Susahnya Kaum Milenial Beli Rumah

Ini Penyebab Kelompok Bergaji Rp 10 Juta/Bulan Tak Bisa Bayar Cicilan

15/05/2018, 16:17 WIB | Editor: Mochamad Nur
Ilustrasi perumahan menengah yang marak dibangun di sejumlah kota (Dok.Jawa Pos)
Share this

Jawapos.com - Bagi kaum milenial yang baru bekerja, mencicil rumah mungkin masih jadi kebutuhan nomor sekian. Di samping karena masih tinggal dengan orang tua, alasan mahalnya biaya down payment (DP) jadi momok tersendiri yang membuat milenial tak mampu membeli rumah. Padahal rumah merupakan salah satu barang yang harganya terus naik secara linier, berbeda dengan barang lain seperti motor, bahkan mobil.

Namun, ada fakta mencengangkan dibalik tingginya biaya DP yang harus dikeluarkan ketika milenial akan membeli rumah. Kemampuan membayar DP kaum milenial, sering dikaitkan dengan penghasilan. Faktanya, ada juga kaum yang menamakan diri mereka sebagai Gen Y yang berpenghasilan di atas Rp 10 juta namun tidak mampu membayar DP rumah. Apa alasannya?

Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung membeberkan golongan berpenghasilan di atas Rp 10 juta tak mampu membayar DP lantaran terjebak dalam “lilitan utang”. Utangnya pun bukan mobil atau jenis barang produktif lainnya.

ountry General Manager Rumah123, Ignatius Untung (Uji Sukma Medianti)

“Kalau cek ke Gaikindo angka penjualan mobil stagnan. Padahal (konsumen dimanjakan) dengan mobil yang jauh lebih banyak pilihannya,” tutur dia di kantornya, 88 Office, Jakarta, Selasa (15/5).

Lantas, Ignatius mengatakan bahwa golongan kaum berpenghasilan Rp 10 juta terjebak dalam tagihan kartu kredit dengan bunga rendah yang jumlahnya pun cukup “sangar”. Perilaku konsumtif inilah yang membuat mereka tidak mampu mencicil rumah.

“Konsumen terjebak ke dalam tagihan minimal kartu kredit, mau gesek dikit-dikit. Bahayanya kartu kredit karena membuat mereka berpikir kalau beli barang ada pleasure atau kesenangan. Sakitnya belakangan dan bisa dicicil pula,” tuturnya.

Berdasarkan hipotesis Rumah123.com, dari 1.922 responden yang disurvei, sebesar 19,34 persen kelompok berpenghasilan di atas Rp 10 juta tidak mampu membayar DP karena terlalu banyak memiliki utang seperti kartu kredit, kredit tanpa agunan dan lain-lain. Sementara alasan lainnya adalah tidak mampu membayar sebesar 43,62 persen dan sebesar 23,46 persen mengaku tak mampu membayar DP lantaran penghasilannya tidak mencukupi untuk bayar cicilan bulanan.

“[DP] lebih banyak dipengaruhi oleh prioritas pembelian dan gaya hidup,” ujarnya.

Akan tetapi, milenial juga tetap dibayang-bayangi dengan sangarnya kartu kredit berbunga cicilan murah. Di antaranya adalah gaya hidup milenial yang kerap hang out di kedai kopi, menonton konser, nge-gym, atau makan di restoran. Semua kegiatan tersebut bisa dilakukan hanya dengan menggesek kartu kredit.

“Bunganya memang murah di depan dan bikin happy, tetapi kalau tidak dapat dikendalikan bisa bikin dompet ‘sakit’ juga,” tuturnya.

(ce1/uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi