
Carlo Saba dibaringkan di tempat peristirahatan terakhir di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.
JawaPos.com - Pemakaman salah satu vokalis Kahitna, Carlo Saba, dilaksanakan pada Jumat (21/4) di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan. Sejumlah personel Kahitna seperti Yovie Widianto, Mario Ginanjar, dan yang lainnya turut hadir ke pemakaman untuk mengantarkan sekaligus memberikan penghormatan terakhir.
Mengenang Carlo Saba, Yovie Widianto mengatakan bahwa almarhum banyak memberikan warna pada grup musik Kahitna. Selain lewat kualitasnya vokalnya yang elegan, Carlo Saba juga memberikan warna mendorong terjadinya kekompakan dan selalu terciptanya semangat kekeluargaan.
"Banyak orang bilang saya komposer atau produser lagu-lagu Kahitna. Lagu-lagu itu tidak akan pernah lengkap tanpa kekuatan cinta dari Carlo, Hedi, Mario, dan teman-teman semua," kata Yovie Widianto di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.
Dia mengungkapkan saat membuat grup musik Kahitna di tahun 1980-an, tidak menyangka akan bisa sukses dan sebesar sekarang. Prosesnya juga tidaklah mudah. Banyak asam garam yang dilalui bersama Carlo Saba dan yang lainnya.
Yovie Widianto mengenang, dulu dirinya bersama Carlo dan yang lainnya pernah pergi dari Bandung ke Jakarta menyodorkan diri bergabung dengan perusahaan rekaman. Namun sayangnya usaha tersebut sempat berujung pahit karena berbuah penolakan.
Setelah lagu-lagu penuh cinta meledak, Kahitna baru punya tempat. Dan tempat yang paling indah bagi Yovie ketika grup musik yang digawanginya mendapat tempat di hati banyak orang.
Menariknya, personel Kahitna tetap kompak dan mampu bertahan di industri musik tanah air selama puluhan tahun. Yovie Widianto menyebut hal tersebut tidak lepas dari semangat kekeluargaan yang berusaha terus dirajut oleh Carlo Saba dan personel lainnya.
"Kita tidak sangka bisa berjalan 36 tahun lengkap dengan 9 orang. Kita bersyukur tidak ada masalah yang gimana-gimana ya. Di luar konteks ngeband, kita juga sebagai sebuah keluarga," kata Yovie.
Seperti diketahui, Carlo Saba meninggal dunia pada Rabu (19/4) malam di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan. Dia meninggal di usia 54 tahun setelah sempat berjuang melawan penyumbatan jantung yang dialaminya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
