JawaPos Radar

Mendaki 7 Puncak Tertinggi Dunia

Sulitnya Perempuan Mendapatkan Izin Mendaki Gunung

07/07/2018, 11:45 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari berhasil menjadi kebanggan orang tuanya karena berhasil menaklukan 7 puncak tertinggi di dunia. (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share this

JawaPos.com - Mendaki gunung adalah kegiatan luar ruangan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang kuat. Umumnya, kegiatan tersebut dilakukan laki-laki. Namun, di zaman ini, perempuan pun telah banyak yang menggeluti hobi tersebut.

Akan tetapi, anggapan orang dulu, dan kebanyakan orang tua masih tabu tentang putrinya yang menyukai kegiatan petualangan itu. Naluri ibu yang penuh rasa khawatir kebanyakan mencegah putri-putrinya untuk mendaki gunung.

Apalagi, jika gunung yang hendak didaki bukan terletak di negeri sendiri. Mendapatkan izin mendaki dari orang tua pun menjadi rintangan pertama yang harus dilalui Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, dua mahasiswi Universitas Parahyangan (UNpar) yang akhirnya berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi dunia, Everest.

Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Hilda dan Dede di Puncak Denali (6.190 mdpl). (Istimewa for JawaPos.com)

"Sebelumnya pasti susah dulu (izinnya). Kalau saya udah kuliah bukan izin lagi, tapi pemberitahuan. Karena pas masuk Mapala juga saya sempat nggak diizinin kan, tapi tetep masuk karena pengen banget. Ya, udah nekat aja," kata Mathilda pada JawaPos.com belum lama ini.

Nekat dalam pengertian dara yang akrab disapa Hilda ini bukan berarti tanpa persiapan. Bekal ilmu dan kekuatan fisik telah dipelajarinya jauh-jauh hari sebelum mantap mengikuti seleksi proyek pendakian ke 7 puncak gunung tertinggi di dunia.

"Sebenarnya, nekatnya juga bukan nekat yang nggak tahu apa-apa. Di Mahitala juga diajarin cara bermain alam bebas yang aman dan nyaman. Sempat disuruh mundur sama orang tua, tapi aku tetep ngotot dengan segala tekad aku yakinin bahwa kuliah dan kerjaan ada jalannya, dan sekarang akhirnya orang tua bangga," paparnya.

Tak berbeda dengan Hilda, Fransiska Dimitri (Dede) juga mengalami hal yang sama. Perizinan orang tua bukanlah hal yang mudah untuk ditembus. Meski kebanyakan keluarga adalah anggota pecinta alam.

"Kalau saya dari keluarga pecinta alam semua. Kecuali mama, agak susah (izin) tapi papa iya (mengizinkan), jadi beliau bisa bantu mama ngerti. Ngasih restu iya, cuma agak ngeri. Apalagi waktu itu ada film Everest keluar kan," jelas Dede.

Sang Ibu pun memilih untuk tidak menonton karena takut. Hingga akhirnya dia terpaksa memberi restu demi keselamatan anaknya.

"Waktu itu pada nonton Everest (film), mama nggak mau tapi, katanya daripada setelah nonton nggak izinin. Tetap ada harap-harap cemas cuma ya ngerestuin akhirnya, kalau nggak takut kenapa-kenapa di jalan kan," tukasnya.

Tetapi, akhirnya keduanya berhasil membuat orang tua masing-masing bangga karena putri mereka berhasil menaklukan 7 puncak tertinggi di dunia. Tak hanya itu, Hilda dan Dede berhasil membuat Indonesia bangga karena sang saka merah putih berkibar di 7 puncak tertinggi tersebut.

(yln/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up