi Shafira dalam ajang IFW 2017. Pesona kekayaan khas sulam dan bordir Bukit Tinggi, Sumatera Barat membuat pihak desainer jatuh cinta. Karena itu, pihaknya mengambil tema Bungo Nagari pada ajang IFW 2017..

“Terpilih kemudian menjadi koleksi yang memiliki karakter padu padan yang tinggi, menawan, yang bermuara pada kekayaan dan keindahan bordir khas kota Bukittinggi bercampur dengan gemerlap kristal aneka warna Swarovski yang mewah, sebagai benang merahnya,” jelas Feny.

Feny menambahkan, aneka jenis motif pada bordir dan sulam Bukittinggi sudah banyak dikenal luas di masyarakat, namun dari penelusuran Shafira dalam setahun ini, motif sulam bayang dan motif suji belum popular dibandingkan dengan motif lainnya. Keindahan motif sulam bayang terlihat dari bayangan motif yang dihasilkan dari teknik sulamnya, sedangkan sulam suji adalah sulam yang menghasilkan gradasi warna dimana pada motif motifnya terdapat sentuhan budaya dan motif sulam Tiongkok.

“Motif dan kedua jenis teknik sulam ini kami aplikasikan di seluruh koleksi. Kami sengaja menabrakkan warna pink, krem khas songket (coral) dan kuning Sumatera Barat (mustard),” kata Feny.

Pada IFW  2014, Shafira mencetak menjadi pelopor tren busana muslim sepanjang musim melalui pagelaran busana kelas dunia dengan rangkaian busana maha karya ultrafeminim “ La Dolce Vita” yang tetap berkesan ringan meski sarat detail. Tidak hanya busana,  inovasi kepraktisan pemakaian kerudung berbahan sifon yang sepertinya tampak rumit pengerjaannya tapi ternyata sangat ringkas menjadi pilihan menarik bagi para sosialita dan pecinta busana muslim masa itu.

Shafira mengusung tema Twenties Metropolis pada IFW 2016 menampilkan rancangan busana muslim elegan androgyny dari paduan kain songket silungkang dengan material ringan chiffon silk dan organza.  Sarung Majalaya bermetamorfosis menjadi koleksi busana berkelas dengan aplikasi border motif art deco bertabur Swarovski seakan menghidupkan gaya era 20-an yang sedang trend pada musim itu. (cr1/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up