Arawinda Kirana, Aktivis yang Pernah Tertolak

Pemeran Yuni dalam film Yuni
17 Oktober 2021, 14:36:52 WIB

Ara –sapaan akrab Arawinda Kirana– terbilang baru di industri perfilman. Sebelum Yuni, aktris yang terjun ke dunia seni peran dan tari sejak usia 6 tahun itu pernah membintangi film Quarantine Tales (2020) dan film pendek X&Y (2021). Juga, serial Angkringan the Series (2021) serta Serial Musikal Nurbaya (2021).

KEPADA Jawa Pos, peraih penghargaan Aktris Pendatang Baru Terpilih Piala Maya 2020 tersebut menceritakan sisi personal dan pengalamannya.

Nama Ara mulai lebih dikenal publik setelah membintangi film Yuni. Apa struggling moment yang telah dilewati?

Ketika masuk dunia industri di Indonesia, terdapat suatu standar kecantikan yang saya rasa kurang beragam. Dulu segmented dan pemeran utama film yang belum punya nama pasti dicari yang kulitnya putih, rambut panjang, dan lurus. Sedangkan, itu bertolak belakang dengan saya yang kulitnya sawo matang dan berambut keriting. Saya kerap tertolak ketika casting, sebelum akhirnya ketemu dengan Mbak Dini (sapaan akrab Kamila Andini, Red).

Apakah Ara ingin menjadi seorang aktris terkenal sejak kecil?

Populer atau tidak itu sama sekali nggak pernah saya pikirkan. Saya itu termasuk orang yang kalau berkarya ya memang karena suka untuk membuat karya. Sebetulnya, dulu saya tertarik jadi guru dan ngajarin anak yatim piatu bahasa Inggris, musik, tari, ataupun teater di daerah pelosok.

Semirip apa kepribadian Ara dengan Yuni?

Kami sama-sama punya impian besar, suka bermusik, dan nyanyi untuk diri sendiri. Yuni suka bermusik, tapi bukan untuk mencari sensasi. Begitu pun dengan saya. Kalau disuruh nyanyi depan publik atau bikin lagu, saya sangat nggak suka dengar suara saya sendiri. Termasuk pas di Serial Musikal Nurbaya. Saya juga menyanyi di film Yuni dan nggak suka dengar suara saya sendiri.

Pernahkah Ara merasakan atau berada dalam posisi yang sama seperti Yuni?

Dalam konteks kuliah. Jadi, saya berniat kuliah akting di Amerika. Saya merasa mentok di biayanya karena hampir diterima di institusi-institusi di Amerika. Sama seperti Yuni yang merasa terjebak di dalam isu-isu dirinya sendiri.

Bagaimana cara kamu menjiwai karakter Yuni?

Beberapa minggu sebelum syuting, saya melakukan homestay di sebuah desa di pelosok Serang, Banten. Saya tinggal bersama orang-orang di sana selama lima hari dan banyak nanya ke mereka mengenai dinamika kehidupan di sana, pacarannya gimana, dan prospek karier perempuan di sana. Terus, mengikuti aktivitas warga di sana, mulai bangun pagi jam 05.30 WIB, abis salat ke sawah ngegiring bebek, dan lainnya. Pokoknya hal-hal yang manusiawi supaya saya bisa memasuki jiwa warga Serang.

Kesan setelah Ara ikut terlibat dalam film Yuni?

Menurut saya, memerankan Yuni itu menjadi media tambahan, di mana saya bisa menyalurkan aspirasi-aspirasi dan harapan saya terhadap perkembangan kondisi sosial bagi manusia di Indonesia. Misalnya, hal-hal yang terkait HAM. Semoga film ini membuat banyak orang lebih sadar akan isu yang terjadi kepada perempuan dan laki-laki.

Apa aktivitas rutin Ara di luar dunia hiburan?

Saya juga aktif berorganisasi dan merupakan seorang aktivis. Saya suka berbicara di depan publik. Dulu di sekolah, saya jadi ketua OSIS, ketua tim debat, dan ikut Model United Nations (MUN). Saya juga punya satu komunitas yang mengangkat isu feminisme, diskriminasi, dan human right.

Kalau lagi nggak ada job, biasanya Ara ngapain?

Aku tipe traveler yang suka berpetualang, ke pantai atau naik bukit. Tapi, karena saya nggak kuat dingin, jadi lebih seringnya ke pantai. Pergi ke iklim-iklim yang hangat daripada ke gunung-gunung yang dingin. Saya suka masak juga. Hehehe.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : shf/c13/len




Close Ads