JawaPos Radar

Mendaki 7 Puncak Tertinggi Dunia

Pup atau Kotoran Harus Dibawa Turun Atau Diusir dari Benua Antartika

07/07/2018, 14:50 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari saat menceritakan kisahnya mendaki 7 puncak tertinggi di dunia pada JawaPos.com. (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share this

JawaPos.com - Salah satu hal yang harus diperhatikan saat mendaki gunung di luar negeri adalah disiplin dan tertib. Sebab, pemerintah setempat biasanya sangat memperhatikan keseimbangan alam negaranya. Itulah yang dialami dua mahasiswi asal Universitas Parahyangan (Unpar) yang berhasil menaklukan 7 puncak gunung tertinggi di dunia, Fransiska Dimitri dan Mathilda Dwi Lestari.

Keduanya diwajibkan membawa turun sampah yang dihasilkan selama perjalanan menuju puncak 7 gunung tertinggi di dunia. Termasuk, tinja atau kotoran pribadi yang dikeluarkan selama mendaki harus dibawa turun menuju base camp awal.

"Waktu di Antartika (Vinson Massif) itu ketat banget. Jadi, kita itu dikasih plastic bag. Isinya, kalau kita mau buang air besar masukin situ dulu. Nanti di base camp baru dikumpulin, dikeluarin dari si benua itu. Dari benuanya. Antartika itu harus bersih banget," cerita Mathilda pada JawaPos.com, belum lama ini.

Mathilda Dwi Lestari
Mathilda Dwi Lestari menyebut kotoran pribadi harus dibawa turun saat di Antartika atau didenda dan diusir dari benua. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Sementara itu, lanjut mojang yang akrab disapa Hilda ini, untuk buang air kecil dan air kotor lainnya disediakan lubang-lubang khusus yang biasanya disebut pee hole. Namun, selain dilubang itu tidak boleh buang air kotor sembarangan.

"Kalau misalnya belum ketemu pee hole-nya ini, harus pipis dulu ditampung di botol baru dibuang ke situ. Semua sampah harus dibawa balik lagi. Dari guide-nya sendiri pasti kena sanksi kalau ada sampah tercecer," imbuhnya.

Bahkan, Hilda mengatakan ada denda jika para pendaki tidak menyetor poo bag (kantong kotoran pribadi) saat kembali ke base camp awal. Tak tanggung-tanggung, pendaki yang tidak menyetor kantong sampahnya bisa didenda sebesar USD 300 dolar atau setara Rp 4 juta.

"Kalau misalnya poo bag nya itu, nggak kita kasih ke base camp, kita juga bisa kena sanksi. Karena nggak mungkin meninggalkan camp seminggu tapi nggak buang air besar. Sanksinya bayar USD 300," papar hilda yang dibenarkan oleh Fransiska Dimitri.

Beda di Antartika dengan benua Afrika. Mendaki gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro ada aturan khususnya. Para pendaki tidak boleh membawa botol minum plastik. Pemerintah setempat ingin menjaga gunung mereka tetap alami dan bersih dari kotoran plastik.

Menurut Hilda, jika tertangkap membawa botol minum plastik ketika mendaki di Kilimanjaro maka langsung kena sanksi masuk daftar hitam pendaki. Sehingga, tak bisa lagi mendaki ke sana.

"Waktu itu di Kilimanjaro, kita nggak boleh bawa botol minum plastik. Guide-nya juga nggak boleh. Karena kalau ketahuan dari pihak taman nasionalnya, guide-nya sendiri juga yang akan kena sanksi," pungkasnya.

Pengalaman berharga tersebut diharapkan Hilda dan Dede bisa ditiru oleh pengelola taman nasional di Indonesia. Dengan harapan, semua gunung yang ada di tanah air bersih dari sampah.

(str/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up