JawaPos Radar

Minim Gunakan Komponen Impor, Sektor Perumahan Lebih Tahan Krisis

20/08/2018, 19:38 WIB | Editor: Mochamad Nur
Minim Gunakan Komponen Impor, Sektor Perumahan Lebih Tahan Krisis
Ilustrasi rumah menengah bawah siap huni (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Di tengah hantaman pelemahan nilai tukar rupiah, sektor perumahan diharapkan bisa menjadi sektor penggerak bagi kebangkitan perekonomian di dalam negeri.

Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Dasuki Amsir mengatakan Sektor perumahan tidak berimbas, karena hampir semua komponen terkait pembangunan perumahan umumnya berasal dari industri lokal dan transaksinya menggunakan rupiah. Dampak pelemahan rupiah akibat gejolak krisis global, katanya, lebih banyak ke sektor yang komponen impornya besar.

“Sektor perumahan masih kuat dan minim terdampak ekonomi global karena hampir seluruh elemen untuk pembangunan masih menggunakan produk dalam negeri," kata Dasuki dalam siaran pers di Jakarta Senin (20/8).

Dasuki menambahkan, Indonesia sudah pernah mengalami masa krisis ekonomi seperti terjadi pada tahun 1998 dan tahun 2008. Pada masa krisis seperti itu, sektor perumahan khususnya menengah bawah tetap jalan dan menjadi motor penggerak pembangkit perekonomian.

"Ini karena pebangunan perumahan itu terkait langsung dengan lebih dari 117 industri. Pembangunan perumahan bergerak, maka 117 industri terkait dari hulu ke hilir juga akan bergerak dan ini berujung pada ekonomi nasional," tambahnya.

Menurut Dasuki, karena fokus bisnis Bank BTN pada pembiayaan sektor perumahan dan industri turunannya, maka krisis global yang terjadi saat ini tidak secara signifikan berimbas pada bisnis perseroan.

“Kalau rumah subsidi tidak ada konten dari luar karena hampir semuanya lokal, jadi demand tetap kuat artinya Bank BTN tidak terlalu pengaruh asal kita fokus pada bisnis perumahan,” jelasnya.

Dasuki menjelaskan, dengan fokus pada bisnis perumahan, membuat kinerja keuangan BTN dalam lima tahun terakhir selalu positif. Bahkan, dalam ajang Infobank Award 2018 tersebut, BTN meraih penghargaan Platinum Award atau Bank berkinerja sangat baik selama sepuluh tahun berturut-turut.

Berdasarkan kinerja Bank BTN Semester I 2018, menurut Dasuki dengan asset BTN yang sebesar Rp268 triliun, maka jumlah tersebut telah naik 104% dibandingkan total aset pada tahun 2013 yang hanya Rp131 triliun.

Untuk penyaluran kredit juga sudah naik lebih dari 100% dari Rp100 triliun pada 2013 menjadi Rp211 triliun pada semester I/2018. Sedangkan untuk total dana pihak ketiga (DPK) juga melonjak signifikan dari Rp96 triliun pada 2013, kini pada akhir Juni 2018 angkanya sudah mencapai Rp189 triliun.

“Setiap tahunnya pertumbuhan bisnis BTN selalu di atas rata-rata industri. Maka wajar kita mendapatkan penghargaan bank yang berkinerja terbaik dalam sepuluh tahun terakhir tersebut,” pungkasnya.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up