alexametrics

Habibie-Ainun, Cinta yang Tak Bisa Dipisahkan Maut

12 September 2019, 11:33:44 WIB

JawaPos.com – Dalam dongeng, cinta sejati akhirnya menemukan jalan. Akhir bahagia tersebut jadi pemungkas cerita cinta Habibie dan Ainun. Bagi orang-orang terdekatnya, kepulangan Habibie ke rahmatullah adalah penutup kisah cinta yang penuh haru.

Salah seorang yang paling awal mengabarkan kepergian Habibie adalah Melanie Subono yang masih merupakan cucunya. ”Eyang… Sampai jumpa di keabadian… Senangnya dah bisa ngelepas kangen sama eyang putri, bisa berdua-duaan lagi,” tulisnya.

Bunga Citra Lestari alias BCL yang memerankan Ainun di film pertama Habibie & Ainun menyatakan, Eyang –panggilannya untuk Habibie– adalah sosok yang baik hati. Habibie pernah memuji, BCL selalu menyanyi dengan sepenuh hati. ”Terima kasih atas seluruh cinta, kebaikan, dan dukungannya. Betapa patah hati saya karena tidak berkesempatan bilang selamat tinggal. But you are in a better place right now… I love you Eyang,” tulis dia di Instagram.

Rasa kehilangan mereka mewakili simpati berjuta penduduk negeri. Habibie, terlepas dari posisinya di pemerintahan, merupakan teladan dalam perkara hati. Kesetiaannya kepada Ainun, yang lebih dulu berpulang pada 22 Mei 2010, menjadi kisah yang tak akan termakan zaman. 48 tahun 10 hari. Begitu Habibie selalu mengingat lama kebersamaan mereka. Nama Habibie dan Ainun adalah dwitunggal. Sebagaimana disebut dalam judul film (Habibie & Ainun) hingga nama wismanya di kawasan Patra Kuningan, Jakarta.

Cintanya tak pudar sedikit pun meski sang istri telah berpulang. Mengutip wawancara Jawa Pos untuk edisi ulang tahun ke-80 Habibie pada Juni 2016, kreator pesawat N-250 Gatotkaca itu tidak pernah meninggalkan atau merasa ditinggalkan Ainun. ”Cinta saya dan Ainun tidak bisa dipisahkan maut. Cinta yang bahkan maut pun tidak bisa memisahkan itu hanya mungkin terjadi kalau Anda kecipratan atau diberi cinta Ilahi,” ucapnya.

Rasa cinta Habibie tak sekadar ucapan. Setelah Ainun meninggal, Habibie mengganti momen berdua lewat kunjungan rutin ke makam sang istri di TMP Kalibata. Tiap Jumat pagi. Dengan baju koko, syal, dan untaian tasbih yang sama. ”Pakaian semua Ainun yang pilih,” lanjutnya.

Habibie juga merawat kisahnya lewat cerita. Menulis segala tentang sang istri bak obat. Walau kadang diiringi tangis, Habibie terus berusaha menulis. ”Itulah obat di mana dia mencurahkan kerinduan dan rasa cintanya,” ucap Adrie Subono, keponakan Habibie.

Cinta Habibie kepada Ainun dibagi tidak hanya dalam cerita. Setidaknya, hingga kini, ada dua film dari sekuel Habibie & Ainun yang menceritakan kisah tersebut. Bahkan, di bagian ketiga –Habibie & Ainun 3– giliran Ainun muda yang bercerita.

Sosok itu diperankan Maudy Ayunda. Dalam wawancara di kanal YouTube MD Pictures, Habibie menjelaskan, dirinya melihat Ainun dalam diri Maudy. Keduanya sama-sama introver. Pandai, tetapi tidak terlalu terbuka kepada banyak orang. Sama-sama pandai menyanyi. Keduanya juga mahir bermain alat musik. ”Dan ini mungkin kebetulan ya, bentuk matanya juga hampir sama,” ucap Habibie.

Kisah Ainun muda tersebut dijadwalkan tayang pada akhir tahun ini. Pihak MD Pictures sudah merencanakan rilis poster dan trailer kemarin (11/9) pukul 19.00. Mereka sudah mengunggah pengumumannya di media sosial. Namun, rencana tersebut ditunda. Sejam sebelum rilis poster dan trailer, Habibie berpulang.

Manoj Punjabi, bos MD Entertainment yang memproduseri ketiga film Habibie dan Ainun itu, bercerita bahwa dirinya kali terakhir bertemu Habibie pada Minggu (8/9). ”I’m not fine.” Demikian kata Habibie kepada Manoj yang membesuknya di RSPAD Gatot Soebroto.

Menurut Manoj, meski lemah, Habibie tampak excited ketika berbicara soal trailer film Habibie & Ainun 3. ”Happy banget. Saya takut karena beliau enggak boleh terlalu excited,” ujarnya.

Rasa senang Habibie saat menonton trailer film itu mengingatkan Manoj dengan perasaannya ketika Habibie mau kisahnya difilmkan. Dia mengenang peristiwa 30 Desember 2010. Saat itu Manoj di London. Setelah beberapa kali merayu Habibie, dia akhirnya mendapat kabar bahagia. Habibie meneleponnya. ”Sudah baca buku saya belum (buku Habibie & Ainun, Red)?” kata Manoj menirukan ucapan Habibie.

Manoj mengaku belum membacanya. Habibie lantas menawarkan untuk mengirimkan bukunya ke London lewat adiknya, Fanny, yang saat itu menjadi duta besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Manoj menolak karena hendak kembali ke Indonesia. Sesampai di Indonesia, Manoj membaca buku itu. Langsung jatuh cinta dengan satu kalimat, Ainun, cantiknya! Kok gula jawa jadi gula pasir. Kalimat itu merupakan ekspresi Habibie atas perubahan Ainun yang dulu dia sebut gendut menjadi gadis cantik. ”Saya enggak bayangkan baca itu di 2010. Begitu cintanya beliau dari muda. Dari situ saya sudah ada bayangan gimana film itu,” ujar Manoj.

Selama produksi film, Manoj mengaku Habibie tidak sekali pun rewel. Dia selalu memercayakan seluruhnya kepada Manoj dan kru film lainnya. ”Apa pun yang saya lalukan demi kebaikan Pak Habibie. Beliau seperti ayah, enggak mungkin saya mau buat sesuatu yang beliau tidak happy,” terang Manoj. Hal itu pun diakui Hanung Bramantyo, sutradara film tersebut. ”Beliau sudah pasti menangis setiap selesai nonton filmnya,” kata dia dalam acara bincang-bincang Mata Najwa tadi malam.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fam/adn/c10/ayi

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads