JawaPos Radar

Jalan 14 Km dengan Beban Lebih dari 30 Kg, Demi 7 Puncak Tinggi Dunia

07/07/2018, 09:10 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari harus menjalani latihan fisik yang padat sebelum mendaki Everest. Salah satunya, berjalan dengan membawa beban lebih dari 30 kg. (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share this image

JawaPos.com - Menyelesaikan pendakian ke-7 puncak tertinggi di dunia bukanlah hal yang mudah buat dua mahasiswi asal Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari.

Bahkan, keduanya harus rela menunggu selama 4 tahun untuk melengkapi tujuh puncak tersebut. Ditambah lagi, ekstra keras pun dilakoni dua perempuan muda yang tergabung dalam The Woman of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU) tersebut.

Dalam wawancara khusus bersama JawaPos.com, belum lama ini, Fransiska Dimitri mengungkapkan bahwa mereka harus berjalan kaki mengangkut beban berbobot 30 kilogram lebih sebelum mendaki Denali.

Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Latihan fisik menjadi menu Hilda dan Dede setiap hari jelang pendakian ke puncak Everest. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

"Jadi, buat latihan seven summits tuh, kita jalan dari pasar Lembang ke Tangkuban Perahu bawa beban 24 kilo sambil narik ban yang beratnya 10 kilo, ban truk gede itu, yang kalau kena aspal bebannya jadi kaya 16 kilo karena gaya tariknya," ungkap dara yang akrab disapa Dede itu.

Total 34 kilogram dibopong masing-masing, lanjutnya, demi kesiapan fisik menghadapi medan berat di gunung es. Latihan angkat berat itu pun dilakoninya tiga hari berturut-turut.

"Jalan kaki bawa beban itu 3 hari pertama berturut-turut. Hari pertama 6 jam, hari kedua 7 jam, hari ketiga 8 jam, dan hari ketiga sampai 10 jam," sambung Mathilda.

Selain angkat beban, dara yang akrab disapa Hilda itu mengatakan bahwa menu wajib latihan keduanya adalah marathon gunung-gunung di Jawa Barat. Di antaranya, Cikuray, Ceremai, dan Burangrang.

"Kita naik gunung juga pasti, seminggu dua kali, di Cikuray, Ceremai, Burangrang. Sekali naik dua kali bolak-balik, lari," lanjut Hilda.

"Latihan biasa, lari pasti. Ada yoga juga biar rileks dan nggak kaku. Renang juga, naik gunung pasti. Makanya, kalau kita latihan naik gunung di Jawa Barat itu kurang bisa menikmati, karena dipakai latihan kan, ada target waktunya," imbuh Dede.

Diketahui, mereka berangkat Kamis (29/3) malam, untuk mendaki Everest. Pada Minggu (1/4), mereka bertolak ke Dunche, kota di atas gunung yang tepatnya berada pada ketinggian 2.030 meter di atas permukaan laut (mdpl) untuk melakukan proses aklimatisasi atau penyesuaian tubuh pada ketinggian tertentu. Kemudian, melanjutkan perjalanan menuju danau Gosaikunda (4.380 mdpl) yang memakan waktu enam hari perjalanan.

Dalam perjalanan panjang itu nantinya akan ada tiga titik pemberhentian, yakni di Shin Gompa (3.330 mdpl), Laurebina (3.950 mdpl) dan terakhir Gosaikunda (4.380 mdpl). Hingga akhirnya mencapai puncaknya diketinggian 8.848 mdpl.

Sementara itu, 7 puncak gunung tertinggi di dunia yang didaki keduanya, yaitu Gunung Cartensz Pyramid (4.884 mdpl), Gunung Elbrus (5.642 mdpl), Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl), Gunung Denali (6.190 mdpl) dan Everest (8.848 mdpl).

(yln/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up