alexametrics

Untuk Hormati Djaduk, Semua Harus Gembira

Ngayogjazz Pertama tanpa Penggagas Acaranya
17 November 2019, 14:39:58 WIB

JawaPos.com – Semestinya Ngayogjazz tahun ini berjalan sendu. Tiga belas tahun digelar, untuk kali pertama acara itu tidak dihadiri penggagas sekaligus pengisi acaranya, Djaduk Ferianto. Seniman musik kondang tersebut meninggal karena serangan jantung hanya tiga hari sebelum pertunjukan berlangsung di Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman, itu kemarin (16/11).

Sang kakak yang juga partner manggung Djaduk, Butet Kartaredjasa, meminta tak ada kesedihan. Semua yang datang harus gembira untuk pertunjukan yang kali ini juga menjadi tribute to Djaduk tersebut. ”Bersama nguntapke (simpati) Djaduk, jangan larut dalam kesedihan,” tutur Butet di panggung yang diberi nama Genteng itu.

Meski demikian, perasaan duka tetap terlihat dirasakan Butet. Tak ada guyonan renyah yang menjadi ciri khas keberadaannya. Suasana haru begitu terasa ketika Menko Polhukam Mahfud MD menceritakan kesannya tentang Djaduk.

”Setiap orang punya takdir tentang kematian. Kita semua hanya menunggu. Ibarat naik kereta, keretanya ada yang duluan, ada pula yang masih menunggu sekian lama. Tapi, pada akhirnya semua akan seperti Mas Djaduk. Seperti cerita Bu Petra tadi, Mas Djaduk sudah berangkat ke rumahnya yang baru,” ujar Mahfud menyebut nama istri Djaduk.

Mahfud mengatakan, meninggalnya Djaduk terjadi dengan indah. Berlangsung cepat dan tidak merepotkan orang lain. Hampir tidak ada keluhan apa pun. ”Tidak mudah orang meninggal, tapi tidak merepotkan orang lain. Ada orang yang mau mati saja nggak bisa, sulit dan merepotkan orang yang hidup,” ungkapnya.

Dari sudut pandang agama, jelas Mahfud, hal itu bergantung pada amalnya semasa hidup. Bagi Mahfud, Djaduk adalah orang yang ramah dan sopan. Ketika mengobrol, yang disampaikan memang lucu, tapi memiliki makna mendalam. Memiliki kesan baik yang mendalam itu juga menjadi salah satu alasan Mahfud menghadiri pembukaan acara tersebut kemarin sore. ”Orang yang suka menyenangkan orang, maka ketika akan meninggal, dia tidak akan merepotkan orang yang ditinggalkannya,” lanjut tokoh asal Madura itu.

Mahfud juga meminta keluarga yang ditinggalkan ikhlas dan bersabar menerima takdir kepergian Djaduk dalam usia 55 tahun tersebut. ”Apalagi, yang saya dengar selama ini, Butet itu dijaga betul oleh Mas Djaduk. Tetapi, justru yang menjaganya inilah yang pergi lebih dulu. Itulah takdir Tuhan,” tuturnya.

Namun, seperti memang benar-benar ingin membuat monumen yang indah untuk Djaduk, begitu seremoni pembukaan acara selesai, suasana berubah dengan segera. Semua gembira. Menuruti kata Butet, menyenangkan sang pembuat acara meski dia sudah menghadap Sang Pencipta. Ada tujuh panggung yang didirikan. Masing-masing diberi nama Molo, Empyak, Umpak, Saka, Blandar, Usuk, dan Genteng.

Satu per satu musisi tampil mengisi panggung-panggung itu. Dari komunitas jazz, musisi jazz dalam negeri, hingga undangan penampil dari beberapa negara seperti Baraka (Jepang), Eym Trio (Prancis), Arp Frique (Belanda), dan Rodrigo Parejo Quartet (Spanyol). Sementara dari musisi Indonesia antara lain ada Soimah-Didi Kempot feat Kua Etnika, Tompi, dan Dewa Budjana.

Ngayogjazz tak sama dengan konser musik pada umumnya. Semangat berbagi dan kebersamaan mendasari pelaksanaannya. Konsisten tak berbayar, Ngayogjazz mengajak pengunjung yang hadir membawa buku sebagai pengganti tiket masuk. Itu merupakan program Lumbung Buku hasil kerja sama dengan Komunitas Jendela Jogja.

Salah seorang Board of Creative Ngayogjazz Bambang Paningron mengungkapkan, Ngayogjazz 2019 mengangkat tema Satu Nusa Satu Jazz-nya yang terinspirasi dari lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Tema tersebut menunjukkan, meskipun berbeda-beda, Indonesia tetaplah satu dengan segala keberagamannya. ”Seperti halnya musik jazz yang dimainkan di berbagai daerah dan terdiri atas beragam alat musik, bila disatukan bisa menghasilkan harmoni yang indah,” jelasnya.

Ngayogjazz kali ini juga menghadirkan kolaborasi dengan berbagai instansi dan komunitas untuk memberikan pengalaman baru bagi pengunjung. ”Misalnya, ada Perkalin (Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia) untuk anak-anak, komunitas fotografi, serta Festival Bambu Sleman,” terang Bambang.

Ada juga satu program baru yang lahir dari gagasan almarhum Djaduk, yakni Museum Ngayogjazz. Berisi karya Djaduk yang berkisah mengenai musisi jazz zaman dulu yang dikemas dengan cara khasnya.

Ngayogjazz selalu diselenggarakan di pedesaan dengan melibatkan penduduk setempat. Tujuannya ialah menempatkan desa sebagai mitra yang mutual. Kepala Dukuh Kwagon Sukiman mengungkapkan, Ngayogjazz telah digelar di dusunnya dua kali. Yang pertama digelar pada 2016. Acara tersebut dinilai mampu memberikan dampak tersendiri bagi masyarakat. ”Mencakup sisi materiil dan imateriil,” ucapnya.

Dari sisi imateriil, Ngayogjazz dapat menyediakan sarana hiburan dan rekreasi. Baik bagi masyarakat setempat maupun pengunjung dari luar wilayah. Dari sisi materiil, masyarakat bisa memperoleh penghasilan tambahan dengan memanfaatkan animo pengunjung. Misalnya dengan menjajakan kuliner atau menyediakan jasa ojek jazz. Yakni ojek yang melayani pengunjung dan penampil. ”Karena jarak panggung dari parkiran bisa cukup jauh,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : cr16/nor/c9/ayi



Close Ads