alexametrics

Tiga Pendekar Indonesia dalam Film Hollywood: Bawa Silat ke Mata Dunia

17 Agustus 2019, 13:01:58 WIB

NAMA Yayan Ruhian, Iko Uwais, dan Cecep Arif Rahman kian mendunia. Berawal dari mengenalkan pencak silat lewat festival bela diri Bercy Festival des Arts Martiaux di Prancis, ketiganya punya media baru untuk menyuguhkan pencak silat ke masyarakat dunia. Yakni, lewat film dan serial. Hasilnya, ada lebih banyak orang yang tertarik dengan aliran bela diri khas Indonesia itu. Termasuk para sineas dan aktor ngetop Hollywood.

Cita-Cita Seumur Hidup Yayan Ruhiyan

SEBELUM namanya melambung berkat peran sebagai Mad Dog di The Raid, Yayan aktif sebagai pesilat dan instruktur di Persatuan Silat Tenaga Dasar Indonesia (PSTDI). Setelah mengisi Bercy Festival des Arts Martiaux pada 2007, Yayan dan Cecep sempat tiga bulan tinggal di Prancis, menjadi pengajar silat untuk orang-orang di sana. ”Bahkan, yang sudah jago bela diri aliran lain pun tertarik dengan silat,” ujar Yayan saat dihubungi Jawa Pos Minggu siang (14/8).

Yayan Ruhiyan. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Yayan kagum dengan antusiasme yang diterima. Perbedaan budaya bukanlah hambatan berarti. Proses pengajaran berjalan lancar dan sukses. ’’Mereka dengan semangat mau menyerap ilmu bela diri baru,’’ tambah Yayan.

Kini, nama Yayan mulai dikenal sebagai aktor yang sukses menembus Hollywood. Terakhir, bersama Cecep, dia terlibat dalam John Wick 3, beradu peran dengan Keanu Reeves. Membawakan koreografi laga yang terinspirasi dari pencak silat. Yayan juga menggunakan bahasa Indonesia dan senjata tradisional kerambit. Reeves bahkan terkesan dengan gaya silat Yayan.

Sutradara Chad Stahelski dan tim koreografi laga memberikan ruang bagi Yayan untuk mengenalkan budaya Indonesia. ’’Kita patut berbangga budaya kita menarik perhatian filmmaker Hollywood,’’ ujar Yayan. Pria 50 tahun itu mengungkapkan, melestarikan silat adalah cita-cita seumur hidupnya. Yayan konsisten mengajarkan silat kepada generasi muda di Indonesia. ”Ini kan budaya Indonesia. Harus orang Indonesia yang menjaga dan mempertahankannya,” tandasnya. (*)

Iko Uwais Dapat Porsi Besar

NAMANYA sudah bolak-balik terpampang di berbagai film produksi mancanegara. Mulai Asia hingga Amerika Serikat. Terbaru, Iko berperan sebagai Tedjo di film Stuber. Dalam film yang dirilis akhir bulan lalu itu, Iko beradu peran dengan Dave Bautista.

Iko Uwais. (Marieska/JawaPos.com)

Bintang The Raid tersebut kebagian tugas sebagai pengarah koreografi laga. ’’Ternyata, Dave dan timnya mau banget kolaborasi dengan saya. Kehormatan juga buat saya karena di film ini dapat porsi yang besar,’’ kata Iko.

Selain Stuber, Iko membintangi serial Netflix, Wu Assassins. Saat ini serial tersebut tengah berlangsung. Selain aktor utama, Iko menjadi koreografer laga dan produser eksekutif. Tugasnya menangani hal-hal kreatif serial tersebut.

Dengan keterlibatan Iko yang juga menekuni silat di depan dan balik layar, dia jadi punya kesempatan untuk memasukkan unsur silat dalam film yang dibintangi. Semakin banyak orang yang mengenal pencak silat. ’’Semoga Indonesia makin punya tempat di kancah internasional, baik dari segi film maupun bela diri,’’ jelas Iko. (*)

Membentuk Jati Diri Cecep Arif Rahman

BAGI pria yang mendalami silat di Perguruan Panglipur Garut ini, pencak silat lebih dari sekadar bela diri. Ia adalah sebentuk budaya bangsa yang akan membentuk jati diri dan kepribadian. ”Mengajarkan bagaimana kita bisa bertahan dalam posisi aman ketika sedang menghadapi bahaya,” terang Cecep saat dihubungi Jawa Pos via pesan teks. Ketekunannya mengajar silat membawa Cecep ke luar negeri. Pada 2007, dia dan Yayan terlibat dalam Bercy Festival des Arts Martiaux di Prancis.

Cecep Arif Rahman (Imam Husein/Jawa Pos)

Sama dengan Iko dan Yayan, Cecep pun kini punya platform lain untuk mengenalkan pencak silat. Yakni, film. Saat terlibat di John Wick 3, Cecep punya ruang diskusi dengan sutradara untuk memasukkan unsur pencak silat. ’’Para filmmaker sudah sadar bahwa pencak silat setara dengan bela diri lain dalam hal kemampuan mengisi action di film,’’ kata Cecep. (*)

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : glandy burnama/ Debora Danisa/c7/c15/nor


Close Ads