alexametrics
Kaleidoskop 2020

Pasar Saham Teruji Tangguh di Tengah Badai Covid-19

31 Desember 2020, 22:40:06 WIB

JawaPos.com – Tahun 2020 jadi tahun yang sangat berat bagi seluruh aspek kehidupan. Pandemi Covid-19 menimbulkan berbagai kecemasan dan ketidakpastian bagi perekonomian global, termasuk pasar modal Tanah Air. Roda ekonomi yang lamban akibat adanya kebijakan pembatasan membuat perusahaan sulit mendapat pemasukan. Hingga para investor pun diliputi kegalauan.

Pandemi Covid-19 sempat membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari awal tahun menyentuh level tertinggi di level 6.325. Namun ketika memasuki Maret, IHGS terjun bebas hingga di bawah level 4.000. Merosotnya IHSG terjadi saat dua Warga Negara Indonesia (WNI) positif terkena Covid-19 pada 2 Maret.

Pada saat itu, investor panik hingga penarikan dana terus terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pihak BEI pun terpaksa mengambil kebijakan batas auto reject bawah (ARB) maksimal 7 persen. BEI juga melarang pelaku pasar melakukan aksi jual kosong atau short selling.

Short selling adalah aksi menjual saham tanpa memiliki saham perusahaan tersebut terlebih dahulu. BEI berharap saat harga saham sedang turun, dengan tidak adanya aksi short selling, pasar dapat lebih stabil. Di awal penetapan aturan itu, IHSG beberapa kali terkena trading halt hingga mencapai puncaknya saat anjlok ke level 3.937 pada 24 Maret 2020.

baca juga: Awal Pekan IHSG Anjlok 5 Persen, Trading Halt Kembali Dilakukan

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga bergerak cepat dalam memberikan pelonggaran terkait mengizinkan semua emiten melakukan pembelian kembali (buyback) saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS sebagai stimulus dan untuk meminimalkan dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Selain itu, hal pelaporan dan perizinan, regulator juga memberikan kemudahan bagi pelaku pasar modal dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi seperti penggunaan tanda tangan elektronik pada proses perizinan dan penyampaian laporan secara elektronik.

Di samping itu, pemerintah juga mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus fiskal untuk penanganan pandemi dan menjaga fundamental ekonomi. Bank Indonesia juga melonggarkan likuiditas melalui kebijakan moneter akomodatifnya, membantu pasar modal kembali berangsur pulih.

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9/2020). IHSG kembali bangkit setelah empat hari berturut-turut berada di zona merah dengan ditutup menguat 103,03 poin atau 2,13 persen ke posisi 4.945,79. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

IHSG perlahan kembali rebound dengan cepat pada akhir Maret 2020. Pada 3 April, IHSG kembali ke level 4.623. Namun, investor kembali cemas setelah pelaku pasar khawatir dengan rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan angka penularan Covid-19.

Untungnya, keresahan tersebut tak berlangsung lama. IHSG terus merangkak naik pada akhir Mei 2020 atau sepekan setelah Lebaran di 4.753. Pasar saham terus bergairah hingga sempat menyentuh ke level 5.000.

Pada Agustus, IHSG terus bertahan di level tersebut meski data pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 negatif 5,32 persen yang memberi sinyal bahwa Indonesia ikut jatuh ke jurang resesi. Sebab, para investor telah memperkirakan sebelumnya sehingga tak berpengaruh besar pada IHSG.

Selama Agustus hingga September, indeks komposit terus bergerak fluktuatif. Pada Oktober, IHSG makin menanjak karena banyak sentimen positif yang menopang, mulai dari efek PSBB transisi, disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja, dan perbaikan pada data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020.

Sentimen global pun ikut mewarnai pasar modal Tanah Air dengan terpilihnya Joe Biden yang mengalahkan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat (AS). Sebab, hal itu membuka peluang harapan pada perdagangan internasional.

Pada November, kemenangan Joe Biden dan angin segar dari pengembangan vaksin Covid-19 membuat IHSG terus melaju hingga level 5.700. Pada awal Desember, IHSG menyentuh level 6.000. Bahkan, indeks sempat menyentuh level 6.100 meski akhirnya pada penutupan perdagangan sebelum Natal, IHSG parkir di level 6.008.

IHSG akhir tahun pun ditutup di zona merah dengan turun 0,95 persen ke level 5.979,07. Adapun nilai transaksi perdagangan mencapai Rp 14,02 triliun, dengan volume perdagangan 22,89 miliar saham, dan frekuensi perdagangan 1,16 juta kali transaksi.

baca juga: Tutup Perdagangan Akhir Tahun, IHSG Terkoreksi

Pada penutupan perdagangan tahun ini, sebanyak 118 saham naik, 383 saham turun, dan 121 saham stagnan. Tapi setelah berlalu 5 menit, 365 saham turun, 143 saham naik, dan 118 saham tak bergerak.

Selama pandemi Covid-19, secara tahunan IHSG terkoreksi 5,13 persen, meskipun pada 6 bulan terakhir melesat 19,8 persen. Asing hari ini justru masuk di pasar reguler Rp 480 miliar, meski ada net sell di pasar nego dan tunai Rp 473 miliar.

Bencana kesehatan Covid-19 telah menciptakan ketidakpastian pada sektor ekonomi, tak terkecuali pasar saham. Namun ternyata jumlah investor pasar modal malah meningkat 56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi (kiri-kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida, Anggota Dewan Komisioner OJK ex-officio dari Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, dan Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Fahri Hilmi saat Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2019 di Jakarta, Senin (30/12).FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengungkapkan, sepanjang tahun ini, jumlah investor di pasar modal Indonesia mencapai 3,87 juta Single Investor Identification (SID). Investor tersebut terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksa dana.

“Jumlah investor terus bertambah bertumbuh menjadi 3,87 juta investor atau meningkat 56 persen sepanjang 2020,” ucapnya dalam acara seremonial penutupan perdagangan saham tahunan, Rabu (30/12).

Angka kenaikan investor pasar modal tersebut 4 kali lipat lebih tinggi sejak 4 tahun terakhir dari 894 ribu investor pada 2016. Selain itu, investor saham juga naik sebesar 53 persen menjadi 1,68 juta SID.

Sementara itu, umlah investor aktif harian, hingga 29 Desember 2020 terdapat 94 ribu investor atau naik 73 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Peningkatan jumlah investor serta aktivitas transaksi investor harian tentu merupakan hasil upaya OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dalam mengedepankan sosialisasi dan edukasi terkait investasi di pasar modal kepada masyarakat.

Bahkan terdapat peningkatan aktivitas transaksi dari kalangan investor tersebut yakni melonjak 4 kali lipat dalam 11 bulan terakhir. “Ini adalah tahunnya investor ritel di pasar modal Indonesia dan semoga menjadi fondasi yang besar dalam pertumbuhan pasar modal ke depan,” imbuhnya.

Seiring dengan meningkatnya partisipasi investor pasar modal ritel domestik, rekor transaksi perdagangan baru berhasil dicapai pada 2020, yaitu frekuensi transaksi harian saham tertinggi pada 22 Desember 2020 sebanyak 1.697.537 transaksi.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads