JawaPos.com - Pandemi Covid-19 yang sudah mereda di tanah air membuat berbagai aktivitas masyarakat kembali berjalan normal, tak terkecuali di lingkungan kampus. Institut Kesenian Jakarta (IKJ) misalnya, kembali menggelar pertunjukan setelah sempat terhenti sama sekali selama kurang lebih 2 tahun belakangan. Sabtu (14/1) kemarin mengambil tempat di Teater Lowes, para mahasiswa semester 3 jurusan Seni Tari menggelar pertunjukan tari dengan dengan mengusung tajuk 'Nritya'.
Mereka menggelar pertunjukan tari berbasis tradisi yang diambil dari kebudayaan lokal tempat asal mereka. Ada yang mengangkat legenda Batu Gantung dari Sumatera Utara dalam pertunjukan tari mereka. Kemudian ada Sinta Ramun dari Sumatera Utara, Mitos Perempuan Dayak dari Kalimantan Timur, Kisah Nyi Mas Gamparan dari Banten, Ritual Adat Sedekah Laut dari Cilacap, Jawa Tengah, Legenda Dewi Durga dari Bali, dan Kisah Lala Bulan dari Sumbawa Nusa Tenggara Barat.
Meski pertunjukan mahasiswa, mereka tampil secara profesional layaknya petunjukan komersial bertiket. Mereka tampil dengan menggunakan busana khusus dan juga dilengkapi properti untuk menunjang penampilan panggung. Setiap kali selesai pertunjukan, para penonton yang merupakan sahabat dan keluarga dari para penampil langsung bertepuk tangan dengan antusias.
Penampilan dari para mahasiswa dan mahasiswi ini terlihat sudah sangat bagus padahal mereka baru semester awal. Anak Agung Rai Susila Panji, pengampu mata kuliah koreografi berbasis tradisi di IKJ mengatakan, pertunjukan kali ini merupakan ujian akhir semester dan baru gerbang awal bagi mereka dalam menciptakan karya koreografi.
"Masih ada 4 kali pertunjukan lagi buat mereka dari semester 4 sampai semester 7. Baru setelah itu masuk semester akhir, ada karya akhir," jelasnya saat berbincang dengan JawaPos.com.
Anak Agung Rai Susila Panji menyadari kualitas pertunjukan seni yang ditunjukkan para mahasiswa atau insan kampus sebenarnya tidak kalah dengan pertunjukan lain dalam industri. Namun terkadang yang membuat mereka berjarak dari industri adalah adanya perbedaan padangan terhadap nilai yang diemban.
Panji berpandangan, nilai-nilai yang diusung di dunia akademik dan industri tidak harus saling dibenturkan. Nilai di dunia pendidikan seharusnya bisa didekatkan dengan industri untuk era sekarang ini.
"Kesenimanan sesuai dengan nilai akademisnya belum selaras dengan industri ya. Ini mungkin yang perlu ke depannya didekatkan lagi supaya kebutuhan seniman tidak tergerus tapi selaras dengan industri. Kalau mau tetap eksis, mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan keadaan," katanya.
Menurut Panji, jurusan Seni Tari IKJ kini sedang bergerak untuk mengawinkan nilai kesenian di dalam kampus dengan industri yang kini sedang berkembang. Salah satu cara yang dilakukan dengan membuat mata kuliah khusus tari industri pada semester 5 yang sebelumnya tidak ada.
"Kita ajarkan mahasiswa bagaimana membuat karya yang sesuai dengan kebutuhan pasar sekarang, itu ada kelasnya tersendiri nanti. Kemudian di semester 6 ada koreografi digital. Memerlukan pemahaman tersendiri bagaimana menampilkan sebuah pertunjukan panggung dengan segala elemen panggungnya, ketika membuat karya yang direkam, membutuhkan pengetahuan tersendiri. Tentu saja tidak seperti saat main di panggung. Bagaimana membuat pertunjukan yang padat, isinya tidak hilang, idealismenya masih ada, itu butuh pengetahuan," paparnya.