alexametrics

Pemilu Usai, Sektor Properti Diharapkan Bisa Kembali Bergairah

24 April 2019, 16:30:55 WIB

JawaPos.com- Kelesuam sektor property yang telah berlangsung sejak 2017 diharapkan pulih tahun ini. Sukses penyelenggaraan pemilu serentak diharapkan bisa memberi optimisme baru pelaku industri.

Pelaku pasar yang sebelumnya cenderung mengambil sikap menahan diri atau wait and see diharapkan mulai kembali melakukan investasi seiring dengan terbentuknya pemerintahan yang baru.

Analis Indef Bhima Yudhistira mengatakan, industri properti hunian yang menyasar kelas menengah atas maupun investasi kembali bergairah. Pasalnya masa-masa kecemasan domestik telah berakhir setelah pemilu selesai.

“Jadi ada optimisme masa-masa terburuk dari sektir properti yaitu dari tahun 2017 bisa terlewati kita masuk dalam masa pemilihan. Memang masa recovery ini harus dipercepat dan insentif,” ujarnya kepada jawapos.com, Rabu (24/4).

Direktur PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) Hermawan Wijaya mengatakan, rasa optimisme terhadap target tersebut akan tercapai melihat kondisi pasar properti Indonesia yang mulai menggeliat di tahun ini.

“Kita confidence capai target, waktu masih tersisa beberapa bulan, kemungkinan (marketing sales) bisa lebih dari yang kita targetkan. Tapi sampai sekarang kita belum mau rubah target kita,” tuturnya.

Menurut Hermawan, kondisi pasar properti tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, meski hingga saat ini para investor masih belum mau mengambil resiko untuk berinvestasi. Namun, pasca pemilihan Presiden, pihaknya meyakini investor akan mulai bergerak untuk melakukan investasi.

“Kita llihat setelah kuartal dua baru lihat apa hasilnya. Baru kita review dan lihat target kembali,” jelasnya.

Bhima memandang, pasar properti yang todak terlalu berdampak dengan adanya pemilu maupun semtimen suku bunga adalah kelas menengah kebawah atau Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)

“MBR di bawah Rp 300 juta karena memang antara permintaan dan kebutuhan masih ada selisih cukup banyak. Banyak keluarga baru dari kelas bawah ingin memiliki rumah di luar Jabodetabek ternyata peminat cukup besar,” tuturnya.

Menurutnya, banyaknya program pemerintah FLPP subsidi, pelonggaran LTV dan suku bunga kredit yang spesial dari bumn untuk MBR ini. “Jadi harapannya bisa terus berlanjut,” imbuhnya.

Perusahaan plat merah yang berfokus pada pembiayaan perumahan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terus mendorong realisasi program satu juta rumah sebagai agen yang terus berusaha menjangkau masyarakat untuk memiliki rumah yang terjangkau.

Direktur Utama BTN Maryono menyampaikan, hingga kuartal I tahun ini, pihaknya telah menyalurkan kredit perumahan untuk 207.317 unit rumah atau senilai Rp 22,65 triliun.

“Jumlah unit tersebut terdiri atas 150.064 unit rumah KPR Subsidi senilai Rp 9,62 triliun dan 57.253 unit KPR Non-Subsidi senilai Rp 13,02 triliun,” ujarnya di Kantornya, Selasa (23/4).

Menurutnya, realisasi ini setara 25,91 persen dari target unit yang ditetapkan perseroan pada 2019. Adapun, pada akhir 2019 nanti, BBTN mengincar dapat menyalurkan kredit perumahan untuk 800.000 unit rumah.

“Kami terus berkomitmen mendukung Program Satu Juta Rumah. Kami yakin dengan langkah ekspansif dalam memacu kredit akan mampu mencapai target Program Satu Juta Rumah yang mencapai 800.000 unit pada akhir tahun nanti,” tuturnya.

Bhima menyampaikan, tantangan program satu juta rumah MBR yang paling penting pengadaan lahan. Pasalnya, 30 persen total dari pembiayaan adalah pembelian lahan.

“Kalau kita lihat banyak aset bumn maupun pemerintah pusat dan daerah yang tidak produktif itu bisa diubah menjadi kawasan properti atau hunian Khusus masyarakat yang berhak mendapatkan subsidi,” ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, dengan bekerjasama dengan swasta. Karena selama ini insentif swasta untuk mendirikan rumah MBR masih sangat kecil.

“Harapannya paket tax alowance dan tax Holiday kemudahan perizinan bisa diberikan oada pengembang swasta. Masalah lahan dan insentif regulasi,” katanya.

Terakhir, kata Bhima, didorong dengan pembiayaan dari pengembang itu sendiri. Pasalnya, selama ini para developer kesulitan mendapatkan pembiayaan yang murah.

“Harapannya bank BUMN bisa memberikan prioritas juga bagi para pengembang rumah yang murah selain BUMN itu sendiri.  Swasta harus dapat keringanan bunga murah juga sebagai penembang,” tandasnya

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Romys Binekasri



Close Ads