alexametrics

Chanda, Bungkus Isu Antisosial Akibat Teknologi dengan Candaan Segar

26 Maret 2019, 14:27:24 WIB

JawaPos.com – ‘Pak, Pak, nembangin, Pak e’. Kalimat berbahasa Jawa, yang berarti ‘Pak nyanyiin buat aku’ menjadi pembuka dalam pementasan Chanda, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (25/3).

Pementasan yang dibawakan oleh Teater Kuncup Mekar, Kudus, Jawa Tengah, itu kental dengan budaya Jawa. Mulai logat dalam dialog hingga properti yang dipakai oleh para pemain.

Berbicara terkait properti, teater yang berdiri sejak 1993 itu menampilkan ragam jenisnya. Di antaranya sarung, rebana, tali dari karet gelang, gedebok pisang untuk bermain pistol-pistolan, boneka barbie, dan dua kaleng bekas yang disambungkan dengan tali rafia.

Total ada 16 orang yang terlibat sebagai pemain. Mereka berperan sebagai anak kecil yang berusia sekitar 7–15 tahun. Lengkap dengan pakaian dan make-up seperti anak kecil dan remaja.

Chanda, Bungkus Isu Anti Sosial Akibat Teknologi dengan Candaan Segar
Anak-anak saat ini sudah tak lagi bermain permainan tradisional karena sibuk dengan gadgetnya. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

Salah seorang pemain Arfin Ahmad mengatakan bahwa Chanda menyuguhkan kisah yang mengangkat tentang kegelisahan anak era sekarang. Cuek, antisosial, dan mudah marah. Ketiga hal tersebut menjadi bahan yang menarik dalam pertunjukan Chanda.

Teknologi pun menjadi highlight dalam pertunjukan. Sebab, teknologi dinilai sebagai penyebab dari kondisi seosial seperti saat ini.

Melalui pengamatan dan melihat fenomena sekitar, perkembangan teknologi berperan kuat di dalam dinamika masalah anak-anak sekarang.

“Karena teknologi, semua menjadi mudah. Untuk bermain saja, anak hanya perlu duduk. Tidak usah berdiri atau bergerak,” kata Arfin.

Kegelisahan-kegelisahan dibungkus dengan halus. Misalnya, kegelisahan mengenai bagaimana game virtual menggempur anak-anak era sekarang. Arfin dkk menampilkannya dengan kemunculan satu leader actor yang marah karena bermain sendiri-sendiri dan tidak bermain bersama.

Ketika sang aktor mengajak bermain bersama-sama menjadi tokoh pahlawan super seperti power rangers dan hulk, justru para pemain menolak.

“Bermain game virtual lebih mengasyikkan daripada harus bermain bersama-sama,” sahut salah seorang pemain di atas pentas.

Chanda, Bungkus Isu Anti Sosial Akibat Teknologi dengan Candaan Segar
Kesibukan orang tua menjadi salah satu penyebab anak-anak terjebak dengan gadget. Sebab, orang tua yang tak peduli memberikan gadget agar anaknya tidak rewel. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

Selain kegelisahan mengenai anak-anak yang lebih dekat dengan gadget, ada hal lain yang juga ditampakkan. Yakni, tentang para orang tua yang sibuk dengan karir. Tidak memedulikan perkembangan buah hati.

Gadget menjadi sebuah hadiah yang membuat anak-anak diam. Dengan gadget, semua selesai alias tidak perlu repot.

Penikmat seni, Patricia menyatakan bahwa pertunjukan Chanda seperti menampar para orang tua yang melupakan perkembangan buah hati mereka.

Gadget bukan segalanya. Anak-anak jadi lupa tentang bagaimana cara mereka berinteraksi,” ucap perempuan 67 tahun itu.

Dia menyebutkan, teknologi menjauhkan yang dekat. Padahal, lanjut dia, teknologi harus mendekatkan yang jauh. Interaksi sosial menjadi kehilangan rohnya.

Editor : Novianti Setuningsih

Reporter : Dimas Nur Aprianto

Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Chanda, Bungkus Isu Antisosial Akibat Teknologi dengan Candaan Segar