alexametrics

Mau Diakuisisi Bank bjb, Saham Bank Banten Masih ‘Tertidur’

25 April 2020, 03:30:38 WIB

JawaPos.com – Saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) ternyata masih ‘tertidur’ di level Rp 50 per lembar saham atau disebut saham gocap sejak 2,5 tahun yang lalu. BEKS adalah bank yang akan digabung dengan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank bjb).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada akhir Mei 2017 lalu saham BEKS tidak bisa beranjak dan stagnan di level Rp 50 per saham. Padahal, sejak resmi beroperasi menggunakan nama Bank Banten, saham BEKS masih sempat berada di level Rp 90 per saham. Nama Bank Banten digunakan usai diakuisisinya Bank Pundi Indonesia oleh Pemerintah Provinsi Banten melalui PT Banten Global Development pada 29 Juli 2016 lalu.

Saham BEKS bahkan sempat menyentuh Rp 109 per saham pada 12 Agustus 2016. Kendati demikian, sebulan setelahnya saham BEKS lalu anjlok dan masuk ke klub gocap.

Namun kemudian, harga saham perlahan naik hingga ke level Rp 79 per saham pada November 2016. Lalu, saham BEKS turun perlahan hingga kembali jatuh ke level Rp 50 per saham pada pertengahan tahun 2017 hingga kini.

Pada penawaran umum perdana saham atau IPO pada 2001 lalu, saham BEKS sendiri ditawarkan sebesar Rp 140 per saham. Saat itu, saham BEKS yang dilepas ke publik sebanyak 277,5 juta lembar saham dan perseroan meraup dana IPO sebanyak Rp 38,85 miliar.

Sebanyak 51 persen saham BEKS saat ini dimiliki oleh PT Banten Global Development selaku pemegang saham pengendali. Sedangkan 49 persen merupakan saham milik publik.

Dilansir dari Antara, pada Kamis (23/4) lalu telah dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Gubernur Banten Wahidin Halim selaku pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) BEKS dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil selaku PSPT Bank bjb terkait dengan rencana penggabungan usaha BEKS ke dalam Bank bjb.

Dalam LoI tersebut dinyatakan bahwa BEKS dan Bank bjb akan melaksanakan kerja sama bisnis. Bank bjb akan mendukung kebutuhan likuiditas BEKS, antara lain dengan menempatkan dana line money market dan/atau pembelian aset secara bertahap sesuai dengan persyaratan tertentu.

Selama proses penggabungan usaha tersebut, baik BEKS maupun Bank bjb akan tetap beroperasi secara normal untuk melayani kebutuhan nasabah dan layanan keuangan masyarakat. Direktur Utama BEKS Fahmi Bagus Mahesa dalam keterbukaan informasi di BEI mengatakan, setelah terealisasikannya penggabungan usaha BEKS ke dalam Bank bjb, maka akan mengakibatkan beralihnya aset, liabilitas, dan ekuitas BEKS sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

“Informasi terkait target waktu pelaksanaan aksi korporasi akan kami sampaikan apabila proses penggabungan usaha telah berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku,” ujar Fahmi.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Antara



Close Ads