alexametrics
Muda Menginspirasi

Jenahara: Tak Sekadar Bakat, Sukses Butuh Dedikasi dan Konsistensi

28 Oktober 2017, 12:00:05 WIB

JawaPos.com – Siapa yang tak mengenal Ida Royani, desainer, penyanyi dan aktris lawan main legenda Benyamin Sueb. Nah, bakatnya itu kini turun kepada sosok bernama Nanida Jenahara Nasution.

Di dunia fesyen, khususnya busana-busana muslim, nama Jenahara telah menjadi kiblat para desainer muda. Desainer pemilik label Jenahara Black Label ini merupakan penerus sang ibunda untuk menekuni dunia fesyen busana muslim (modest wear).

Perempuan kelahiran 27 Agustus 1985 ini, meyakini profesi desainer bukan sesuatu yang instan. Tentu harus ada proses belajar dan usaha.

Jenahara
Desainer Nanida Jenahara Nasution (Instagram)

Beruntungnya Jehan, begitu dia akrab disapa, memiliki darah desain dan seni yang mengalir dari orang tuanya.

“Saya sekolah desain tahun 2013 di Susan Budihardjo. Ada orang bilang, menjadi desainer adalah gift, seperti saya kebetulan hidup dan lahir dari ibu yang juga desainer. Dari kecil sehari-hari saya sudah sangat familiar dengan fesyen, pagelaran busana, dan pergi ke toko membeli bahan,” kata Jenahara kepada JawaPos.com.

Jenahara ternyata juga memiliki bakat dari sang nenek. Di zaman Belanda, nenek Jenahara merupakan seorang penjahit. Bukan hal yang instan bagi Jehan karena bakat dan ilmu yang dimilikinya bisa menjadi salah satu penggerak modest wear modern di Indonesia.

“Mungkin gift mungkin iya, ada sesuatu yang mengalir di darah saya. Tapi saya percaya bahwa itu butuh dedikasi dan konsistensi, orang harus mau bekerja keras, dan tawakkal terhadap Tuhan dan percaya bahwa semua bisa dikerjakan,” papar Jehan.

Perjalanan Jenahara dimulai pada tahun 2011 saat dia meluncurkan label Jenahara Black Label. Namun, sebetulnya konsep itu sudah digagasnya sejak tahun 2006, tepatnya ketika Jenahara menggagas kampanye bersama komunitas Hijabers Community Indonesia.

Setelah vakum karena menikah dan punya anak, Jenahara kini justru semakin melenggang dalam karirnya. Karyanya mendapat apresiasi tinggi dalam Jakarta Fashion Week 2018, yang tergabung bersama Australian Awards.

“Di Jakarta Fashion Week kali ini saya bergabung bersama Australian Awards sehingga menjadi juru bicara bagi Indonesia juga. Tema pakaian yang saya bawakan yaitu kekuatan perempuan saat di medan perang,” tutur Jenahara.

Jenahara percaya, tren modest wear akan semakin berkembang. Dari semula yang hanya dipandang sebelah mata, justru Indonesia saat ini menjadi pelopor tren hijab dengan pasar umat muslim terbesar.

Alhamdulillah semangat spirit saya untuk Indonesia, mewakili modest wear. Ini potensi yang Indonesia punya. Potensial banget dan banyak yang bisa dieksplor, saya punya andil dalam modest wear itu sendiri. Apapun yang saya lakukan gak lepas dari Indonesia. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa harumkan nama Indonesia lebih luas,” ungkap perempuan berdarah Batak itu.

Bicara soal ciri khas, Jenahara mengajak semua desainer muda untuk bisa jujur dan menampilkan apa adanya sesuai orisinalitas, sehingga karya yang dihasilkan mempunyai karakter dan kepribadian.

Jehan senang ketika dulu modest wear dianggap kuno, justru kini sudah menjadi tren hingga mancanegara.

“Bagaimana desainer harus menjadi otentik. Fesyen sudah menjadi bagian dari hidup saya. Indonesia memiliki muslim market terbesar populasi di dunia, enggak usah ngomong ke luar negeri dulu karena market kita saja besar banget. Makanya harus jadi tuan rumah di negara kita,” jelas Jenahara.

Dalam momentum Sumpah Pemuda, Jenahara berpesan kepada bibit-bibit baru untuk jangan pernah menyerah dan takut mencoba sesuatu yang baru. Milenial, kata dia, justru memiliki energi yang berapi-api untuk mengembangkan kreativitas.

“Saya percaya anak muda punya kesempatan banyak belajar. Jika salah atau gagal, itu sebagai pelajaran ke depannya, kerja keras dan konsisten bahwa kita bisa,” tandas Jenahara.

Editor : admin

Reporter : (ika/ce1/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:


Alur Cerita Berita

Lihat Semua

Close Ads
Jenahara: Tak Sekadar Bakat, Sukses Butuh Dedikasi dan Konsistensi