alexametrics

Konstruksi Bangunan Gunakan Baja Ringan, Perhatikan Hal Berikut

9 November 2019, 14:34:17 WIB

JawaPos.com – Insiden ambruknya atap SDN Gentong, Kota Pasuruan, Jawa Timur menjadi sorotan publik. Apalagi kejadian nahas tersebut menelan korban jiwa.

Peristiwa itu sangat menjadi catatan dari sejumlah pihak. Pasalnya, gedung sekolah itu tergolong baru. Bahkan atapnya yang menggunakan rangka baja ringan terlihat masih baru.

Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) angkat bicara. Tapi bukan untuk kasus SDN Gentong. Melainkan saran untuk penggunaan material baja ringan untuk konstruksi bangunan.

Ketua Umum ARFI Stephanus Koeswandi mengatakan bahwa ada sejumlah hal penting yang diperhatikan dalam konstruksi. Terutama yang berkaitan dengan baja ringan. Yakninya produk yang berkualitas, desain, dan cara pemasangan yang tepat.

“Sebenarnya ini (atap roboh, red) sudah kejadian yang kesekian kalinya. Memang kita mesti lihat lebih lanjut penyebabnya apa,” kata Stephanus Koeswandi kepada JawaPos.com, Sabtu (9/11).

Menurut dia, cara pemasangan baja ringan sangat berpengaruh terhada ketahanan. Begitu juga kualitas. Saat ini baja ringan sangat membanjiri Tanah Air. Kualitasnya sangat beragam. “Salah-salah pilih, risikonya bahaya,” ujar Koeswandi.

Sebagaimana diketahui dunia pendidikan tengah berkabung. Atap empat ruang kelas UPT SDN Gentong, Kota Pasuruan, Selasa (5/11) mendadak runtuh. Insiden itu menimpa puluhan siswa.

Empat ruang kelas yang atapnya ambruk tersebut adalah kelas II-B, II-A, V-B, dan V-A. Keempatnya berada di satu lokal. Terletak di bagian depan sekolah, berjejer dari selatan ke utara. Posisi lokal ruangan menghadap ke barat atau Jalan Raya KH Sepuh.

Korban tewas adalah Sevina Arsy Wijaya, 19, pegawai tidak tetap (PTT) di sekolah tersebut. Warga Jalan Slamet Riyadi, Kota Pasuruan, itu mengalami pendarahan otak setelah kepalanya tertimpa batu bata yang berjatuhan bersamaan dengan ambrolnya atap kelas. Korban lain bernama Irza Almira, 8, warga Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo. Gadis kecil itu meninggal setelah tertimpa galvalum dan asbes. Dia mengalami pendarahan di belakang kepala dan memar di wajah.

Menurut penelusuran Jawa Pos Radar Bromo, peristiwa memilukan itu terjadi pada pukul 08.15. Saat itu para siswa mengikuti kegiatan seperti biasa. Mereka masuk kelas pukul 07.00. Siswa kelas II-B dan II-A mendapat pelajaran matematika. Siswa kelas V-A dan V-B mengikuti pelajaran olahraga di halaman sekolah. Ada tiga siswa kelas V-A yang tidak ikut olahraga. Mereka tetap berada di kelas dengan didampingi Sevina Arsy Wijaya, PTT yang merupakan pegawai perpustakaan sekolah.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads