alexametrics

Meski Melambat, Pasar Properti Australia Diperkirakan Tetap Cerah

5 Maret 2019, 06:30:39 WIB

JawaPos.com – Pengamat Properti Australia, Michael  Yardney, yang dikenal sebagai Australia’s Leading Property Investment mengaku yakin pasar properti Australia akan tetap tumbuh. Keyakinan ini didasari karena adanya kebijakan ‘relaksasi’ yang dilakukan Australian Prudential Regulation Authority (APRA) terkait bunga pinjaman.

Sejak 2016, APRA melakukan pengetatan pemberian pinjaman kepada pembeli properti, dimana mereka harus membayar utang pokok dan bunganya sekaligus. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan pasar properti Australia.

Namun, pada Desember 2018, APRA mencabut kebijakan tersebut, sehingga pembeli properti di Australia boleh membayar bunganya saja atau interest only. 

“Tren saat ini sangat dipengaruhi oleh pengetatan pemberian pinjaman oleh Australian Prudential Regulation Authority (APRA). Baru-baru ini, APRA telah mencabut pembatasan pinjaman dengan pembayaran hanya bunganya saja dan gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) mendorong agar sektor perbankan bisa mengucurkan pinjaman lebih banyak lagi,” ujar Michael.

Michael menegaskan arus migrasi orang-orang kaya menjadi salah satu faktor tumbuhnya pasar properti Australia. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Australia sangat stabil selama 28 tahun terakhir di angka tiga persen.

“Kondisi ekonomi yang semakin kuat dan  pasokan yang kembali ke titik normal, akan menambah daya serap untuk suplai unit hunian baru yang tersedia di pasar saat ini,” tegasnya.

Senada dengan Michael, Senior Property Consultant Crown Group Indonesia Reiza Arief menjelaskan kondisi properti di Australia sangat bagus. Meskipun, lanjutnya, pasar properti Australia sedang mengalami koreksi pada tahun ini.

“Kemungkinan, tahun depan pasar properti Australia akan kembali normal,” kata Reiza di Jakarta, Selasa (5/3).

Dia menambahkan investasi properti di Australia sangat menguntungkan. Imbal hasil dari investasi properti di Australia lebih tinggi dari deposito perbankan.

“Bunga deposito di Australia sendiri hanya sebesar 1,5 persen sesuai keputusan RBA pada Februari 2019 dan inflasi setiap tahunnya 1,8 persen. Sedangkan, imbal hasil properti berada di kisaran enam persen pada 2018. Artinya, investasi properti di Australia lebih menguntungkan,” jelasnya.

Menurut Reiza, daya beli di Australia masih sangat kuat, ditambah dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan yang cukup cerah. Tingkat pengangguran berada pada tingkat terendah dalam sejarah atau sebesar lima persen.

“Kita bisa  melihat kenaikan pendapatan yang cukup signifikan untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang dimiliki Australia secara konsisten selama hampir tiga dekade,” kata Reiza.

Sementara itu, Ekonom Domain.com.au, Trent Wiltshire menyatakan pada 2019 akan menjadi tahun yang lebih stabil untuk properti Australia. Menurutnya, perlambatan harga dalam pasar properti Australia akan terjadi hingga pertengahan 2019, sebelum akhirnya akan bergerak menuju fase pertumbuhan moderat.

Editor : Saugi Riyandi



Close Ads
Meski Melambat, Pasar Properti Australia Diperkirakan Tetap Cerah