alexametrics

BI Gelar RDG Pertama Usai Pemilu Damai, Kemana Arah Suku Bunga Acuan?

24 April 2019, 12:45:40 WIB

JawaPos.com – Bank Indonesia (BI) kembali melakukan Rapat Dewan Gubernur hari ini, Rabu (24/4) hingga Kamis (25/4) untuk menentukan arah kebijakan moneter ke depan dengan menetapkan kebijakan suku bunga acuan terbarunya (BI 7-Day Repo Rate).

Suksesnya penyelenggaran pemilu serentak yang berlangsung 17 April 2019 diprediksi akan mendorong investor melirik kembali  Indonesia sebagai tempat berlabuh untuk pengembangan investasinya.

Sebelumnya, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang melibatkan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan dan Kementerian Keuangan menyimpulkan stabilitas sistem keuangan kuartal I 2019 terjaga dengan baik.

BI Gelar RDG Pertama Usai Pemilu Damai, Kemana Arah Suku Bunga Acuan?
Ilustrasi aktivitas di Gedung Bursa Efek Indonesia, tempat perusahaan penyelenggaran perdagangan saham di Indonesia berkantor (Dok.JawaPos.com)

Kesimpulan ini berdasarkan hasil pemantauan lembaga anggota KSSK terhadap perkembangan perekonomian, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan dan penjaminan simpanan. Pelaksanaan pesta demokrasi yang berlangsung aman dan damai turut meningkatkan kepercayaan publik terhadap perekonomian Indonesia.

Kemana arah kebijakan BI ke depan? Pengamat Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dan cadangan devisa terpantau stabil selama kuartal pertama, sehingga tidak ada yang dikhawatirkan pelaku pasar.

“Saya perkirakan masih tetap, tidak ada perubahan bunga acuan. Rupiah terpantau stabil dan cadangan devisa juga diperkirakan naik selama kuartal I. Tidak ada kekhawatiran di market,” ujar Bhima kepada Jawapos.com, Rabu (24/4).

Bhima mengingatkan BI sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan dalam menentukan tingkat suku bunga sebelum melihat kondisi global, terutama bank sentral AS, The Fed.

“BI lebih baik menahan bunga acuan dulu. Jangan terburu-buru menurunkan tingkat bunga acuan. Lihat kondisi global. Setelah The Fed turunkan bunga, BI bisa ikut,” tuturnya.

Bila tingkat bunga diturunkan, Ia khawatir justru akan memberikan sentimen negatif bagi pelaku pasar modal, meskipun positif bagi perbankan dan sektor rill.
“Terlalu cepat turunkan bunga bisa buat capital outflow meski positif bagi bank dan sektor riil,” tandasnya.

Sebagaiman diketahui, BI telah menahan suku bunga acuan di level 6 persen sejak lima bulan lalu. Terakhir, otoritas moneter menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,75 menjadi 6 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 15 November 2018.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Romys Binekasri



Close Ads